Perjalanan Menuju Desa Lerpak
Musim hujan yang datang lebih awal tidak hanya menyebabkan banjir yang lebih besar, tetapi juga mengganggu kehidupan petani buah di Madura. Jambu air Madura yang dikenal akan rasanya yang manis dan segar kini sulit ditemukan. Bahkan jika ada, rasanya tidak sebagus biasanya.
Namun, durian Madura masih bisa menjadi pilihan yang menarik. Durian Lerpak, meski ukurannya kecil, memiliki rasa yang istimewa. Dusun Lerpak berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Bangkalan. Setelah melewati jembatan Suramadu, Anda harus terus lurus hingga mentok, lalu belok kanan ke arah Sampang. Jangan pernah belok kiri karena itu menuju Bangkalan.
Beberapa kilometer setelah belokan tersebut, Anda akan tiba di kota kecil bernama Tanah Merah. Di sana terdapat pertigaan, dan Anda harus belok kiri ke jalan kecil. Jalan ini telah diperbaiki oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga ke pelosok Desa Lerpak yang berada di atas bukit pedalaman Bangkalan.
Pada masa kampanye Pilpres, Mahfud MD, cawapres dari PDI-Perjuangan, berkunjung ke pesantren Sirrul Cholil. Namun, Khofifah yang mendukung Prabowo Subianto tidak jadi melakukan kunjungan tersebut. Tidak ada juga peresmian jalan yang kini mulus.
Saya sendiri menikmati jalan tersebut bulan lalu. Alam pedesaan Madura di sepanjang jalan sangat rindang. Mungkin karena musim basah. Rumah-rumah di sela pepohonan banyak yang bercorak modern dengan pilar-pilar putih model mini Romawi di depannya.
Saya meminta Kang Sahidin untuk meminggirkan mobil ke jalan sempit yang penuh dengan penjual durian. Musim durian di Madura mendahului Sidikalang. Nafsu tidak bisa ditahan lagi, sehingga durian pun dibelah dan dimasukkan ke dalam mobil. Sepanjang jalan, aroma durian melekat di Denza.
Di situlah pusat durian Madura. Meskipun kecil dan bundar, warnanya biru-daun membuat sedikit curiga. Ternyata rasanya sudah cukup matang, meskipun dagingnya tipis.
Di pesantren Sirrul Cholil saya bertemu Muqtafi Aschal. Ia keturunan ulama besar Madura, Syaichona Cholil, dari jalur istri yang lain. Desa Lerpak terpencil, dan ayah Muqtafi adalah pendiri pondok pesantren di situ. Awalnya, pesantren ini hanya madrasah diniyah yang fokus pada pelajaran agama.
Muqtafi saat itu masih kecil dan nakal. Ia selalu membantah orang tua, sehingga ayahnya menitipkan anaknya ke pesantren di Pasuruan: Sidogiri. Di sana, Muqtafi tetap nakal dan tidak mau salat. Ia lebih suka menonton film dan menjadi Bonek Persebaya.
Kiai di Sidogiri tidak ingin menghukum atau menegur Muqtafi karena ia adalah keturunan kiai dan ulama besar. Titik balik Muqtafi terjadi ketika salah satu kiai di Sidogiri, Mas Mohammad, memberinya kitab kecil “Dalail”.
Muqtafi disuruh membacanya. Ia tertarik karena kecil, dan akhirnya menyukainya. Kitab ini adalah salah satu bacaan wajib di pesantren NU. Isinya berisi salawat untuk Nabi Muhammad. Penulisnya adalah Imam Jazuli dari Maroko. Dalail adalah kitab yang sangat populer di Indonesia, dan isi seluruh kitab harus dibaca sampai selesai dalam waktu satu minggu.
Buku ini menomorsatukan salawat. Penulisnya menceritakan khasiat salawat yang menakjubkan. Suatu saat, Imam Jazuli mencari air untuk wudu dan menemukan sumur yang mengering. Seorang anak kecil melihatnya dan berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba sumur itu penuh dengan air.
“Apa yang kamu komat-kamitkan?” tanya Imam Jazuli.
“Salawat pada Nabi,” jawab si anak.
Setelah itu, Imam Jazuli langsung salat dan berharap bisa menemui anak itu, namun tidak berhasil. Ia merasa “ditegur” oleh anak kecil yang kurang membaca salawat.
Muqtafi terus membaca Dalail dan perlahan berubah. Ayahnya mengetahui perubahan itu dan mengajaknya ke Makkah. Di sana, ia belajar kepada ulama-ulama besar. Santri dari Indonesia dikenal sopan dan tawaduk, tetapi Muqtafi sering mengajukan pertanyaan. Akhirnya, guru di sana memuji kualitas pertanyaan Muqtafi dan menyampaikan fatwa: “Kunci ilmu ada di pertanyaan.”
Empat tahun Muqtafi di Makkah. Setelah pulang ke Madura, ia menghadapi budaya lokal yang mengharuskannya dikawinkan saat masih muda. Ia menolak tradisi ini dan memilih untuk berkelana ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta.
Di Jakarta, Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam. Ia bertemu Anies Baswedan dan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.
Di Jakarta, Muqtafi jatuh cinta. Ia mengenal putri lima “i” tamatan SMA Sudirman Jakarta. Sang putri sudah hampir jadi artis dan sedang dalam tahap seleksi audisi sinetron. Hubungan mereka tidak direstui karena sang putri juga sedang dalam proses dipaksa menikah.
“Kami ini praktis kawin lari,” ujar Muqtafi sambil menunjuk sang istri. Setelah sang istri hamil, orang tua mereka akhirnya merestui. Anak dalam kandungan itu kini baru saja diwisuda sebagai sarjana psikologi Universitas Airlangga Surabaya: Salwa Humairo. Cantik seperti ibunya. Sudah punya adik tiga.
Salwa tidak terlihat mewarisi kenakalan ayahnya. Karena itu, tidak perlu menitipkan Salwa ke kiai teman ayahnya. “Jangan menitipkan anak kiai ke kiai temannya. Kalau nakal dibiarkan. Tidak ditegur. Tidak dihukum,” ujar Muqtafi.
Sirrul Cholil tersembunyi di pelosok Bangkalan. Nama “sirrul” dipilih karena maknanya: rahasia kekasih.