Potensi Ekonomi Papua yang Masih Terabaikan
Papua memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan hingga pariwisata. Namun, sebagian besar potensi tersebut belum dikelola secara optimal dan masih bersifat tradisional. Hal ini menjadi salah satu tantangan utama dalam mengembangkan ekonomi masyarakat setempat.
Dalam sebuah seminar sehari yang digelar oleh Mahasiswa Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Pemuda Gereja Yeriko di Yoka, Kota Jayapura, Papua, Arianto Kogoya, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Papua Pegunungan, menyampaikan pesan penting kepada mahasiswa dan pemuda Papua. Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir yang selama ini hanya berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Menurut Arianto, tantangan lapangan pekerjaan di Tanah Papua semakin kompleks. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun, tetapi ketersediaan pekerjaan dinilai tidak sebanding. “Setiap tahun ratusan bahkan ribuan anak-anak Papua lulus kuliah, baik dari dalam maupun luar Papua. Tetapi pertanyaannya, mereka mau kerja di mana? Lapangan pekerjaan kita sangat terbatas,” ujarnya.
Arianto menilai bahwa pola pikir mahasiswa yang hanya berorientasi menjadi PNS atau masuk dunia politik perlu diubah. Menurutnya, peluang di sektor tersebut sangat terbatas dan tidak mampu menampung seluruh angkatan kerja. “Jangan hanya berpikir setelah kuliah harus jadi PNS atau masuk politik. Itu terbatas. Kita harus berani berinovasi dan menjadi pengusaha. Kalau mau mandiri secara ekonomi, kita harus berwirausaha,” tegasnya.
Pengembangan Sektor Primer dan Industri Kreatif
Selain sektor primer seperti pertanian, perikanan, dan peternakan, Arianto juga mendorong pengembangan industri kreatif seperti produksi noken, gelang, topi, hingga pakaian adat yang bisa dipasarkan secara luas melalui teknologi digital. “Industri kreatif ini punya peluang besar. Kalau dikembangkan dengan inovasi dan pemasaran yang baik, bisa jadi sumber pendapatan yang menjanjikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam membuka peluang investasi di Papua, khususnya di sektor industri pengolahan hasil bumi agar nilai tambah ekonomi dinikmati langsung oleh masyarakat setempat. “Jangan sampai hasil bumi kita diambil dari sini, diolah di luar Papua, lalu kita hanya jadi penonton. Industri harus dibangun di Papua supaya lapangan kerja tercipta di sini,” tegasnya.
Permodalan dan Pendidikan Vokasi
Terkait permodalan, Arianto menyebutkan bahwa mahasiswa dan pemuda tidak perlu takut memulai usaha. Menurutnya, akses perbankan, jaringan relasi, hingga dana Otonomi Khusus (Otsus) bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha masyarakat Papua. “Yang penting itu niat dan keberanian. Modal bisa dicari, ada perbankan, ada bantuan pemerintah, termasuk dana Otsus untuk ekonomi masyarakat Papua,” jelasnya.
Selain itu, Arianto menilai bahwa sistem pendidikan masih didominasi sekolah umum, sementara kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha menuntut keterampilan teknis yang siap pakai. “Kita harus perbanyak sekolah kejuruan, seperti SMK kesehatan, teknik, pertanian, dan jurusan keterampilan lainnya. Anak-anak kita harus disiapkan dengan skill yang jelas supaya setelah lulus mereka tidak bingung mau kerja di mana,” ujarnya.
Kunci Keberhasilan Masa Depan
Menurut Arianto, penguatan pendidikan vokasi menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Papua yang mandiri dan mampu bersaing, baik sebagai tenaga kerja profesional maupun sebagai pelaku usaha. “Kalau kita siapkan SDM yang terampil, maka mereka bisa langsung masuk dunia kerja atau bahkan membuka usaha sendiri. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
Arianto berharap, forum seperti ini tidak berhenti sebagai diskusi semata, tetapi menjadi titik awal perubahan pola pikir generasi muda Papua untuk berani mandiri secara ekonomi. “Jangan terus bergantung. Kita harus mulai berpikir mandiri, menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari kerja,” pungkasnya.