Selamat Jalan, Bos Top: Deadline Terakhir Anjing Penjaga

Amanda Almeirah
8 Min Read



“Wartawan Tak Boleh Netral, Kita Harus Berpihak pada Kebenaran!” Dalam ingatan: Topan Nanyan (Tarakan, 6 Agustus 1975 – Palangka Raya, 6 Desember 2025)

Ponsel saya tiba-tiba berdering tepat pada pukul 05.30 WIB, waktu yang sering dianggap sebagai momen penting dalam keheningan subuh. Di layar, nama Vincen terpampang seperti lampu suar darurat—sebuah panggilan dari kawan lama, isyarat tanpa kata bahwa kabar yang dibawa pastilah penting dan tidak bisa ditunda hingga matahari terbit.

“Bos Top berpulang, tadi sekitar jam lima subuh,” suara Vincen terdengar berat di seberang sana.

Saya terpaku. Saat itu, saya sedang menjalani penugasan di luar kota. Tidak ada kesempatan untuk pergi ke Rumah Sakit Betang Pambelum, tempat tubuhnya kini berbaring tenang. Jarak memaksa saya hanya bisa menunduk, mengenang sosok yang wajahnya biasanya merah padam saat memarahi layout koran yang berantakan, namun kini telah damai selamanya.

Topan Nanyan—redaktur, mentor, kakak, sahabat, dan terakhir menjabat sebagai Direktur di anak perusahaan—telah menyelesaikan ‘deadline’ terakhirnya di dunia ini pada usia 50 tahun.

Rasanya baru kemarin sore, atau tepatnya tahun 2010, saya berdiri gemetar di hadapannya sebagai wartawan magang. Itu adalah pertemuan dua kutub yang sangat berbeda. Saya, seorang lulusan Hukum yang isi kepalanya penuh dengan pasal-pasal kaku, mencoba masuk ke dunia yang asing. Sementara dia, seorang sarjana Ekonomi yang justru jauh lebih fasih bicara soal deadline, lead berita, dan angle liputan daripada kurva permintaan atau inflasi.

Namun, di tangan dinginnya, perbedaan latar belakang itu lebur. Dialah yang pertama kali menyematkan kode ‘fit’ sebagai identitas anonim saya di media. Sejak saat itu, nama asli saya seolah lenyap di matanya.

“Mana beritanya, Fit?” “Jangan lupa angle-nya dipertajam, Fit!”

Panggilan ‘Fit’ itu menjadi perekat, menyatukan sarjana hukum dan sarjana ekonomi dalam satu frekuensi: kegilaan dunia jurnalistik dan kehangatan secangkir kopi.

Bagi kami, anak didiknya, Bos Top adalah definisi anomali. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa memaki Anda dengan kejam pada jam 2 siang, lalu menuangkan kopi ke gelas Anda dengan penuh kasih sayang pada jam 8 malam.

Mengenang Bos Top berarti mengenang serangkaian penugasan yang, kalau dipikir-pikir sekarang, batas antara ‘mendidik’ dan ‘mengerjai’ itu setipis kulit bawang.

Masih segar dalam ingatan saat dia mengirim saya ke Sampit, Kotawaringin Timur. Isunya ngeri-ngeri sedap: perburuan buaya ganas di Sungai Mentaya.

“Jangan pulang sebelum dapat wawancara, Fit!” perintahnya. “Wawancara siapa, Bos? Pawangnya?” tanya saya polos. “Bukan! Wawancara buayanya! Tanya kenapa dia makan orang, apa dia lagi diet atau gimana!”

Saya tahu dia bercanda (semoga), tapi nada suaranya membuat saya benar-benar nongkrong di pinggir sungai Mentaya berhari-hari, berharap si buaya muncul dan memberikan konferensi pers.

Belum sempat celana saya kering dari rendaman Sungai Mentaya, dia tanpa ampun melempar saya lagi ke Pangkalan Bun. “Ada pesawat jatuh,” cetusnya datar. Saya sempat protes, bukankah sudah ada Helmi, wartawan daerah yang stay di sana?

Kali ini suaranya mengeras, memotong sanggahan saya: “Harus ke sana, back up si Helmi. Cari dan buat berita dengan angle yang beda dari wartawan lain!” Perintahnya mutlak, tak terbantahkan.

Sesampainya di Pangkalan Bun, malam harinya, melalui BlackBerry Messenger (zaman itu WhatsApp belum seramai sekarang), dia tidak bertanya “Dapat berita apa?”. Dia bertanya, “Kamu sudah makan, Fit? Jangan sampai sakit. Tulis dengan hati, jangan cuma kejar sensasi. Mereka yang berduka itu manusia, bukan objek berita.”

