- Komitmen Serius dalam Menyediakan Makanan Berkualitas dan Membuka Lapangan Kerja
- Persiapan yang Matang
- Kesiapan untuk Melayani Jumlah yang Lebih Besar
- Pemantauan dan Kebersihan yang Ketat
- Pengelolaan Area Dapur yang Terbatas
- Teknologi dan Pelatihan untuk Produksi Massal
- Keterlibatan Warga Lokal
- Program yang Memberdayakan Masyarakat
- Harapan dan Komitmen yang Tinggi
Komitmen Serius dalam Menyediakan Makanan Berkualitas dan Membuka Lapangan Kerja
Komitmen serius Ketua Yayasan Tangan Berbagi Kasih, Fera Andriana, dalam menjaga kualitas makanan dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga terlihat jelas saat SPPG Kota Surabaya Gubeng Mojo 3 diresmikan. Peresmian tersebut dilakukan pada hari Jumat (5/12/2025) di JI. Mojoklanggru Kidul No. 66.
Fera menyampaikan bahwa hari ini adalah momen penting dalam proses peresmian. “Hari ini kita memang ada melaksanakan peresmian, karena insya Allah nanti kita tinggal menunggu dana saja dari BGN,” ujarnya dalam agenda pembukaan.
Ia memastikan bahwa ketika pendanaan masuk, dapur akan langsung bergerak tanpa jeda karena seluruh persiapan sudah matang. “Begitu dana sudah ada di rekening kami, di kartu akun kami, kami insya Allah nanti bisa langsung jalan,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Persiapan yang Matang
Fera menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan trial beberapa kali sebelum pembukaan agar tim siap menjalankan produksi dalam jumlah besar. “Trial itu memang kita lakukan karena sebelum kita nanti itu kerja, jadi kita sudah siap,” tegasnya.
Melalui trial tersebut, seluruh alur kerja diuji mulai dari standar kebersihan, kecepatan produksi, hingga pembagian tugas tiap divisi. “Begitu kita dana cair, kita sudah siap kerja,” ujar Fera menjelaskan alasan persiapan mereka sangat detail.
Pada tahap awal, dapur ini akan melayani sekitar 1.300 penerima manfaat dari jenjang PAUD, TK, dan SD. “Untuk saat ini penerimanya kurang lebih 1.300 untuk di awal ini,” jelasnya.
Namun jumlah itu bisa bertambah sesuai kebijakan pemerintah karena kapasitas dapur dibuat untuk menerima volume besar. “Kalau kita dikasih 2.500 kita bisa, terus misalkan kita ditambahin dipercaya sampai 3.000 kita juga mampu pesan,” ujarnya penuh keyakinan.
Kesiapan untuk Melayani Jumlah yang Lebih Besar
Fera bahkan menyebut dapurnya siap mengelola porsi jauh lebih besar bila dipercaya pemerintah. “Dengan kapasitas dapur saya yang ini lumayan besar, kita dikasih 5.000 pun kita siap,” ungkapnya.
Saat ini sudah ada delapan sekolah yang terikat MOU dengan SPPG Gubeng Mojo 3. “Ini kurang lebih yang sudah ber-MOU sama kita itu 8 sekolah,” kata Fera.
Sekolah-sekolah tersebut berada di satu kecamatan dan akan menjadi penerima tetap program MBG. “Jadi kebetulan di Gubeng ini itu sudah ada 2 dapur sebelumnya, jadi kita itu dapur ketiga,” jelas Fera mengenai posisi dapurnya dalam ekosistem layanan gizi wilayah tersebut.
Pemantauan dan Kebersihan yang Ketat
Untuk mengamankan kualitas makanan, dapur ini memiliki tim gizi yang bekerja khusus mengatur menu dan komposisi nutrisi. “Tugasnya tim gizi ya dia ini mulai dari menentukan menu, terus gramatur, gramatur gizi-gizinya,” ujarnya.
Tim gizi juga yang menentukan takaran lauk, sayur, dan buah agar seimbang dan memenuhi kebutuhan anak. “Kayak misalkan lauknya, buahnya begitu,” tambahnya saat menjelaskan peran tim gizi.
Kebersihan menjadi prioritas utama dalam dapur untuk menjaga keamanan makanan. “Antisipasi kami itu yang nomor satu adalah dapur harus bersih gitu,” tegas Fera.
Ia memastikan seluruh pekerja maupun relawan menjaga kebersihan diri sebelum memasuki area dapur steril. “Dari mulai masuk itu kita harus ganti sandal gitu, terus harus pakai masker, harus pakai hairnet,” jelasnya.
