Kasus Pencurian Berawal dari Pamer Uang di Media Sosial
Seorang pria kehilangan tabungan sebesar 177 juta rupiah setelah ia memamerkan uang tunai di media sosial. Kejadian ini terjadi di China dan melibatkan pelaku yang ternyata adalah mantan rekan kerjanya sendiri. Kejaksaan Distrik Huli di Xiamen, provinsi Fujian, menangani kasus pencurian tersebut.
Peristiwa ini bermula pada April 2024 ketika seorang pria bernama Xu sedang menjelajahi media sosial. Ia menemukan video yang diunggah oleh mantan rekan kerjanya, Yang, yang memperlihatkan tumpukan uang tunai dalam jumlah besar. Hal ini membuat Xu merasa cemburu dan akhirnya memiliki niat jahat.
“Saya tahu dia lebih suka menyimpan uang tunai di rumah daripada menggunakan kartu bank,” kata Xu saat mengakui aksinya. “Saat itu saya kekurangan uang, jadi saya pikir kenapa tidak sekalian saja ‘mengambil’ uang dari tempatnya?”
Penyamaran sebagai Wanita untuk Melakukan Pencurian
Untuk menghindari dikenali, Xu menyamar sebagai wanita. Ia membeli wig, rok pendek, stoking hitam, dan aksesoris lainnya dari toko pakaian. Di larut malam, ia berganti pakaian samaran dan naik taksi ke rumah Yang, yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Xu memanjat melalui jendela tangga dan menuju ke lantai atas. Di pintu depan, ia menggeledah lemari sepatu dan menemukan kunci yang tersembunyi di dalam sepasang sepatu. Rekaman CCTV menunjukkan pelaku mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana pendek hitam, dan wig hitam panjang saat melakukan kejahatan.
Setelah membuka kunci pintu, Xu masuk ke dalam apartemen dan mulai mencari. Ia menemukan kotak hitam di samping tempat tidur yang berisi beberapa tumpukan uang tunai. Dia memasukkan uang itu ke dalam kantong sampah hitam, mencuri total 73.000 yuan atau sekitar Rp 177 juta dalam bentuk tunai dan hanya meninggalkan selembar uang 5 yuan.
Sebelum meninggalkan apartemen, Xu mengembalikan kunci ke tempatnya semula dan membuang pakaian wanita itu ke tempat sampah umum terdekat. Ia membawa uang itu ke kasino dan kehilangan sebagian uangnya, lalu menyembunyikan sisanya di rumahnya.
Penangkapan dan Hukuman
Yang tidak menyadari uangnya hilang sampai sehari kemudian. Saat sedang tidur siang, dia tanpa sengaja menyenggol kotak itu dan menemukan uang tunainya telah hilang. Ia segera melaporkan pencurian itu ke polisi.
Setelah meninjau kasus tersebut, Kejaksaan Distrik Huli menetapkan bahwa Xu telah memasuki properti tersebut secara ilegal dan mencuri uang. Akhirnya, Xu dipenjara dan didenda. Namun, masa hukuman dan jumlah denda yang tepat tidak diungkapkan.
Penipuan Lain yang Terjadi di Jepang
Sebelumnya, seorang wanita Jepang berusia 80 tahun kehilangan sejumlah uang setelah jatuh cinta secara online dengan seorang pria yang mengaku sebagai astronot. Kepolisian Pulau Hokkaido menggambarkan kasus ini sebagai penipuan asmara, di mana astronot jadi-jadian tersebut meminta bantuan untuk menghindari krisis pesawat ruang angkasa.
Wanita malang di pulau Hokkaido, Jepang utara, bertemu dengan pria penipu yang mengaku sebagai astronot itu pada bulan Juli di media sosial. Setelah beberapa kali berkomunikasi dan bertukar cerita, di suatu waktu, penipu itu kemudian mulai melancarkan aksinya.
Sang “astronot” mengatakan kepada wanita lansia tersebut bahwa dia berada di luar angkasa dan dalam sebuah pesawat ruang angkasa, tetapi sedang diserang dan membutuhkan oksigen. Penipu itu kemudian mendesak sang nenek untuk mengirim uang secara online untuk membantunya membeli oksigen.
Aksi tersebut membuat astronot gadungan berhasil menipu sekitar 1 juta yen (sekitar Rp 111 juta) dari sang nenek. Diketahui, wanita lansia tersebut tinggal sendiri dan mulai menimbulkan perasaan terhadap pria penipu itu seiring berkembangnya komunikasi keduanya.
“Jika seseorang yang Anda temui di media sosial meminta uang tunai dari Anda, harap curigai kemungkinan penipuan, dan laporkan ke polisi,” kata polisi mengimbau.
Jepang memiliki populasi masyarakat tua terbanyak kedua di dunia setelah Monako, dan orang-orang tua sering menjadi korban berbagai bentuk penipuan terorganisasi. Pihak kepolisian mengatakan bahwa kasus ini termasuk penipuan klasik yang umum disebut “it’s me scam”, di mana pelaku menyamar sebagai anggota keluarga atau lainnya dan mengaku sedang kesulitan untuk meminta uang dari korban.