Kisah Petugas Penyelamat Hewan di Tengah Serangan Israel ke Beirut

Hendra Susanto
4 Min Read



Beirut, Lebanon – Selama beberapa pekan terakhir, ibu kota Lebanon, Beirut, menjadi sasaran serangan udara Israel. Di tengah puing-puing bangunan yang hancur akibat roket Israel, Kamal, Khalil, dan Reem berjalan di jalanan pinggir selatan Beirut. Mereka mengambil risiko nyawa untuk mencari dan menyelamatkan hewan peliharaan warga yang hilang akibat konflik.

Kamal, Khalil, dan Reem adalah anggota organisasi nirlaba bernama Animals Lebanon. Warga Beirut yang terpisah dari hewan peliharaannya akibat serangan udara Israel sering kali menghubungi Animals Lebanon untuk meminta bantuan. Dengan harapan tinggi, tim Animals Lebanon berusaha menemukan hewan-hewan yang hilang.

Selama seminggu terakhir, ketiga orang ini sedang mencari seekor kucing milik seorang warga yang melompat dari jendela lantai dasar sebuah bangunan yang hancur akibat serangan roket Israel. Dengan menggunakan sepeda motor, mereka menyisir jalanan yang menjadi fokus serangan udara Israel.

“Kami tidak pernah kehilangan harapan bahwa kucing yang tidak bisa kami temukan masih ada di sekitar sini, karena ia akan kembali. Ini adalah tempat perlindungannya,” kata Khalil Hamieh (45 tahun), sukarelawan Animals Lebanon, dikutip dari laman Al Arabiya, Ahad (29/3/2026).

Khalil Hamieh menyadari bahwa tugasnya untuk menyelamatkan hewan peliharaan di area yang menjadi fokus serangan Israel sangat berisiko. Ia mengatakan, bahaya keselamatan diri bukan hanya datang dari serangan roket Israel, tetapi juga dari hewan yang ingin diselamatkan.

“Kami takut berkelahi dengan kucing atau anjing saat mencoba menyelamatkannya. Karena mereka tidak mengerti apa yang kami lakukan,” ujar Hamieh yang punggung tangannya sudah dipenuhi bekas cakaran hewan.

Di Haret Hreik, yang berlokasi di pinggiran selatan Beirut, tempat kelompok Hizbullah menjalankan otoritas de facto, rekan Khalil Hamieh, Issam Attar, menghentikan mobil jipnya yang akan membawa kucing-kucing peliharaan yang telah dievakuasi ke rumah sakit. Attar menilai, hewan-hewan tersebut tidak layak terkena dampak kebrutalan perang.

“Ini adalah makhluk hidup. Hewan tidak bersalah atas perang atau hal lainnya,” ujar Attar.

Attar ingin membantu warga yang ingin menyelamatkan hewan peliharaannya. “Selain fakta bahwa kami merasa iba terhadap hewan, ada juga pemilik yang tidak dapat mengambil hewan peliharaan mereka – kami bisa, dan kami ingin membantu mereka,” ucapnya.

Beirut tidak memiliki sistem sirene yang memberi peringatan kepada warga jika akan ada serangan udara Israel. Bentuk peringatan biasanya hanya sebatas letusan tembakan yang dilepaskan ke udara.

Manajer Operasi Animals Lebanon, Reem Sadek, mengungkapkan, tembakan dan dentuman ledakan merupakan sesuatu yang menakutkan, baik bagi manusia maupun hewan peliharaan seperti kucing. Dia mengatakan, banyak warga yang terpisah dari hewan peliharaannya ketika mereka bergegas mengungsi ke tempat aman.

“Mungkin kami satu-satunya orang yang memiliki pengalaman untuk menemukan… dan menangkap mereka,” kata Reem Sadek.

Sejak awal perang hingga kini, Animals Lebanon telah menyelamatkan 241 hewan dari wilayah Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Sejumlah kucing tidak dapat segera dikembalikan kepada pemiliknya.

Hal itu karena warga terkait tidak memiliki tempat untuk menampung mereka. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tidur di jalanan atau berdesak-desakan di tempat penampungan. Kucing-kucing yang belum dapat dipulangkan ditampung sementara di kantor Animals Lebanon.

Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026 lalu. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu hingga kini, Israel masih membombardir Lebanon, termasuk wilayah Beirut.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *