Negosiasi Iran-AS di Islamabad Terancam Gagal Akibat Serangan Israel ke Lebanon

Hartono Hamid
4 Min Read

Gencatan Senjata Iran-AS-Israel Terancam Runtuh

Gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang baru berjalan sejak 7 April 2026 dilaporkan dalam kondisi rapuh. Kesepakatan ini bertujuan untuk menghentikan sementara pertempuran dan membuka ruang negosiasi. Namun, tanda-tanda ketidakstabilan muncul setelah media Iran, Fars, melaporkan bahwa delegasi Teheran tidak berencana hadir dalam perundingan di Islamabad, Pakistan.

Ketidakhadiran Iran dikaitkan dengan sikap Israel yang belum menunjukkan keinginan untuk mematuhi kesepakatan awal, terutama syarat penghentian serangan terhadap Lebanon, khususnya gerakan Hizbullah. Serangan Israel masih berlangsung pada 8 April 2026, sehari setelah gencatan senjata diumumkan.

Persiapan Perundingan di Islamabad

Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, telah menyiapkan ruang negosiasi di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026). Namun, kabar ketidakbersediaan Iran datang ke Pakistan ini muncul ketika laporan media internasional mengklaim Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Bager Ghalibaf telah melakukan perjalanan ke Pakistan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Jumat (10 April 2026) dilaporkan sudah berangkat ke Pakistan untuk mengikuti pembicaraan yang sangat dinantikan antara Teheran dan Washington. Tujuan dari diskusi tersebut adalah untuk menegosiasikan perdamaian abadi di Asia Barat.

Kondisi Tidak Pasti dalam Perundingan

Perundingan Islamabad diadakan dalam lingkungan yang sangat tidak pasti, di mana kedua belah pihak semakin saling mencurigai. Aspek-aspek kunci dari gencatan senjata masih diperdebatkan, termasuk penghentian pengeboman Israel di Lebanon. Beberapa laporan media menunjukkan bahwa Teheran telah mengancam akan menarik diri dari negosiasi jika serangan Pasukan Pertahanan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.

Kebingungan ini muncul dari interpretasi yang saling bertentangan mengenai syarat-syarat gencatan senjata. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif secara terbuka mengunggah di X bahwa penghentian pertempuran di Lebanon adalah bagian dari kesepakatan tersebut, sebuah unggahan yang, menurut laporan media, dibagikan kepada Kantor Perdana Menteri di Islamabad oleh Washington sendiri. Namun, baik Israel maupun Gedung Putih kemudian membantah hal tersebut.

Kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz

Teheran, di pihak lain, telah memperjelas bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz yang vital selama serangan Israel masih berlanjut. Delegasi AS akan dipimpin oleh Vance dan juga akan menyertakan Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump, menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

Saat berbicara kepada wartawan sebelum keberangkatan, Vance menyampaikan nada optimistis namun hati-hati. Dia mengatakan bahwa Washington terbuka untuk keterlibatan konstruktif jika Iran mendekati pembicaraan dengan itikad baik. “Kami menantikan negosiasi tersebut. Saya pikir itu akan positif. Seperti yang dikatakan Presiden Amerika Serikat, jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan,” katanya.

Namun, ia memperingatkan kalau Washington tidak akan menerima jika Iran mencoba bermain-main di meja perundingan. “Jika mereka mencoba mempermainkan kita, maka mereka akan mendapati bahwa tim perundingan tidak akan menerima hal itu,” tambah Vance.

Putaran Pertama Pembicaraan

Putaran pertama pembicaraan dijadwalkan pada Sabtu pagi, waktu setempat. Dengan situasi yang semakin memburuk, para pihak harus segera menemukan solusi yang dapat mempertahankan gencatan senjata dan menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *