Tidur Sri Tak Nyenyak Karena Khawatir Longsor Susulan

Hendra Susanto
6 Min Read

Peristiwa Longsor di Semarang dan Salatiga

Sri Sumarsini (70) hanya bisa duduk bersama keluarganya di ruang tamu rumahnya di Dusun Samirono RT 10 RW 02, Desa Samirono, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada Sabtu (6/12/2025) siang. Sesekali perempuan tua itu melongok ke dua ruangan di sisi rumah, ruang makan dan kamar tidur anaknya, yang kini temboknya hancur. Tembok rumahnya bolong menganga. Batu-batu dari material talut yang longsor masih berserakan di samping rumah, menjadi saksi bagaimana suara “brum” yang dia dengar sehari sebelumnya mengubah ketenangan hidupnya.

Rumah Sri berada di lereng kawasan Gunung Merbabu. Tepat di samping rumahnya, berdiri rumah tetangga yang posisinya lebih tinggi sekitar tiga meter. Di antara kedua rumah itu berdiri talut, yang selama ini menguatkan struktur tanah. Namun, Jumat (5/12/2025) siang, setelah hujan yang tak henti mengguyur sejak pagi, talut itu retak-retak lalu ambruk. Materialnya meluncur turun dan menghantam tembok rumah Sri. Saat kejadian, Sri tengah berada di ruang tamu. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu karena saat longsor terjadi kamar anak Sri dalam keadaan kosong.

“Saya awalnya dengar suara pelan-pelan dari talut, keluarga juga sadar. Tiba-tiba ada suara gemuruh, ‘Brum!’, kencang sekali, setelah itu asap pekat dari debu reruntuhan langsung di mana-mana,” kata Sri kepada Tribun Jateng. Sri mengaku, rumahnya rusak karena tertimpa material bangunan dari rumah tetangganya, Budiono. “Rumah saya letaknya di bawah rumah Pak Budiono, sekitar lima meter,” ujar Sri.

Peringatan Awal dan Respons Warga

Sebelumnya, pada Jumat siang, Budiono, pemilik rumah yang talut dan pagarnya ambrol, memberi tahu bahwa tanah samping rumahnya mulai retak-retak, termasuk pagar dari batako. Selain itu Sri dan anggota keluarganya untuk sementara tidak beraktivitas di sekitar atau di bawah pagar rumah yang retak tersebut. Merasa perlu waspada, Sri segera membagikan informasi tersebut ke grup Whatsapp (WA) RT karena di samping rumah terdapat jalur warga yang sering dilalui. Namun, hanya 10 menit setelah peringatan itu terkirim, tiba-tiba talut longsor.

Malam pertama setelah kejadian, dia hanya bisa terjaga di ruang tamu, lalu berpindah ke ruang belakang. Tidur pun, lanjut Sri, tak pernah benar-benar tidur. “Saya tidurnya tidak nyenyak, khawatir sekali kalau ada susulan lagi bagaimana. Malam-malam berikutnya ya tetap tidur di sini dan saya tidak mengungsi,” imbuh dia.

Bantuan dan Tanggung Jawab Pemerintah

Seusai kejadian, warga setempat bersama TNI–Polri, BPBD Kabupaten Semarang, serta relawan bergotong-royong membersihkan batuan dan tanah dari longsoran. Kepala Desa Samirono, Slamet Juriono menyatakan, longsor tersebut membuat warganya khawatir. Menurut dia, Samirono bukan wilayah yang tergolong rawan bencana. Talut milik warga yang ambrol dianggap lebih sebagai kejadian insidental akibat curah hujan tinggi beberapa hari terakhir.

“Kami dari pihak desa sudah koordinasi dengan BPBD, Polsek, kecamatan, dan dinas terkait,” jelas Slamet. “Ini ada warga yang mengalami kerugian material, jadi harus ada tanggung jawab pemerintah untuk mencari solusi terbaik ke depan,” lanjutnya. Dia menyebutkan anggaran desa untuk tanggap bencana sebenarnya ada, namun terbatas. “Sebelumnya desa kami relatif aman, jadi menganggarkan terlalu besar juga banyak pertimbangannya. Tapi, ini setidaknya ada sedikit yang bisa meringankan beban warga,” imbuhnya.

Longsor di Salatiga

Sehari sebelumnya, Kamis (4/12/2025), talut milik warga di Kampung Plompongan RT 02 RW 01, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, longsor. Peristiwa itu terjadi setelah hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Salatiga. Talut sepanjang 7 meter dan tinggi 2,5 meter tersebut tiba-tiba miring sebelum akhirnya runtuh dan menimpa area belakang rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, tetapi kerugian akibat longsor ditaksir mencapai Rp 7 juta.

Kapolsek Sidorejo, AKP Sarwoko menjelaskan, longsornya talut diduga dipicu tingginya intensitas hujan yang menyebabkan beban air meningkat dan memicu pergeseran tanah pada struktur talut. Dia mengungkapkan, anggota Polres Salatiga dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan warga setempat melakukan evakuasi material yang menimpa area teras salah satu rumah. Dia mengimbau, masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat curah hujan yang masih tinggi dalam beberapa hari terakhir.

“Apabila ada potensi bencana alam, segera lapor agar dapat segera diantisipasi,” kata Sarwoko. Pada Kamis itu juga, Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda serta kepala BPBD juga meninjau langsung dua rumah yang terdampak longsor. Kedua lokasi, yakni di Sinoman Tempel, Kelurahan Sidorejo Lor, dan Plumpungan, Kauman Kidul, keduanya masuk wilayah Kecamatan Sidorejo.

Robby menyatakan, warga menjadi prioritas utama. “Alhamdulillah, tidak ada korban yang terluka,” katanya. Untuk penanganan selanjutnya, Pemkot melalui Dinas Perkim akan menormalisasi talut yang ambrol agar kondisi lingkungan kembali aman dan stabil. Dia meminta agar pengamanan lokasi dan upaya pencegahan longsor susulan dilakukan secepatnya, termasuk pemasangan penahan sementara serta pembersihan material.


Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *