Pemanggilan beruang di Dharmasraya, BKSDA gunakan meriam karbit dan mercon

Eka Syaputra
5 Min Read

Situasi Kekacauan Akibat Kemunculan Beruang di Jorong Pandaleh

Ketakutan dan kecemasan menyelimuti warga di Jorong Pandaleh, Nagari Sialang Gaung, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Sejak beberapa hari terakhir, kemunculan beruang liar di area perkebunan sawit dan ladang semangka memicu rasa takut di kalangan para petani. Mereka yang biasa beraktivitas di lahan pertanian kini merasa khawatir akan keselamatan diri dan tanaman mereka.

Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Barat segera merespons situasi ini. Pada Selasa (17/2/2026), tim BKSDA melalui Seksi Konservasi Wilayah 3 perwakilan Sijunjung langsung bertindak dengan melakukan patroli pemantauan dan mitigasi di lokasi kejadian.

Wali Nagari Sialang Gaung, Ariyes Gunawan, mengonfirmasi bahwa warganya saat ini dalam kondisi waspada. Ia menjelaskan bahwa pihak pemerintah nagari langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat. Ariyes menyampaikan rasa syukur atas respons cepat dari BKSDA yang tiba di lokasi untuk melakukan pengamanan.

Pihak pemerintah nagari dan masyarakat setempat menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran petugas di lapangan. Meskipun demikian, imbauan tetap diberikan agar warga tidak lengah dan tetap waspada saat beraktivitas di kebun.

Peran Tim BKSDA dalam Mengusir Beruang

Berdasarkan laporan dan ciri-ciri yang ada, satwa liar tersebut diduga kuat merupakan jenis beruang madu yang keluar dari habitatnya. Dalam operasi patroli ini, tim BKSDA bersama warga masuk ke dalam hutan dan area perkebunan sawit untuk menyisir keberadaan satwa tersebut.

Untuk mengusir beruang agar kembali ke hutan rimba, petugas menggunakan metode suara kejutan. “Kami melepaskan bunyi-bunyian dari meriam karbit dan mercon besar. Tujuannya untuk mengusir beruang dari areal perkebunan agar kembali masuk ke dalam hutan,” jelas Jumanto, Korlap Tim BKSDA Seksi Konservasi Wilayah 3 Sijunjung.

Hingga patroli berakhir, petugas melaporkan bahwa beruang tersebut tidak lagi terlihat berkeliaran di dekat pemukiman atau kebun warga. Namun, Jumanto tetap memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati saat beraktivitas. Ia menegaskan bahwa jika ada penampakan lagi, segera lapor ke pemerintah Nagari atau ke BKSDA.

Pengalaman Petani Saat Bertemu Beruang

Peristiwa ini mulai menarik perhatian publik setelah salah seorang petani setempat, Adwillian Hika, berpapasan langsung dengan satwa liar tersebut pada Minggu (15/2/2026). Saat itu, Adwillian sedang bersiap untuk mengakhiri aktivitas rutinnya di kebun sawit dan semangka miliknya.

Menurut penuturan Adwillian, kemunculan beruang tersebut terjadi begitu tiba-tiba di saat hari mulai beranjak sore. Ia melihat sosok hitam besar di balik rimbunnya pohon sawit, hanya berjarak sekitar 25 meter dari posisinya berdiri. Insting bertahan hidup membuatnya segera mencari tempat perlindungan.

Ia bergegas menaiki pondok tinggi yang ada di kebunnya guna memantau pergerakan hewan tersebut sembari memastikan dirinya berada di posisi yang relatif aman dari jangkauan sang beruang. Sambil menahan napas dan mengamati situasi, Adwillian sempat mengabadikan momen langka sekaligus mengerikan tersebut menggunakan kamera ponselnya.

Dokumentasi visual ini kemudian menjadi bukti kuat bagi warga dan pihak berwenang mengenai keberadaan predator tersebut di lahan warga.

Ketakutan dan Kerugian Ekonomi

Kehadiran beruang ini diakui sangat mengganggu produktivitas para petani. Apalagi, Adwillian tengah menunggu masa panen buah semangka dalam waktu dekat, yang kini terancam rusak akibat potensi gangguan dari hewan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa ketakutan akan serangan fisik menjadi beban pikiran utama.

“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Dharmasraya segera mengambil langkah konkret. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa baru bertindak,” ujarnya.

Tanaman warga juga dilaporkan mulai mengalami kerusakan akibat aktivitas pencarian makan oleh hewan liar tersebut. Sebagai langkah administratif dan protektif, Pemerintah Nagari Sialang Gaung bergerak cepat dengan melayangkan surat resmi kepada Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Langkah ini diambil guna mengoordinasikan bantuan teknis dalam penanganan konflik satwa dan manusia.

Selain itu, laporan juga telah diteruskan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Barat. Instansi tersebut dianggap memiliki kompetensi serta peralatan yang memadai untuk melakukan evakuasi atau penggiringan satwa kembali ke habitat aslinya.

“Kami menyadari bahwa beruang adalah hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan oleh para profesional agar tidak membahayakan satwa itu sendiri maupun warga kami,” tambah Ariyes.

Sembari menunggu tindakan dari pihak BKSDA, pihak nagari mengeluarkan imbauan keras agar warga meningkatkan kewaspadaan. Para petani diminta untuk tidak pergi ke kebun sendirian dan menghindari aktivitas di kebun hingga larut malam.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *