Kecelakaan Maut di Jalan Matraman Raya, Seorang Pelajar Tewas
Siswa SMK Aldi Surya Putra (16) tewas kecelakaan akibat jalan berlubang di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Senin (9/2/2026). Aldi merupakan siswa SMKN 34 Jakarta Timur. Kedua orangtua Aldi tidak sanggup menahan tangis saat jenazah tiba di rumah duka kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.
Aldo, saudara kandung korban, mengaku pertama kali mendapatkan kabar adiknya kecelakaan dari ibunya sekira pukul 06.30 WIB. “Dari situ langsung menuju TKP, ibu tahu dari tetangga, itu tetangga bilang kalau ada kecelakaan pake jaket biru,” kata Aldo dengan wajah sedih di RS Polri Kramat Jati.
Ia ke lokasi kejadian untuk memastikan korban kecelakaan di sana adalah adiknya atau bukan. Setiba di lokasi, Aldo mengaku kondisi jenazah sudah ditutup menggunakan plastik hitam dan merah. “Iya berangkat sekolah, tiap hari naik motor sendiri. Sebelum ada motor memang saya yang anterin, katanya mau mandiri akhirnya di beliin motor,” kata Aldo dikutip dari Wartakota.
Sosok Korban
Sementara itu rekan sekelas Aldi, Achmad Bayhaqi menyampaikan sosok korban. Korban dikenal sebagai orang yang mudah bergaul. Ia mengenal baik korban selama bersekolah di SMKN 34 Jakarta dan tidak pernah terlibat aksi tawuran. “Baik sih, anaknya biasa-biasa saja, suka ngobrol juga sama teman-teman sekelas,” katanya sembari mengingat kenangan bersama almarhum.
Menurut Bayhaqi, korban tidak aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kendati demikian, di mata dirinya maupun teman-teman yang lain, korban sangat baik.
Kesaksian Rekan Sekelas Korban
Bayhaqi berada di lokasi kejadian saat Aldi mengalami kecelakaan di Jalan Matraman Raya, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur pada Senin (9/2/2026) pagi. Bayhaqi ketika itu berboncengan bersama temannya menuju sekolah SMKN 34 Jakarta Pusat dari arah Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Kondisi pagi itu rintik hujan dan tak biasanya ada kemacetan parah. Namun, ia sudah menduga kemacetan di sana dikarenakan ada kecelakaan. Beberapa meter sebelum kejadian, ia melihat senior di sekolahnya mengatur lalu lintas di tengah kemacetan. “Nah terus saya berhenti dan lihat ternyata korbannya itu pakai celana abu-abu sama almamater satu sekolah. Saya belum tahu kalau korban ini ASP teman sekelas saya,” ucap Bayhaqi.
Setelah diperjelas, kata Bayhaqi, dirinya menyadari bahwa korban kecelakaan adalah teman satu kelasnya. Ia merasa, proses evakuasi jenazah lambat dari pihak kepolisian maupun tenaga medis. Dari pukul 06.30 WIB saat kejadian kecelakaan, jenazah baru dievakuasi sekira pukul 07.30 WIB.
“Bukan lambat lagi, tapi lambat banget penangannya. Dari segi lalu lintas juga kan jadi macet parah,” tuturnya. Remaja almamater biru muda itu sempat bertanya ke beberapa orang terkait dengan kronologi kejadian kecelakaan. Korban pada saat itu terjatuh akibat menghantam jalan berlubang di sekitar lokasi kejadian hingga dilindas truk bagian kepalanya.
Lebih lanjut Bayhaqi, hal itu diperkuat dengan helm yang dikenakan Aldi hancur dan berserakan. Sementara, sepeda motor Aldi jenis Satria FU mengalami kerusakan cukup parah di beberapa bagian. “Tapi kondisi sepeda motor enggak separah ASP. Dia parah lukanya di kepala. Sopir truk yang melindas enggak ada sih di lokasi, kalau ada pasti sudah diamuk masa,” tegasnya.
Ia berharap, pemerintah bisa segera perbaiki jalan rusak agar kasus kecelakaan seperti ASP tidak terulang lagi. “Ini kan ibu kota ya bukan daerah pegunungan, jadi kalau bisa ya jalan rusak itu diperbaiki karena efeknya fatal banget,” ungkapnya dengan kekecewaan.
Orangtua Menangis Histeris
Paman korban, Cecep, mengaku syok ketika mengetahui keponakannya meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. “Setelah tahu info, ya saya lagi bawa kendaraan ya saya juga agak kaget, agak syok gitu. Jadi kita kan nggak tahu kronologi, tahu-tahu dia yang terkapar itu ternyata ponakan saya,” kata Cecep di rumah duka di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.
Cecep belum mengetahui secara detail kronologi kecelakaan yang dialami Aldi. Ia hanya menyebutkan bahwa saat itu Aldi sedang dalam perjalanan ke sekolah tempat korban menempuh pendidikan. “(Hendak) ke sekolah. SMA kelas dua dia. Memang bawa kendaraan sendiri,” ungkap Cecep.
Saat jenazah Aldi tiba di rumah duka, kedua orangtua korban tak sanggup menahan kesedihan. Ayah dan ibu Aldi menangis histeris saat keranda yang membawa jenazah anaknya diturunkan dari mobil ambulans dan dibawa ke musala untuk disalatkan. Ibunda Aldi tampak lemas dan harus dibopong warga untuk bisa berjalan.
Saat ini, jenazah Aldi telah dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan.
Penyebab Kecelakaan
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, korban terjatuh setelah motor yang dikendarainya diduga menghantam jalan berlubang. “Sepeda motor melaju dari arah selatan ke utara lalu diduga pengendara ini terperosok akibat jalan berlubang,” kata Budi kepada wartawan.
Korban yang berstatus sebagai pelajar mengalami luka di bagian kepala dan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP). Budi menuturkan, polisi masih menyelidiki ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa kecelakaan tersebut. “Ini masih dalam pendalaman. Artinya faktor kecelakaan lalu lintas itu ada faktor pengendara, ada faktor cuaca, ada faktor kendaraan tersebut, serta faktor sarana prasarana yaitu jalan,” tutur Kabid Humas.
Ruas Jalan Berlubang Kerap Menelan Korban
Ruas Jalan Matraman Raya di Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur yang rusak dan bergelombang sudah kerap memakan korban. Menurut warga sekitar jauh sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pelajar berinisial ASP (16) pada Senin (9/2/2026), sudah banyak pengendara motor jadi korban.
Banyak dari pengendara sepeda motor yang terjatuh dari kendaraannya akibat menghantam lubang, atau kehilangan kendali kendaraan karena kondisi jalan yang bergelombang. “Waktu pas musim hujan kan lubangnya lebih parah, nah itu sehari bisa ada dua orang bawa motor yang jatuh karena lubang,” kata warga sekitar, Roni di Jakarta Timur, Senin (9/2/2026).
Titik lubang yang membahayakan warga pun tidak hanya berada pada satu lokasi, melainkan tersebar sepanjang ruas Jalan Matraman Raya dari arah Kampung Melayu menuju Senen.
Perbaikan Jalan yang Tidak Efektif
Menurut warga Sudin Bina Marga Jakarta Timur sudah berulang kali perbaikan jalan dengan menambal lubang dan jalan yang bergelombang, tapi karena tingginya curah hujan jalan kembali rusak. “Itu yang tempat tadi pagi anak sekolah jatuh juga sebelumnya pernah ditambal, tapi ya rusak, terus ditambal, dan rusak lagi. Pokoknya berulang saja waktu hujan deras beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Roni menuturkan usai kecelakaan yang mengakibatkan ASP meninggal tadi juga jajaran Sudin Bina Marga Jakarta Timur kembali menambal titik jalan yang rusak dan bergelombang. Selain penambalan jajaran Sudin Bina Marga Jakarta Timur juga memberikan tanda pylox putih di sekitar area jalan rusak sebagai tanda agar lokasi nantinya dapat diperbaiki secara utuh.
Kini warga hanya dapat berharap perbaikan jalan dilakukan secara maksimal dengan menggunakan material yang lebih kuat, agar tidak ada lagi kasus kecelakaan serupa. “Ya mudah-mudahan sih enggak ada korban. Mungkin ditambal pakai aspal yang bagus, jadi bisa lebih awet dan enggak gampang rusak kalau pas musim hujan,” tuturnya.