Mengapa Ancaman Trump Blokade Selat Hormuz Berisiko dan Tidak Efektif?

Kaila Azzahra
7 Min Read

Langkah-langkah yang Diambil oleh AS Setelah Gagalnya Perundingan dengan Iran

Setelah tim diplomatik yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance berusaha mencapai kesepakatan melalui perundingan untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Sabtu (11/04), Presiden Donald Trump harus menentukan langkah selanjutnya. Keputusan tersebut diumumkan pada Minggu (12/04) pagi melalui serangkaian unggahan di Truth Social.

Trump menyatakan bahwa AS akan memberlakukan blokade laut terhadap Iran. “Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas,” katanya. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu. Militer AS, menurutnya, berada dalam posisi “siap tempur” dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada “waktu yang tepat”.

Meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan selama 20 jam di Islamabad, Iran tidak bersedia memenuhi tuntutan AS untuk menghentikan ambisi nuklirnya. Pernyataan ini dibantah oleh seorang pejabat AS yang memahami jalannya negosiasi yang dipimpin Vance. Pejabat tersebut mengungkapkan daftar perbedaan yang jauh lebih panjang, termasuk soal kendali Iran atas Selat Hormuz serta dukungannya terhadap kelompok proksi di kawasan, seperti kelompok pemberontak Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.

Tantangan dan Risiko dari Blokade Laut

Pernyataan-pernyataan Trump tetap menghadirkan sejumlah tantangan baru—sekaligus risiko—bagi pihak AS. Pertanyaan-pertanyaan muncul mengenai apakah kegiatan pembersihan ranjau akan menempatkan kapal-kapal Angkatan Laut AS pada risiko yang lebih besar terhadap serangan Iran. Bagaimana AS akan menentukan siapa saja yang membayar pungutan kepada Iran? Apakah AS akan menggunakan kekuatan terhadap kapal berbendera asing yang mengabaikan blokade? Bagaimana negara-negara yang bergantung pada minyak Iran, seperti China, akan merespons? Dan apakah langkah ini—yang dimaksudkan untuk mencekik sumber pendapatan utama Iran—justru akan mendorong harga minyak naik ke tingkat yang lebih tinggi?

Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada Minggu sore, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (US Central Command) mengumumkan bahwa blokade laut itu akan menghentikan seluruh kapal yang bepergian menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran—seperangkat ketentuan yang berbeda dari rencana aksi yang sebelumnya disampaikan Trump.

Pandangan Politisi dan Ahli

Senator Mark Warner dari Virginia, politikus Partai Demokrat di Komite Intelijen Senat, mengatakan bahwa ia tidak memahami bagaimana memblokade selat itu akan mendorong Iran untuk membukanya kembali. Dalam program Face the Nation di CBS, anggota Kongres dari Partai Republik, Mike Turner dari Ohio—yang hingga tahun lalu menjabat sebagai ketua Komite Intelijen DPR—mengatakan bahwa blokade tersebut merupakan cara untuk memaksakan penyelesaian atas situasi di Selat Hormuz.

“Presiden, dengan mengatakan bahwa kami tidak akan begitu saja membiarkan mereka menentukan siapa yang boleh melintas, jelas sedang memanggil seluruh sekutu dan semua pihak untuk duduk di meja perundingan,” ujarnya. “Masalah ini perlu ditangani.”

Kondisi Politik dan Ekonomi

Pekan lalu, sebelum Iran dan AS menyepakati gencatan senjata selama dua pekan serta perundingan langsung tatap muka, Donald Trump berada dalam posisi yang sulit. Dia dapat terus meningkatkan serangan AS terhadap Iran, yang berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang pada infrastruktur sipil negara tersebut, memperburuk krisis kemanusiaan, serta semakin mengguncang stabilitas ekonomi global. Atau, dia bisa mundur dari perang yang sejak awal tidak populer di kalangan publik negara itu dan kini mulai menimbulkan frustrasi bahkan di antara sebagian pendukung Trump sendiri—mereka yang selama ini mempercayai janji Trump untuk menghindari konflik luar negeri berkepanjangan dan keterlibatan mendalam di Timur Tengah.

Sebuah jajak pendapat terbaru CBS menunjukkan bahwa mayoritas warga AS (59%) menilai perang ini berjalan agak buruk atau sangat buruk bagi AS. Banyak pihak meyakini bahwa tujuan utama AS—seperti menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, menjamin kebebasan yang lebih besar bagi rakyat Iran, serta mengakhiri secara permanen program nuklir Iran—masih belum tercapai. Mayoritas dari kedua partai di AS menilai pencapaian tujuan-tujuan tersebut sebagai hal yang penting.

Pemilihan Paruh Waktu dan Reaksi Publik

Hampir sepekan berlalu dan, meskipun AS mengklaim kemenangan, dilema yang dihadapi presiden pada dasarnya tidak berubah. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu pagi, Trump mengatakan Iran pada akhirnya akan memberikan kepada AS “segala sesuatu” yang diinginkannya. Dia menambahkan bahwa meskipun harga minyak mungkin akan tetap sama atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan, dia meyakini perekonomian AS akan mampu bertahan.

Pernyataan itu, setidaknya, merupakan sebuah pertaruhan besar. Dengan pemilihan paruh waktu (midterm) pada November yang semakin dekat, Partai Republik pimpinan Presiden Trump berpotensi menanggung kerugian besar di kotak suara jika perhitungannya keliru.

Perjalanan ke Miami dan Konteks Konflik

Pada Sabtu malam, saat wakil presidennya tengah berunding dengan para pejabat Iran di Pakistan, Trump justru melakukan perjalanan ke Miami, tempat dia menyaksikan para petarung profesional saling mengalahkan dalam pertandingan kandang UFC (ultimate fighting championship). Menurut anggota rombongan pers yang hadir, pemandangan tersebut tergolong aneh dan janggal.

Presiden AS terlihat menyaksikan laga adu fisik yang brutal di arena yang berlumuran darah, berbincang dengan para selebritas, dan sesekali terlibat diskusi intens dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta para penasihat lainnya—semuanya berlangsung di hadapan ribuan penonton.

Pertarungan ultimate fighting di dalam arena, meskipun brutal, memiliki aturan yang jelas dan batas waktu, serta selalu berakhir dengan pemenang dan pihak yang kalah. Kejelasan semacam itu mungkin tidak akan pernah hadir dalam perang Iran, yang kini memasuki bulan kedua dan gencatan senjata dua pekan tampak berada di ambang kehancuran.

Konflik ini telah berubah menjadi adu keteguhan—antara kemampuan Iran untuk bertahan menghadapi serangan berkelanjutan AS dan Israel, dan sejauh mana Presiden Trump bersedia menanggung beban ekonomi serta tekanan politik yang dihasilkan perang tersebut. Pada akhirnya, semua pihak yang terlibat dalam pertarungan ini, bisa saja keluar dalam keadaan dirugikan.

Share This Article
Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *