Hujan Rudal Iran Berlanjut, Israel Siapkan Pelindung Tingkat Atas

Nurlela Rasyid
5 Min Read

Perubahan Strategi Militer Israel dalam Menghadapi Serangan Rudal Iran

Tekanan dari serangan udara Iran yang terus-menerus membuat militer Israel mulai mengubah strategi pertahanan mereka. Salah satu langkah yang diambil adalah membatasi penggunaan rudal pencegat kelas atas, yang selama ini menjadi tulang punggung sistem pertahanan udara negara tersebut.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dalam empat pekan terakhir, intensitas serangan rudal dari Iran semakin meningkat, memaksa Israel untuk berpikir lebih hemat dalam menggunakan sistem interseptor paling canggih yang dimiliki. Situasi makin memprihatinkan setelah dua rudal balistik Iran berhasil melewati sistem pertahanan dan menghantam Kota Dimona serta Arad. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman di lapangan tidak lagi bisa dianggap ringan.

Upaya pencegatan sebenarnya sudah dilakukan, namun Israel dilaporkan menggunakan amunisi modifikasi dengan kemampuan di bawah standar interseptor utama. Hasilnya, tidak cukup efektif untuk menghentikan laju rudal yang masuk. Kondisi ini menunjukkan bahwa stok senjata canggih tidak tak terbatas.

Analis senior dari Missile Defense Advocacy Alliance, Tal Inbar, menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah interseptor menjadi faktor utama di balik langkah penjatahan ini. “Jumlah interseptor dari setiap jenis itu terbatas. Seiring berjalannya pertempuran, jumlahnya akan terus berkurang. Dan saat stok menipis, Anda harus membuat perhitungan yang lebih cermat mengenai apa yang harus digunakan,” ujar Inbar.

Modifikasi Sistem Pertahanan

Selama ini, Israel mengandalkan sistem berlapis untuk menangkal ancaman udara. Di lapisan terbawah terdapat Iron Dome untuk roket jarak pendek, diikuti oleh David’s Sling untuk roket jarak jauh dan rudal taktis, serta sistem Arrow 2 dan Arrow 3 di lapisan teratas untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer.

Demi menghemat stok rudal Arrow yang mahal dan terbatas, militer Israel mencoba melakukan pemutakhiran perangkat lunak pada sistem yang lebih rendah agar mampu menangani ancaman yang lebih berat. Mantan Komandan Pasukan Pertahanan Udara Israel, Brigadir Jenderal (Purn) Ran Kochav, menjelaskan bahwa ada upaya “memaksa” sistem kelas menengah untuk bekerja di level yang lebih tinggi. “Kami mencoba menariknya (David’s Sling) ke lapisan atas dan menjauhkan titik intersepsi dari daratan sejauh mungkin. Di beberapa area ini bekerja dengan baik, namun di area lain tidak,” ungkap Kochav.

Dia juga menambahkan bahwa Iron Dome, yang semula hanya untuk jarak pendek, kini telah dimodifikasi. “Hari ini, sistem tersebut mampu mencegat roket pada jarak ratusan kilometer serta drone,” jelasnya.

Dilema di Tengah Hujan Rudal

Hingga saat ini, Iran tercatat telah meluncurkan lebih dari 400 rudal dan ratusan drone ke arah Israel. Tekanan semakin meningkat karena kelompok Hizbullah juga meluncurkan puluhan proyektil setiap harinya. Kondisi ini memaksa pejabat militer Israel berada dalam posisi sulit. Mereka harus memilih apakah akan membiarkan rudal jatuh di area kosong atau menembaknya jatuh dengan risiko menguras stok yang sulit diproduksi kembali dalam waktu singkat.

Dampak dari kebijakan penghematan pencegat ini mulai dirasakan warga sipil. Di Dimona, yang merupakan lokasi fasilitas nuklir utama Israel, warga merasa cemas setelah serangan berhasil lolos. “Ini belum berakhir. Kami terus diingatkan setiap beberapa jam melalui peringatan di ponsel, sirene baru, dan ledakan,” kata Ahmadiel Ben Yehuda (69), seorang warga yang tinggal di dekat lokasi ledakan di Dimona.

Krisis Stok Dunia

Masalah ketersediaan interseptor ini ternyata tidak hanya dialami Israel. Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain juga dilaporkan tengah meminta pasokan interseptor dari Amerika Serikat. Direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tom Karako, memperingatkan bahwa pola peperangan saat ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Produksi senjata bertahun-tahun habis hanya dalam hitungan minggu.

“Kita menghabiskan produksi bertahun-tahun hanya dalam beberapa minggu terakhir. Bahkan jika kita memaksimalkan produksi secara total, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengganti apa yang baru saja digunakan,” tegas Karako. Dia menambahkan bahwa kelangkaan sumber daya nasional ini akan berdampak pada wilayah konflik lain, seperti Ukraina, karena stok global yang kian menipis. “Ini bukan sesuatu yang bisa terus kita lakukan,” papar Karako.


Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *