Lonjakan Minat pada Emas Akibat Konflik Geopolitik
Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah memicu peningkatan minat terhadap emas sebagai aset aman. Investor mulai beralih dari saham ke logam mulia, yang dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap ketidakpastian pasar global. Dampak dari konflik ini dinilai dapat mendorong harga emas terus naik, terutama jika situasi geopolitik semakin memburuk.
Peran Konflik dalam Pergerakan Harga Emas
Ketegangan geopolitik yang melibatkan negara-negara besar seperti Israel, AS, dan Iran meningkatkan ketidakpastian ekonomi. Hal ini membuat investor mencari instrumen investasi yang lebih stabil. Menurut akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, situasi geopolitik global memengaruhi keputusan investasi. Ia menilai bahwa eskalasi konflik bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
Dampak Konflik pada Pasar Keuangan
Harif menjelaskan bahwa jika konflik meluas, maka jalur distribusi global berpotensi mengalami gangguan. Terlebih jika kawasan strategis seperti Selat Hormuz terkena dampak, hal ini bisa memicu lonjakan biaya logistik dan keterlambatan pengiriman barang. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kenaikan harga komoditas impor, terutama barang-barang yang peredarannya bersifat global seperti minyak.
Pengaruh pada Ekonomi Nasional
Selain itu, penundaan distribusi secara global akan berpengaruh pada ketersediaan barang. Jika suplai menurun sementara permintaan tetap, harga dipastikan naik dan berdampak hingga ke tingkat lokal. Namun, menurut Harif, dampaknya tidak akan terlalu besar pada komoditi-komoditi lokal. Yang terpengaruh tentu komoditi yang peredarannya secara global.
Ia mengingatkan bahwa apabila konflik berlangsung dalam waktu lama, dampaknya bisa semakin luas dan merembet ke berbagai sektor domestik. Padahal, kondisi ekonomi nasional saat ini masih dalam fase pemulihan dan mengejar target pertumbuhan.
Dampak pada Pasar Modal dan Rupiah
Tidak hanya sektor riil, pasar keuangan juga dinilai rentan terdampak. Harif memprediksi bursa saham berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen negatif global. Jika indeks saham turun, investor berisiko mengalami kerugian karena nilai portofolio yang dipegang menyusut. Kondisi tersebut mencerminkan perlambatan ekonomi.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga dinilai sensitif terhadap gejolak geopolitik. Ketidakpastian global kerap mendorong investor menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset yang lebih aman. Pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada barang impor yang dibayar menggunakan dolar Amerika Serikat, termasuk produk teknologi yang selama ini banyak digunakan di dalam negeri.
Beralih ke Logam Mulia sebagai Investasi Aman
Kondisi ketidakpastian global biasanya mendorong investor mengalihkan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti logam mulia. Dengan nilai investasi atau saham yang turun, investor bisa saja beralih ke komoditi yang lebih berpotensi lebih baik, seperti logam mulia. Saat ini kita lihat logam mulia menjadi investasi yang aman dan menjanjikan, terbukti tingkat keuntungannya terus naik dalam satu tahun terakhir.
Harif memperkirakan harga emas dan logam mulia lainnya berpotensi terus meningkat seiring meningkatnya permintaan sebagai safe haven asset. Bisa saja harga logam mulia seperti emas akan terus naik, sehingga orientasi masyarakat beralih ke investasi tersebut.
Meski demikian, Harif berharap konflik tidak berkepanjangan agar dampak terhadap perekonomian global maupun nasional dapat diminimalisasi.