Perang antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan memberikan sentimen negatif jangka pendek di pasar global, termasuk pada sektor saham kendaraan listrik. Perusahaan seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) menjadi perhatian investor dalam situasi ini.
Ketegangan geopolitik dapat mengganggu pasokan minyak, khususnya akibat penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi industri kendaraan listrik sebagai alternatif energi non fosil. Ditambah lagi, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga memperkuat proyeksi tersebut. Namun, apakah saham perusahaan kendaraan listrik benar-benar berpeluang naik karena konflik AS-Iran?
Menurut David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, perusahaan kendaraan listrik tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dalam jangka panjang. Ia menilai bahwa dampak dari konflik saat ini lebih bersifat sentimen jangka pendek.
Dia menjelaskan bahwa eskalasi geopolitik hanya menekan saham secara sementara. Meskipun demikian, jika fundamental perusahaan baik dan tren kendaraan listrik global kuat, potensi rebound tetap ada setelah sentimen negatif mereda.
“Saham ASII, VKTR, dan IMAS masih memiliki peluang, tetapi harus siap dengan volatilitas jangka pendek,” ujar David.
Pada perdagangan hari ini, harga saham ASII melonjak 3,67% ke level 6.375 pada perdagangan intraday pukul 14.33 WIB. Sementara itu, saham VKTR naik tipis 0,70% ke level 715, sedangkan saham IMAS justru turun 1,44% ke level 1.025.
Herditya Wicaksana, Head of Research MNC Sekuritas, memberikan target harga untuk masing-masing emiten. Target harga ASII di tengah eskalasi konflik geopolitik ditetapkan pada level 6.575–6.800. Untuk IMAS, target harga masih dalam proses pengamatan, sedangkan VKTR diproyeksikan akan bergerak ke level 785–900.
Melihat Kinerja Fundamental ASII, VKTR, dan IMAS
VKTR
VKTR adalah emiten Grup Bakrie yang fokus pada pengembangan elektrifikasi transportasi berbasis energi hijau. Dalam laporan keuangan terbarunya, VKTR membukukan rugi bersih sebesar Rp 11,36 miliar. Posisi ini berbeda dari laba yang dicatatkan perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 7,56 miliar. Meski mencatatkan rugi, VKTR berhasil meningkatkan pendapatan, meskipun dengan pertumbuhan yang sangat tipis. Pendapatan VKTR naik menjadi Rp 1,08 triliun dari Rp 1 triliun secara tahunan.
Beban pokok pendapatan perseroan naik menjadi Rp 892,62 miliar dari Rp 825,51 miliar secara year on year (yoy). Pos beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp 177 miliar dari Rp 157,58 miliar. Selain itu, beban keuangan perseroan naik sebesar Rp 17,08 miliar dari Rp 10,63 miliar secara yoy.
ASII
Sebagai raksasa otomotif Grup Astra, ASII membukukan laba bersih sebesar Rp 32,76 triliun sepanjang tahun lalu. Torehan ini menyusut 3,36% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 33,9 triliun. Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, mengatakan penurunan laba disebabkan oleh melemahnya harga batu bara dan lesunya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien berkat kontribusi dari bisnis-bisnis lainnya.
Astra memperkirakan sentimen konsumen akan membaik, meskipun kondisi operasional di sejumlah lini usaha masih menantang. Perseroan menegaskan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan disiplin dalam alokasi modal, dengan memanfaatkan neraca yang kuat untuk menciptakan nilai berkelanjutan.
Dalam laporan keuangan hingga periode 31 Desember 2025, pendapatan bersih ASII turun 1,54% menjadi Rp 323,39 triliun dari Rp 328,48 triliun secara tahunan atau year on year (yoy).
IMAS
Sementara itu, IMAS belum melaporkan kinerja keuangan tahun 2026. Hal ini membuat analisis lebih sulit dilakukan, terlepas dari potensi yang dimiliki perusahaan dalam sektor kendaraan listrik.