- Kementerian Perindustrian Mendorong Persiapan Industri untuk Program Gentengisasi
- Empat Pilar Program Gentengisasi
- Kesiapan Industri Genteng
- Pasar dan Produksi yang Stabil
- Permintaan Dukungan dari Pemerintah
- Masalah Pasokan Bahan Baku
- Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Bahan Baku
- Inovasi dan Alternatif Bahan Baku
Kementerian Perindustrian Mendorong Persiapan Industri untuk Program Gentengisasi
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak industri dalam negeri untuk bersiap menghadapi program gentengisasi yang diusung oleh pemerintah. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), yang mewadahi industri genteng, menyatakan kesiapannya menyambut program tersebut.
Program ini diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 pada Senin (2/2/2026). Dalam acara tersebut, Presiden meminta agar atap seng diganti dengan genteng. Program gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Empat Pilar Program Gentengisasi
Program gentengisasi mengusung empat pilar utama, yaitu estetika, identitas, kenyamanan, dan ekonomi. Melalui pilar ekonomi, pemerintah berharap program ini dapat mendorong pertumbuhan industri genteng lokal, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pelaku industri perlu mempersiapkan diri untuk menyambut program tersebut. Menurutnya, program ini memberikan peluang besar bagi industri genteng lokal untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi.
“Genteng memiliki beberapa keunggulan, seperti lebih sejuk, tahan lama, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik. Saya kira pemerintah sudah mencanangkan gentengisasi, dan ini menjadi peluang besar untuk industri bersiap,” ujar Menperin setelah melantik Dewan Pengurus Asaki Periode 2026 – 2029 pada Selasa (3/2/2026).
Kesiapan Industri Genteng
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyatakan bahwa industri genteng menyambut baik program gentengisasi. Saat ini, ada tiga perusahaan produsen genteng yang menjadi anggota Asaki. Kapasitas produksi mencapai 85 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi produksi lebih dari 90%.
Edy belum merinci profil dan kapasitas produksi masing-masing produsen, tetapi menjelaskan bahwa dua pabrik berada di Jawa Barat, sedangkan satu pabrik berada di Jawa Timur.
“Tentu ini kabar yang menggembirakan, memberikan optimisme baru untuk sub sektor genteng. Kami siap mendukung, dan melakukan ekspansi untuk menyambut pasar baru,” kata Edy.
Pasar dan Produksi yang Stabil
Edy menegaskan bahwa industri genteng berbahan tanah liat (clay) dan genteng seng berjalan beriringan karena memiliki pasar masing-masing. “Nyatanya utilisasi produksi industri genteng masih bisa di atas 90%, jadi sesungguhnya punya pasar tersendiri,” imbuh Edy.
Dengan adanya program gentengisasi, Edy optimistis akan memacu ekspansi industri genteng maupun peningkatan kapasitas dari pabrik eksisting. Ia memperkirakan, ekspansi di industri genteng membutuhkan waktu sekitar 9 bulan hingga 12 bulan.
“Saya yakin land bank pasti ada, tinggal memperluas. Begitu program gentengisasi sudah memperoleh kepastian, tentu teman-teman industri sudah bisa mengantisipasi, menjemput bola peluang ini,” tambah Edy.
Permintaan Dukungan dari Pemerintah
Selain kepastian terkait pelaksanaan program gentengisasi, Asaki meminta dukungan dari pemerintah dalam dua hal: kepastian pasokan gas industri dengan harga kompetitif dan kepastian sumber bahan baku, terutama tanah liat.
“Jadi itu tantangannya. Secara pasar, teknologi, secara sumber daya manusia, permodalan, kami yakin siap untuk melakukan ekspansi,” tegas Edy.
Masalah Pasokan Bahan Baku
Asaki mengeluhkan gangguan pasokan clay sebagai bahan baku di industri keramik secara umum. Kondisi ini terjadi sejak kuartal IV-2025 lalu karena adanya pencabutan dan moratorium izin pertambangan di Jawa Barat (Jabar). Padahal, Jawa Barat merupakan pemasok utama bahan baku bagi industri keramik dengan porsi mencapai 50% hingga 60%.
“Kami mengharapkan ada solusi segera dari Pemerintahan Daerah Jawa Barat, sehingga proses produksi tidak terhambat,” ujar Edy.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Masalah Bahan Baku
Menperin mengaku sudah menghubungi Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM). Ia meminta Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) untuk segera berkomunikasi dengan Pemerintah Daerah Jabar mencari solusi.
“Saya memberikan arahan kepada IKFT untuk segera melakukan pendekatan kepada Pemda Jabar. Pelajari apa masalahnya, pasti mereka ada alasannya, tapi pasti juga ada jalan keluar agar industri keramik tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan baku,” tegas Menperin.
Inovasi dan Alternatif Bahan Baku
Terkait bahan baku untuk produksi genteng, Asaki membuka peluang untuk melakukan inovasi dan mencari bahan alternatif. Termasuk dengan menjajaki kemungkinan menggunakan abu halus sisa pembakaran batubara atau fly ash. Namun, Edy menegaskan bahwa hal ini masih memerlukan riset dan pengembangan (R&D) terlebih dulu.
“Selama ini kami masih menggunakan bahan baku material clay. Kami belum mencoba (meriset penggunaan fly ash), tapi itu terbuka peluang, sehingga kami membutuhkan contoh untuk melakukan R&D. Selama uji coba tes-riset itu bisa dimanfaatkan, tentu kami akan memanfaatkannya juga,” tandas Edy.