Akses Jalan Nasional di Aceh Mulai Pulih Pasca Bencana
Pada hari Kamis (1/1/2026) kemarin, sejumlah akses jalan nasional di Aceh kembali terhubung setelah mengalami kerusakan akibat bencana alam. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa sebanyak 13 titik ruas jalan nasional di Aceh telah fungsional.
Beberapa jalur alternatif juga sudah beroperasi untuk memastikan kelancaran lalu lintas. Contohnya, akses jalan yang menghubungkan Bireuen-Bener Meriah dan Bener Meriah-Aceh Tengah. Jalur ini dapat dilalui melalui jembatan Weihni Enang-Enang dan jembatan Jamu Ujung.
Selain itu, jalur Genting Gerbang – Simpang Uning masih dalam proses pemulihan, namun masyarakat dapat menggunakan jalur alternatif di Jembatan Titi Merah. Sementara itu, jalur Takengon-Blangkejeren masih dalam proses pemulihan. Meski begitu, beberapa rute utama seperti Banda Aceh ke Medan via jalur timur, Banda Aceh – Nagan Raya hingga Medan via jalur barat, serta Nagan Raya ke Takengon sudah terhubung.
Kemudian dari Lhokseumawe ke Takengon via jalur KKA juga sudah terhubung. Selain itu, akses jalan dari Bireuen ke Bener Meriah, meskipun ada beberapa titik jembatan yang masih dalam proses perbaikan, tetapi jalur alternatif tersedia sehingga akses antar daerah bisa dilalui.
Akses jalan dari Pidie ke Takengon juga sudah terhubung. Menurut Abdul Muhari, target pemulihan akses jalan nasional telah tercapai. Dengan pulihnya jalur atau akses darat utama, baik itu jalur lintas timur, lintas tengah, dan lintas barat, akan mempercepat pemulihan sektor energi, kelistrikan, dan komunikasi di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Perbaikan Jembatan dan Longsoran
Dalam rangka pemulihan infrastruktur, sebanyak 16 jembatan yang mengalami kerusakan sebelumnya dilaporkan telah 100 persen diselesaikan. Rincian jembatan yang telah fungsional adalah 12 jembatan di lokasi eksisting, dan empat jembatan fungsional melalui jalur alternatif, yaitu Weihni Enang-Enang, Jamu Ujung, Titi Merah, dan Krueng Beutong.
Sedangkan untuk titik longsoran, tercatat sebanyak 361 titik. Hingga saat ini, 360 titik atau 99,72 persen dari total longsoran telah selesai dikerjakan. Satu titik longsoran yang masih dikerjakan adalah arah Jembatan Weihni Enang-Enang, yang fungsional melalui jalur alternatif.
Kolaborasi dan Gotong Royong
Menurut Abdul Muhari, pencapaian sejauh ini tidak terlepas dari kolaborasi dan gotong royong semua pihak. Dengan berangsur-angsur pulihnya akses jalan dan jembatan, pemerintah mengharapkan pemulihan sektor energi dapat tercapai pada pertengahan Januari ini.
Namun demikian, BNPB tetap mewaspadai potensi yang dapat mengganggu hasil perbaikan yang sudah dilakukan. Perlunya perhatian bersama dalam perbaikan infrastruktur yang selesai tidak terganggu lagi akibat faktor cuaca.
“Saat ini daya tampung saluran air utama sungai dan drainase primer belum pulih seperti sebelum terjadinya bencana. BNPB tetap melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung proses percepatan normalisasi sungai di beberapa titik,” katanya.
BNPB menilai apabila terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, ini dapat menyebabkan terjadinya luapan air, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di tiga kabupaten. Hal tersebut dapat berdampak pada hasil pekerjaan perbaikan jalan dan jembatan.
Kondisi Jalan Nasional di Aceh
Saat ini sejumlah jalan nasional di Aceh memang mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor, namun sebagian besar sudah mulai dipulihkan dan bisa dilalui kembali. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB menargetkan agar akses utama segera fungsional untuk mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Tantangan yang Masih Ada
Meskipun kondisi jalan nasional di Aceh mulai pulih, beberapa tantangan masih ada. Pertama, kerusakan berulang: Jalan di daerah rawan banjir dan longsor berpotensi rusak kembali. Kedua, perbaikan permanen: Saat ini banyak yang masih berupa penanganan darurat, sehingga perlu rehabilitasi jangka panjang. Ketiga, distribusi logistik: Jalur utama sangat vital untuk pasokan energi, kelistrikan, dan komunikasi.