Di situlah saya sadar. Di balik wajah garang dan perintah absurdnya, ada hati selembut kapas. Dia mengajarkan saya bahwa jurnalisme bukan sekadar hukum 5W+1H, dan bukan sekadar hitungan ekonomi untung-rugi. Ini soal kemanusiaan.

Periode 2010 hingga pertengahan 2017 adalah masa “penggemblengan” kawah candradimuka saya di kantor yang sama. Hampir setiap malam, jika saya tidak sedang dibuang ke daerah terpencil yang sinyalnya pun enggan mampir, saya pasti parkir di rumahnya.

Rumahnya adalah markas besar. Di sana, kopi selalu hitam dan rokok selalu ngebul. Kami mendiskusikan segala hal. Di momen-momen inilah, filosofi jurnalistiknya keluar satu per satu, menancap lebih dalam daripada semua teori hukum yang pernah saya pelajari di bangku kuliah.

“Ingat Fit, penulis itu penutur,” ujarnya suatu kali, nadanya serius. “Kamu sedang bercerita, bukan sedang menggurui pembaca. Dan ingat, haram hukumnya menghakimi dalam berita. Jangan narsis memasukkan opinimu sendiri ke dalam naskah. Siapa kamu sampai pembaca harus dengar opinimu? Biarkan fakta yang bicara.”

Dia sangat cerewet soal validitas. “Datanya mana? Valid nggak? Sumbernya kredibel nggak? Kalau cuma ‘katanya’ atau ‘diduga-duga’, buang saja ke tempat sampah!” bentaknya kalau naskah saya mulai melenceng.

Tapi pelajaran yang paling membekas adalah soal keberpihakan. Saat banyak orang bicara soal netralitas media, Bos Top justru mematahkan itu dengan satu kalimat telak.

“Wartawan itu tidak boleh netral, Fit!” Saya kaget. “Lho, kok gitu, Bos? Kan harus independen?” bantah saya.

Dia tersenyum simpul, menyeruput kopinya pelan. “Wartawan harus berpihak. Kepada siapa? Bukan kepada pejabat, bukan kepada pengusaha yang pasang iklan. Kita harus berpihak kepada value. Ya, value kebenaran. Kalau ada ketidakadilan, kamu nggak boleh netral berdiri di tengah cari aman. Kamu harus berpihak pada kebenaran itu.”

“Wartawan itu bukan cuma tukang catat, Fit. Kita ini anjing penjaga. Kalau kamu nggak bisa menggonggong demi kebenaran, minimal jangan menjilat.”

Sejak pertengahan tahun 2017, saya memutuskan pindah ke media lain dan tidak lagi sekantor dengannya. Awalnya saya takut setengah mati untuk pamit. Saya pikir dia akan marah, menganggap saya pengkhianat karena meninggalkan ‘kapal’ yang dia nakhodai.

Ternyata saya salah besar. Dia memeluk saya erat. “Pergilah, Fit. Cari pengalaman. Kalau di sana ada yang jahatin kamu, bilang sama aku. Nanti aku telepon bosmu,” ujarnya sambil tertawa khas, tawa yang menggelegar memenuhi ruangan.

Sejak saat itu, meski beda seragam dan jarang bertemu fisik, komunikasi kami tak pernah putus. “Apa kabar, Fit? Masih nulis atau sudah jadi politisi?” begitu biasanya pesan WhatsApp-nya yang selalu bikin senyum di sela kesibukan kami masing-masing.

Pagi ini, dari kejauhan, saya mengirimkan doa terbaik. Saya tidak bisa menatap wajahnya untuk terakhir kali, tidak bisa ikut mengantar ke peristirahatan terakhir. Namun, kenangan tentang perintah liputan buaya, panggilan ‘Fit’ yang khas, dan diskusi tentang keberpihakan pada kebenaran itu terasa begitu dekat.

Bos Top, terima kasih sudah melempar saya ke ‘rimba’ jurnalistik. Terima kasih atas ‘perploncoan’ yang ternyata adalah bentuk kasih sayang tertinggi seorang mentor untuk membentuk mental baja anak didiknya. Penugasan ke daerah terpencil itu bukan untuk membuang saya, tapi agar saya melihat wajah asli Indonesia, wajah asli pembaca kita.

Selamat jalan, Bos. Mentor terbaik, Kakak tergalak, Sahabat terhangat. Jangan khawatirkan kami di sini. Kopi akan tetap kami seduh, dan tulisan dengan kode ‘fit’ ini akan terus berpihak pada kebenaran, persis seperti yang kau ajarkan.

Sekarang, silakan istirahat. Tidak ada deadline di surga.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *