Profil Dwi Yoga, Kekasih Bupati Tulungagung yang Tertangkap OTT KPK

Zaiful Aryanto
4 Min Read

Peran Ajudan Bupati dalam Kasus OTT KPK di Tulungagung

Dwi Yoga Ambal, seorang ajudan Bupati Tulungagung, menjadi salah satu yang terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diduga terlibat dalam dugaan pemerasan yang terjadi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung. Perannya sebagai perantara dan penagih setoran dari sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara terorganisir membuatnya menjadi sorotan utama dalam kasus ini.

Selain Dwi Yoga Ambal, KPK juga mengamankan beberapa pihak lainnya sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Penangkapan ini menunjukkan bahwa praktik korupsi tidak berlangsung secara individu, melainkan memiliki struktur yang terencana dan sistematis. Dalam proses penyidikan, KPK juga menyita barang bukti seperti uang tunai, dokumen, dan barang elektronik yang mendukung dugaan adanya pelanggaran hukum.

Peran Penting Dwi Yoga Ambal dalam Kasus Ini

Dwi Yoga Ambal dikenal sebagai tangan kanan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo. Ia tidak hanya menjalankan tugas sebagai ajudan, tetapi juga memiliki peran krusial dalam alur komunikasi dan koordinasi terkait dugaan praktik di internal Pemkab. Menurut Deputi Penindakan KPK, Asep Guntur Rahayu, Dwi Yoga Ambal disebut sebagai perantara sekaligus penagih setoran dari para kepala OPD. Ia bahkan mencatat jumlah “utang” masing-masing pejabat dan secara aktif melakukan penagihan sesuai instruksi.

Peran ini menunjukkan bahwa praktik pemerasan tidak berjalan sporadis, melainkan dilakukan secara terorganisir dan sistematis. Ajudan menjadi bagian dari rantai penting yang memastikan aliran dana tetap berjalan. Dalam OTT tersebut, KPK juga mengamankan sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan korupsi. Di antaranya adalah uang tunai sebesar Rp335 juta, dokumen, barang elektronik, serta barang mewah seperti sepatu bermerek.

Kronologi OTT KPK di Tulungagung

Kasus ini bermula dari OTT yang dilakukan KPK pada 10 April 2026 di wilayah Tulungagung. Dalam operasi tersebut, tim penyidik mengamankan sejumlah pihak beserta barang bukti. Berdasarkan hasil penyelidikan, KPK kemudian menetapkan Gatut Sunu Wibowo dan Dwi Yoga Ambal sebagai tersangka. Keduanya diduga terlibat dalam praktik pemerasan terhadap pejabat OPD dengan nilai mencapai miliaran rupiah.

Untuk kepentingan penyidikan, KPK menahan keduanya selama 20 hari pertama, terhitung sejak 11 hingga 30 April 2026, di Rumah Tahanan Negara Cabang Gedung Merah Putih KPK. Usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Gatut Sunu Wibowo tampak keluar mengenakan rompi oranye khas tahanan dengan tangan terborgol. Saat dimintai keterangan oleh awak media, ia hanya menyampaikan pernyataan singkat:

“Mohon maaf.”

Kejutan dalam Penangkapan Bupati

Penyidik KPK sempat kehilangan jejak Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. Namun, hal itu tak berlangsung lama setelah penyidik KPK menekan ajudan Bupati Gatut Sunu, Dwi Yoga Ambal. Awalnya ketika ditanya penyidik KPK, Dwi Yoga Ambal sempat mengaku tidak mengetahui posisi Gatut Sunu. Namun, setelah penyidik KPK menekannya, Dwi Yoga Ambal pun memberitahukan lokasi persembunyian Gatut Sunu.

Informasi tersebut didapatkan reporter SURYAMALANG.COM dari sumber internal pendapa. Sumber itu menyebut, ada 2 mobil KPK masuk ke pendapa membawa Kabag Umum, Yulius Rama Isworo. Di area pendapa, tim KPK mendapati ajudan bupati, Dwi Yoga Ambal. “Orang KPK sempat menanyakan keberadaan Pak Bupati, tapi ajudan mengaku tidak tahu,” ujar W, sumber SURYAMALANG.COM, Sabtu (11/4/2026).

Personel KPK sempat menekan Dwi Yoga hingga membuatnya mau menunjukkan kebenaran Bupati Gatut Sunu. Menurut W, bupati saat itu bersembunyi di dalam mobil yang ada di garasi. Sesuai petunjuk itu personel KPK menemukan Gatut Sunu. “Jadi 3 orang, bupati, Yulius sama ajudan. Lalu bupati diminta menghubungi Sekda,” tutur W.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *