Kabar Duka Iran: Komandan IRGC Tewas Akibat Serangan Israel di Teheran

Amanda Almeirah
5 Min Read

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dan Serangan di Teheran

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sebagai respons terhadap kematian ini, Israel mengklaim telah membunuh Daoud Ali Zadeh, komandan Pasukan Quds Iran di Lebanon, dalam serangan di Teheran.

Menurut laporan militer Israel, serangan tersebut dilakukan pada hari Selasa malam, dengan target Daoud Ali Zadeh, yang bertindak sebagai pengganti sementara Hassan Mahdavi, mantan komandan Korps Lebanon, yang sebelumnya tewas dalam serangan IDF. Divisi yang dipimpin Zadeh berperan penting dalam mendukung Hizbullah, milisi yang didukung Iran di Lebanon, serta menjadi jembatan antara IRGC dan Hizbullah.

Hizbullah merespons serangan ini dengan menembakkan rudal dan drone ke situs militer Israel. Selain itu, banyak pejabat Iran, termasuk Menteri Pertahanan Amir Hatami dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mohammed Pakpour, juga turut tewas dalam serangan AS-Israel sebelumnya.

Serangan Balasan Iran

Teheran tidak tinggal diam dan meluncurkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah situs militer AS di Timur Tengah. Akibatnya, beberapa negara Arab seperti Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Siprus ikut diserang karena menjadi rumah pangkalan militer AS.

Juru bicara tentara Israel, Avichay Adraee, menyatakan bahwa angkatan udara Israel melakukan serangan di wilayah Teheran, menewaskan Daoud Ali Zadeh. Ia menjelaskan bahwa Zadeh adalah komandan Iran berpangkat tertinggi yang bertanggung jawab atas aktivitas Iran di Lebanon. Korps Lebanon, yang dipimpinnya, berfungsi sebagai penghubung antara Hizbullah dan kepemimpinan Iran, serta mendukung pembangunan militer kelompok tersebut.

Adraee menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan pasukan Iran ditempatkan di wilayah Lebanon dengan cara yang dapat merusak rekonstruksi Lebanon atau memperkuat Hizbullah. Ia menambahkan bahwa Israel akan terus bertindak melawan upaya untuk membangun kembali dan mempersenjatai Hizbullah, serta akan dengan tegas melawan setiap ancaman terhadap warga Israel.

Sirene Berbunyi di Bahrain

Di Bahrain, sirene berbunyi pada Selasa malam, menyebabkan warga dan penduduk untuk mencari perlindungan di tempat aman terdekat. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan pernyataan melalui media sosial, menyatakan bahwa sirene telah dibunyikan dan warga diminta tetap tenang.

Serangan Udara Israel di Beirut

Serangan udara Israel terbaru mengguncang Beirut, menargetkan beberapa lokasi di pinggiran selatan kota, termasuk kompleks perumahan di Hay Maadi dan Bourj el-Barajneh, serta kota Tyre. Belum ada korban jiwa yang dikonfirmasi hingga saat ini.

Tentara Israel menyatakan bahwa mereka telah melancarkan serangan terhadap posisi Hizbullah di seluruh Lebanon, dan memperingatkan bahwa keselarasan kelompok tersebut dengan Iran akan membawa konsekuensi atas serangannya terhadap Israel. Dalam serangan ini, Hussein Makled, kepala markas intelijen Hizbullah, juga tewas.

Ledakan memaksa warga untuk mengungsi dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan, menyebabkan kemacetan di jalan-jalan di tengah asap dan puing-puing. Otoritas kesehatan Lebanon melaporkan setidaknya 15 warga sipil terluka, sementara tim darurat berupaya mengendalikan kebakaran dan menilai kerusakan struktural.

Respons Hizbullah

Hizbullah merespons dengan menantang, berjanji akan mengintensifkan serangan roket terhadap target Israel dan menyebut serangan tersebut sebagai “agresi Zionis” sebagai bentuk solidaritas dengan Iran. Kelompok itu mengaku bertanggung jawab atas serangan sebelumnya di Haifa dan memberi sinyal kesiapan untuk konflik berkelanjutan.

Pemerintah Lebanon mengutuk serangan udara tersebut sebagai “pelanggaran kedaulatan yang terang-terangan,” menyerukan gencatan senjata segera melalui PBB dan mendesak intervensi internasional untuk melindungi warga sipil.

Evakuasi WNI dari Teheran

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) menyiapkan evakuasi terhadap 15 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Teheran, Iran. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan bahwa proses pemulangan tidak bisa dilakukan secara instan karena kondisi keamanan dan logistik di lapangan.

Perjalanan darat menuju Baku (Azerbaijan) menjadi salah satu opsi karena keterbatasan penerbangan langsung akibat situasi keamanan. Proses tersebut membutuhkan perhitungan matang, termasuk kondisi kesehatan para WNI serta kesiapan logistik.

Sugiono menegaskan bahwa pemerintah hanya akan mengevakuasi WNI yang memang mengajukan permintaan. Ia menyebut tidak semua WNI di kawasan terdampak ingin dipulangkan. Di negara-negara kawasan Teluk seperti Qatar, UEA, dan Bahrain, hingga saat ini belum ada WNI yang menyatakan ingin dievakuasi meskipun jumlah WNI di beberapa negara tersebut cukup besar.

Di tengah situasi yang masih berkembang, pemerintah terus berkoordinasi dengan perwakilan RI di kawasan serta menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk yang juga terdampak.


Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *