Kegiatan Berburu Remis di Pantai Kubu, Bangka Selatan
Pagi hari di kawasan Pantai Kubu, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, menjadi momen yang sangat dinanti oleh masyarakat setempat. Pada Minggu (12/4/2026), ribuan orang memadati pantai saat air laut surut, memberikan kesempatan bagi warga untuk berburu remis atau yang dikenal dengan istilah lokal sebagai lokan.
Kondisi air laut yang surut menunjukkan dasar perairan dangkal, yang menjadi waktu yang tepat bagi warga untuk mencari remis. Dari kejauhan, terlihat ratusan hingga ribuan orang bergerak perlahan di permukaan air. Mereka menyebar merata, membentuk barisan panjang mengikuti garis pantai.
Sebagian besar dari mereka duduk dan jongkok, meraba-raba dasar laut dengan tangan kosong, mencari cangkang-cangkang remis yang tersembunyi dalam pasir. Suasana begitu hidup, dengan percakapan warga bercampur dengan suara debur ombak kecil yang bergulung pelan. Beberapa dari mereka membawa ember, jaring, hingga memanfaatkan botol bekas minuman sebagai wadah.
Botol-botol tersebut tampak terisi remis segar bercangkang abu-abu keputihan yang masih basah oleh air laut. Setiap beberapa menit, tangan-tangan mereka terangkat, memperlihatkan hasil tangkapan sebelum dimasukkan ke wadah masing-masing.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak hingga remaja juga ikut turun ke air. Mereka tampak antusias, sesekali tertawa saat berhasil menemukan remis berukuran besar. Beberapa bahkan menyelam singkat untuk memastikan area yang lebih dalam, sementara lainnya menyisir kawasan dangkal dengan langkah perlahan.
Di sisi lain, warna-warni pakaian warga merah, kuning, hingga hitam menjadi kontras dengan birunya laut dan langit cerah. Aktivitas ini tidak hanya menjadi upaya mencari hasil laut, tetapi juga berubah menjadi tradisi musiman yang dinanti saat air laut surut.
Salah satu pencari remis, Erawati, mengaku mulai turun ke laut sejak siang hari bersama keluarganya. “Mulai siang tadi jam 13.00 karena air sedang surut jauh, jadi dari siang sampai sore masih bisa mencari remis,” katanya.
Menurutnya, remis merupakan kerang musiman yang hanya melimpah pada waktu tertentu di kawasan Pantai Kubu. “Remis ini tergantung musim dan kondisi air surut. Kalau angin bagus dan air surut, remis banyak. Tapi tidak lama, paling sekitar seminggu. Setelah itu air pasang lagi dan tidak bisa dicari. Biasanya dua minggu baru bisa lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, di luar momen tersebut, remis tetap ada namun jumlahnya tidak sebanyak saat musimnya tiba. “Biasanya ada, tapi tidak banyak seperti sekarang. Ini memang lagi musimnya,” katanya.
Dalam waktu sekitar tiga jam, Erawati mengaku berhasil mengumpulkan remis sekitar dua kilogram. “Alhamdulillah hari ini dapat tiga botol, kurang lebih dua kilo. Lumayan untuk liburan sambil cari lauk,” ujarnya.
Remis yang didapat biasanya dikonsumsi sendiri atau dijual dengan harga sekitar Rp5.000 per kaleng susu di pasaran. Menariknya, Erawati mencari remis tanpa alat khusus. Ia hanya menggunakan tangan dan botol plastik sebagai wadah. “Tidak pakai alat, cuma tangan untuk meraba pasir. Remisnya dimasukkan ke botol yang diikat di pinggang atau leher,” katanya.
Ia mengakui, mencari remis bukan perkara mudah. Selain membutuhkan kesabaran dan ketelitian, kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. “Harus sabar, kadang duduk, jongkok terus. Panas juga, capek. Tapi ya dinikmati saja,” ungkapnya.
Remis hasil tangkapan biasanya diolah secara sederhana sebagai lauk di rumah. “Biasanya direbus saja, bening. Sudah enak tanpa bumbu macam-macam,” pungkasnya.