Perjalanan Seorang Pemuda yang Berjuang untuk Kali Ciliwung
Arief Kamarudin, seorang lulusan pendidikan bahasa Inggris, telah mengabdikan hidupnya untuk membasmi ikan sapu-sapu invasif di Kali Ciliwung secara manual. Ia berada di garis depan perang melawan spesies asing yang mengancam keberlanjutan ekosistem sungai yang dulu menjadi bagian dari masa kecilnya.
Krisis Ekosistem: Dominasi Ikan Sapu-Sapu
Kali Ciliwung, yang dulu penuh dengan kehidupan laut lokal seperti baung dan tawes, kini terancam oleh dominasi ikan sapu-sapu (Loricariidae) yang berasal dari Amerika Selatan. Spesies ini berkembang biak secara cepat, merusak rantai makanan sungai, dan menghilangkan keberagaman hayati yang sebelumnya menjadi ciri khas wilayah ini. Bagi Arief, ini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap warisan budaya dan alam yang ia cintai.
Nostalgia Masa Kecil yang Tergerus Sisik Keras
Dua puluh tahun silam, suara gemercik air Kali Ciliwung adalah simfoni kegembiraan bagi Arief kecil. Ia masih ingat betul aroma air yang segar dan tempat ia melepas seragam sekolah untuk menceburkan diri hingga magrib menjemput. Saat itu, jala ayahnya selalu pulang dengan membawa “harta karun” lokal, seperti ikan baung yang gemuk atau tawes yang berkilau perak.
Namun, kini situasi berbeda. Ikan asli hampir tidak lagi ditemukan. Yang ada hanyalah ikan sapu-sapu yang menyebar luas. Arief mengungkapkan bahwa ia mulai menyadari perubahan ini sejak usia TK ketika ia ikut ayahnya menangkap ikan. Kini, ia merasa nostalgia masa kecilnya berubah menjadi keresahan ekologis yang harus segera diatasi.
Bertarung di Kedalaman, Bersuara di Layar Kaca Digital
Arief bukan sekadar orang lapangan yang pasrah pada keadaan. Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Indraprasta (Unindra) ini memilih jalan unik dengan menggabungkan keberanian fisik dan kekuatan narasi digital. Setiap hari, ia menyelam, merogoh lubang-lubang di tebing sungai, dan menangkap ikan sapu-sapu satu per satu.
Aksi heroik ini ia abadikan melalui lensa kamera. Secara otodidak, ia mempelajari seni videografi untuk mengisi akun Instagram-nya, @ariefkamarudin. Melalui layar ponsel, ia ingin dunia tahu bahwa Ciliwung punya masalah yang lebih gelap daripada sekadar tumpukan sampah plastik.
Harapan di Balik Gatal di Sekujur Tubuh
Tak jarang, air sungai yang tercemar membuat kulit pria berambut panjang ini meradang hebat. Namun, rasa gatal itu kalah oleh rasa cintanya pada sungai yang hanya berjarak 20 meter dari rumahnya. Arief membayangkan sebuah masa depan di mana pemerintah tidak hanya sekadar memberikan “respons positif” di atas kertas, tetapi aksi konkret di atas air.
Ia memimpikan para peneliti turun tangan untuk mengubah populasi “monster” sapu-sapu ini menjadi sesuatu yang berguna—pupuk organik atau produk bernilai ekonomi lainnya. “Kalau bisa dimanfaatkan, itu bisa jadi lapangan pekerjaan bagi banyak orang,” harap Arief.
Panggilan untuk Ciliwung
Cerita Arief adalah pengingat bahwa pahlawan lingkungan tidak selalu memakai jubah. Terkadang, mereka adalah pria biasa yang rela kuku-kukunya kotor oleh lumpur sungai demi memastikan generasi mendatang masih bisa melihat ikan asli Indonesia berenang di rumahnya sendiri.
Metode yang ia gunakan tampak brutal bagi sebagian orang: menyelam, merogoh celah tanah di dinding sungai, lalu memutus leher ikan untuk memusnahkannya. Ia mengakui praktik tersebut tidak nyaman, tetapi menegaskan itu lah yang ia temukan ampuh untuk menekan jumlah sapu-sapu di titik-titik kritis.
Di sisi lain, ia aktif mencari cara alternatif — pemanfaatan ekonomis hasil tangkapan menjadi pupuk, pakan ternak, atau produk olahan — agar pemberantasan dapat terkombinasi dengan nilai ekonomi yang memberi manfaat bagi warga setempat.
Menuryut Arief, caranya bukan sekadar protes terhadap spesies asing, melainkan upaya mempertahankan memori kolektif, cara hidup yang dulu tergantung pada sungai. “Sungai itu ruang hidup yang membentuk saya,” ujarnya.
Ia melihat pekerjaannya sebagai warisan untuk generasi berikut: bukan hanya membersihkan, tetapi memulihkan fungsi ekologis agar anak-cucu kelak masih dapat berlari menuju tepi sungai seperti dulu.
Arief mengatakan atas apa yang dilakukannya beberapa pihak berwenang pemerintahan mengaku tertarik ikut serta. Kontak dengan dinas, audiensi kecil, bahkan permintaan data praktis ke peneliti sudah dilakukan. Respons positif datang, tetapi ia menegaskan bahwa langkah lebih konkret harus segera dijalankan: studi populasi, uji paternitas sumber introduksi, program pengendalian terukur, serta kampanye edukasi untuk mencegah pelepasan ikan non-lokal ke lingkungan.
Ia tahu jalannya panjang. Mengubah persepsi publik tentang isu yang “tak tampak” seperti ikan invasif lebih sulit dibanding menggalakkan gerakan bersih sampah yang sudah populer. Namun perjuangannya menunjukkan satu hal sederhana: perubahan dimulai dari orang yang peduli. Dengan kamera, jala, dan keberanian, ia mencoba menyalakan pemahaman baru tentang arti sungai.
Kisahnya bukan hanya profil individu heroik; ini undangan bagi pembuat kebijakan, peneliti, aktivis, dan warga kota: dengarkan suara dari bantaran, validasi data lapangan, dan bangun strategi terintegrasi.
Di akhir pertemuan dengan Warta Kota, Arief tersenyum sederhana. “Saya ini cuma orang biasa, orang lapangan. Tapi saya berharap suara ini menemukan muara — bukan hanya di feed media sosial, tetapi di kebijakan yang memastikan Ciliwung kembali hidup untuk semua,” kata Arief seakan berpesan.