Konflik di Timur Tengah dan Dampaknya pada Pasokan Minyak Global
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 berdampak besar bagi stabilitas regional. Pasca serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenai dan sejumlah pejabat teras militer, Iran langsung merespons dengan mengirimkan serangan balasan ke Tel Aviv dan sejumlah basis militer AS di negara-negara Arab, termasuk di Dubai, Bahrain, dan Saudi Arabia.
Konflik ini terus berlangsung dan PBB serta negara-negara di dunia berupaya mencari solusi damai melalui perundingan. Namun, situasi masih sangat memprihatinkan.
Sebelum konflik kali ini meletus, Timur Tengah telah menjadi area konflik yang berlarut-larut. Pada 2025 lalu, Israel dan Iran sempat terlibat dalam serangan sporadis yang dipicu oleh serangan Israel ke fasilitas nuklir, basis militer, dan pusat komando militer Iran pada 13 Juni.
Jalur Pasokan Minyak Global yang Rentan
Konflik regional Timur Tengah yang terus berlangsung memberikan dampak yang luas, salah satunya adalah gangguan terhadap jalur pasokan minyak global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk pengangkutan minyak, menjadi sasaran utama.
Selat Hormuz merupakan celah sempit yang menghubungkan teluk Persia dan Teluk Oman dengan laut Arab. Bentangannya mencapai lebar 33 km, dengan jalur pelayaran efektif hanya seluas 3 km. Secara normatif, selat ini termasuk sebagai selat internasional, sehingga memiliki hak kebebasan navigasi. Namun, secara praktik, Iran dan Oman adalah dua negara yang paling banyak berperan, dengan Iran memegang kendali dominan atas alur navigasi selat Hormuz.
Negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak sangat bergantung dengan selat Hormuz. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar menjadi yang paling berkepentingan. Setiap hari, sebanyak 20-21 juta barel minyak melewati Hormuz, yang setara dengan 20 persen dari perdagangan minyak global. Setiap gangguan yang terjadi di Hormuz akan otomatis menjadi ancaman bagi kestabilan minyak global, dan ditandai dengan kelangkaan pasokan dan peningkatan harga secara drastis di pasar dunia.
Dampak Konflik pada Indonesia
Sejak serangan AS-Israel terjadi tiga hari lalu, Iran telah mengirimkan peringatan melalui radio VHF bahwa akses kapal di Selat Hormuz akan ditutup. Hingga 3 Maret, tidak terdapat kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz, dan kondisi ini dapat terus bertahan hingga beberapa waktu kedepan.
Indonesia, yang tergantung pada impor minyak, menghadapi risiko serius akibat gangguan ini. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia pada 2 Maret menyatakan bahwa pasokan minyak dalam negeri, apabila impor dihentikan, hanya akan mampu bertahan selama 20 hari. Hal ini disebabkan karena ketergantungan Indonesia pada impor minyak masih sangat tinggi.
Swasembada Energi dengan EBT
Pemerintahan Prabowo – Gibran sejak masa pencalonan presiden sepanjang 2024 lalu telah menjanjikan program swasembada energi sebagai bagian tidak terpisahkan dari Asta Cita, 8 visi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Swasembada energi dikonkretisasi dengan penetapan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) pada 2025 yang menetapkan target ambisius untuk transisi energi.
Dalam KEN, pemerintah menargetkan penurunan penggunaan batu bara dan minyak secara bertahap dengan pendekatan phase-down. Sebagai pengganti, penggunaan gas alam dan sumber energi EBT akan ditingkatkan. Pada 2025-2030, EBT ditargetkan mencapai 19-23 persen, meningkat menjadi 36-40 persen pada 2040, menjadi 53-55 persen pada 2050, dan 70-72 persen pada 2060.
Nuklir untuk Swasembada Energi
Berbeda dengan minyak bumi, Indonesia tidak harus mengandalkan impor bahan bakar nuklir untuk pembangkitan listrik di tanah air. Menurut data BRIN pada 2020, Indonesia memiliki potensi cadangan uranium mencapai 81,090 ton dan thorium mencapai 140,411 ton. Jumlah ini terdiri atas potensi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Uranium dan thorium merupakan dua jenis bahan bakar nuklir utama yang menjadi dasar pengembangan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir di dunia. Teknologi PLTN yang telah beroperasi secara komersial umumnya menggunakan uranium sebagai bahan bakar utamanya.
Belajar dari Selat Hormuz
Gangguan jalur minyak bumi akibat konflik di Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bagi Indonesia, bahwa kemandirian energi adalah syarat mutlak untuk dapat bertahan dari kondisi dan dinamika global yang terus bergejolak. Saat ini, jalur-jalur strategis perdagangan global telah menjadi area konflik banyak negara. Stabilitas energi sebagai kebutuhan dasar yang tidak dapat digantikan harus dibangun dengan mengandalkan pasokan dalam negeri.
Produksi batu bara yang menurun dan belum siapnya industri ekstraksi gas alam untuk mensuplai energi sebagai pasokan dominan mengharuskan Indonesia mempersiapkan sumber energi alternatif yang tidak hanya handal, namun juga bersih dan tersedia bahan bakunya di tanah air. Nuklir adalah pilihan untuk membantu melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor energi di masa depan.