Selain itu, protokol cuci tangan wajib dilakukan sebelum memasuki dapur. “Terus cuci tangan semuanya sampai bersih baru boleh masuk ke dapurnya,” ujar Fera menegaskan pentingnya disiplin kebersihan.
Pengelolaan Area Dapur yang Terbatas
Fera menjelaskan hanya tim tertentu yang boleh masuk area inti dapur agar standar higienis terjaga ketat. “Yang boleh masuk di area dapur itu hanya safe aja, safe dan timnya,” ujarnya menekankan pembatasan akses.
Demikian pula dengan area pemorsian yang hanya boleh dimasuki personel yang bertugas langsung. “Terus di area pemorsian begitu juga, hanya tim pemorsian,” tambahnya.
Teknologi dan Pelatihan untuk Produksi Massal
Untuk kemampuan teknis memasak dalam jumlah besar, Fera memastikan seluruh chef telah bersertifikat. “Kalau chef di sini, kebetulan memang kita sudah bersertifikat gitu,” ungkapnya.
Dengan tenaga profesional itu, Fera kembali menegaskan tidak khawatir bila diberi kuota besar oleh pemerintah. “Mau dikasih porsi 2.500 kita siap, dikasih porsi 3.000 kita siap,” katanya.
Ia bahkan menegaskan kapasitas dapurnya cukup luas sehingga tidak akan kewalahan bila volume meningkat drastis. “Menurut saya mau dikasih porsi berapa aja kita siap,” tegas Fera penuh optimisme.
Keterlibatan Warga Lokal
Salah satu hal yang membuat SPPG ini berbeda adalah 100 persen tenaga kerjanya berasal dari Kelurahan Mojo. “Hampir 100 persen semuanya dari Kelurahan Mojo,” jelas Fera.
Menurutnya, sejak awal pihak yayasan berkoordinasi dengan RT dan RW untuk mengajak warga bergabung sebagai relawan dan pekerja. “Bapak bisa bantu kami untuk menarik warga untuk kerjasama kami,” ujarnya menirukan ajakan awal yang ia sampaikan.
Respons warga sangat positif sehingga seluruh posisi dapat langsung diisi oleh warga sekitar. “Bahkan chef-nya, relawannya semua dari Mojo,” tambah Fera.
Program yang Memberdayakan Masyarakat
Fera bersyukur warga antusias karena kehadiran dapur MBG membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. “Alhamdulillah kita semua dari warga Mojo. Terserap semuanya dari Kelurahan Mojo ini,” tutur Fera.
SPPG ini kemudian menjadi bukan hanya dapur penyedia makanan, tetapi juga ruang pemberdayaan masyarakat. Fera melihat nilai tambah program ini semakin besar karena manfaatnya dirasakan langsung oleh warga sekitar.
Semua pekerja kemudian mendapat pelatihan standar kebersihan, SOP dapur, hingga ritme kerja produksi massal. Pelatihan itu membuat mereka memiliki standar kerja yang sama dan mampu menjalankan tugas secara profesional.
Menurut Fera, SDM lokal sangat mampu selama diberikan arahan dan kesempatan berkembang. Ia melihat tingkat tanggung jawab yang tinggi karena pekerja merasa bagian dari dapur tersebut.
Program MBG bagi Fera bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga membangun ekosistem sosial yang lebih sehat. Ia ingin dapurnya menjadi model kolaborasi masyarakat dalam mendukung program pemerintah.
Harapan dan Komitmen yang Tinggi
Fera berharap SPPG Gubeng Mojo 3 dapat menjadi dapur teladan di Surabaya dengan standar operasional yang konsisten. Ia ingin setiap porsi yang keluar dari dapurnya menjadi perwujudan kualitas dan kepedulian.
Dengan kesiapan yang matang, Fera merasa optimistis menghadapi berbagai tantangan produksi harian. Semangat itu ia tekankan sebagai modal utama seluruh tim. “Insya Allah kita bisa,” tuturnya singkat namun penuh keyakinan. Kalimat itu menjadi gambaran komitmen besar yang ia bawa sejak awal.
SPPG ini bukan hanya fasilitas, tetapi simbol upaya membangun generasi sehat melalui makanan bergizi. Fera ingin dapurnya menjadi titik perubahan lingkungan sekitar, baik dari sisi gizi maupun ekonomi.
Pada akhirnya, keberadaan SPPG Gubeng Mojo 3 menjadi bukti kerja serius dan kolaborasi mampu menghasilkan dampak besar. Fera memastikan mereka siap bekerja, siap melayani, dan siap menjaga kualitas untuk ribuan anak Surabaya.