Penanganan Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus Diserahkan ke Puspom TNI
Polda Metro Jaya mengungkap alasan penyerahan penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, kepada Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI. Hal ini dilakukan karena kewenangan penanganan perkara kini berada di institusi militer. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa berkas perkara dan barang bukti telah diserahkan dalam bentuk digital.
“Kami menegaskan kembali bahwa berkas perkara sudah dilimpahkan. Dan saat ini kewenangan penyidik kepolisian Polda Metro Jaya sudah sampai di situ,” kata Budi di Mapolda Metro Jaya, Rabu (1/4/2026).
Barang bukti yang diserahkan mencakup rekaman kamera pengawas (CCTV) di sepanjang jalur yang dilalui pelaku. Meski demikian, kepolisian membuka kemungkinan untuk kembali menangani kasus ini jika ditemukan keterlibatan masyarakat sipil.
“Iya, pasti. Tapi bukan dibuka, kalau kepolisian kan menangani. Maka kami sampaikan tadi ada kewenangan kepolisian,” tutur Budi.
Pelaku Diantaranya 4 Prajurit BAIS
Kasus ini memasuki babak baru setelah empat prajurit Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI diamankan terkait dugaan keterlibatan. Mereka adalah Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Perkembangan tersebut juga diikuti dengan pengunduran diri Kepala BAIS TNI Yudi Abrimantyo sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Profil Andrie Yunus
Andrie Yunus merupakan alumnus Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera. Ia menempuh pendidikan di sana dari tahun 2016-2020. Judul skripsi yang ditulis oleh Andrie berjudul Peran Paralegal dalam Mewujudkan Persamaan di Hadapan Hukum: Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 292/PID.SUS/2018/PN.PST.
Berdasarkan informasi di akun LinkedIn-nya, sebelum bergabung dengan KontraS, Andrie telah memiliki sejumlah pengalaman lain. Di antaranya Legal Intern di LBH APIK Jakarta dan Legal Intern di LBH Jakarta. Selanjutnya, Andrie bekerja di LBH Jakarta sebagai advokasi hukum publik dari tahun 2020-2022. Setelah itu, dirinya pindah ke KontraS. Saat ini, Andrie Yunus menjabat sebagai Wakil Koordinator KontraS.
Kronologi Kejadian
Dari informasi awal yang diterima, Andrie Yunus tengah mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat. Lalu, dua orang pelaku menghampiri dalam posisi melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua, yakni diduga merupakan motor matic Honda Beat tahun 2016 sampai dengan 2021.
“Pelaku merupakan 2 orang laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang,” ucapnya.
Dimas menyebut, ciri-ciri terduga pelaku yang pertama, yaitu mengenakan kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam. Kemudian, pelaku kedua yang merupakan penumpang belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai ‘buf’ berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.
“Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya barang milik korban yang hilang atau dirampas baik saat kejadian maupun setelah peristiwa berlangsung.
“Atas informasi yang kami himpun tersebut, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM,” ucapnya.