Kisah Haru Tiga Bersaudara Yatim Piatu di Cianjur
Tiga bersaudara yatim piatu di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tinggal di rumah gubuk yang tidak layak selama bertahun-tahun setelah kedua orang tua mereka meninggal. Kini, kebahagiaan telah menghiasi wajah Riswan (22), salah satu dari tiga bersaudara tersebut, setelah rumahnya diperbaiki.
Riswan tinggal bersama dua adiknya dalam gubuk reyot yang sempat ambruk akibat hujan lebat. Ia tak pernah menyangka bahwa mimpinya akan terwujud begitu cepat. Warga Kampung Sukatani, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukanagara, ini tidak sanggup menahan haru saat menerima kunci rumah barunya. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia karena sakit tahun lalu, Riswan menjadi tulang punggung keluarga. Kehilangan yang datang bertubi-tubi sempat membuatnya terpuruk dan nyaris putus asa. Namun, ia memilih tetap bertahan dan menjalani hidup demi dua adiknya yang kini bergantung padanya.
“Orang tua meninggal tahun lalu, pertama bapak dulu, sebulan kemudian ibu menyusul,” ucap Riswan kepada Kompas.com di rumahnya pada Jumat (16/1/2026). Ia menceritakan kondisi rumah peninggalan orang tuanya yang sudah tak layak huni. Bahkan, bangunan tersebut sempat ambruk diterjang hujan lebat.
Kendati demikian, ia tak berdaya untuk segera memperbaikinya. Meski sempat berupaya mengumpulkan biaya, penghasilannya yang pas-pasan membuat rencana tersebut tak kunjung terwujud. Lantaran ia hanya bekerja serabutan sebagai buruh tani.
“Makanya, waktu Pak RT datang ke rumah dan menyampaikan ada yang mau memperbaiki, saya hampir tidak percaya, sedih campur bahagia,” ucap Riswan. Kebahagiannya pun semakin berlipat, karena tak hanya tempat tinggalnya yang diperbaiki. Perabotan dan peralatan rumahnya pun kini serba baru.
Riswan bahkan mendapatkan bantuan sepasang domba jantan dan betina. Kini, Riswan menatap masa depan dengan harapan lebih besar. Ia berjanji akan menjaga rumah tersebut serta merawat ternak yang diberikan sebagai bekal kehidupannya ke depan.
“Terima kasih sebesar-besarnya, terima kasih,” ujar Riswan dengan mata berkaca-kaca. Rumah yang kini ditempati Riswan bersama kedua adiknya merupakan bantuan dari Polda Jawa Barat yang berkolaborasi dengan Polres Cianjur, pemerintah daerah, dan komunitas sosial Bagonk Mogok.
Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal Polisi Rudi Setiawan, menyerahkan langsung kunci rumah kepada Riswan didampingi kedua adiknya. Rudi berharap rumah tersebut tidak sekadar menjadi tempat berteduh, tetapi juga dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan, serta menjadi harapan baru bagi tiga bersaudara yatim piatu tersebut.
“Dengan kehadiran rumah yang lebih layak ini, kualitas hidup mereka diharapkan dapat meningkat,” ujar Rudi di lokasi, Jumat. Oleh karena itu, selain bantuan berupa rumah tinggal, juga diberikan bantuan hewan ternak berupa sepasang domba jantan dan betina yang dapat dirawat dan dikembangbiakan sebagai sumber penghidupan berkelanjutan.
“Semoga ternak ini dapat berkembang biak dan memberikan manfaat bagi anak-anak ini,” ucapnya. Rudi menjelaskan, rumah tersebut dipilih karena kondisinya sangat memprihatinkan dan dinilai tidak layak huni sehingga perlu dibangun kembali agar para penghuninya dapat tinggal di tempat yang lebih aman dan nyaman.
Kisah Mbah Samin yang Hidup Sendiri
Dalam kesendirian, Mbah Samin yang sudah berusia 70 tahun bertahan hidup dengan uang Rp300 ribu sebulan. Ia mampu bertahan hidup meski dengan cara yang tidak seperti orang-orang pada umumnya. Mbah Samin hidup tanpa listrik, air pun hanya menampung hujan pakai drum bekas. Ia tinggal di pinggir jalan Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, di sebuah gubuk lusuh berukuran sekitar empat kali empat meter.
Dinding gubuknya terbuat dari papan bekas yang telah menghitam dimakan usia. Sementara atap sengnya yang kusam tak mampu membendung suara nyaring setiap kali hujan turun. Bangunan sederhana tanpa pagar tersebut berdiri tegak di atas bukit, menyatu dengan alam, diapit beberapa tanaman pertanian.
Keberadaannya nyaris luput dari perhatian, seolah tenggelam di antara kehidupan dan kematian. Di dalam gubuk Mbah Samin tidak ada sekat yang jelas. Ruang tidur, dapur, dan ruang duduk berhimpitan dalam satu area sempit. Tanpa aliran listrik, sebuah lilin menjadi penerang di malam hari.
Kebutuhan air bersih dipenuhi dari satu drum penampungan air hujan, cukup sekadar untuk membasuh diri maupun memasak. Samin, yang lahir pada 17 April 1955, adalah perantau asal Madura yang telah puluhan tahun menjejakkan kaki di Samarinda. Rumah kecilnya berlokasi di kawasan Podo Rukun RT 28, sebuah area yang dahulu masih berupa tanah merah dan belum tersentuh aspal.
“Dulu belum ada kuburan ini,” ujar Mbah Samin pada Minggu (11/1/2026), dikutip dari Kompas.com. Ia mengenang masa awal tinggal di kawasan itu, ketika akses jalan masih sulit dan lingkungan sekitar sepi. Seiring waktu, wilayah tersebut berubah: jalan terbuka, permukiman tumbuh, dan kini sebuah permakaman berdiri tepat di depan rumahnya.
Rumah sederhana tersebut bukanlah hasil program bantuan pemerintah, melainkan buah kepedulian seorang tokoh masyarakat setempat. Tergerak oleh kondisinya, sang tokoh membiayai pembangunan rumah tersebut, termasuk memanggil tukang dan memastikan Mbah Samin memiliki tempat tinggal yang layak. Sebagian material bangunan berasal dari bongkaran rumah lama.
“Kalau dihitung-hitung, mungkin habis lima sampai enam juta. Saya bilang dari awal, saya tidak punya uang. Tidak usah dibayar,” kata Mbah Samin. Tanpa perjanjian atau cicilan, bantuan tersebut datang murni dari hati.
“Tidak rugi. Allah yang lebih tahu,” kata tokoh itu seperti yang ditirukan Mbah Samin. Bagi Mbah Samin, rumah tersebut lebih dari sekadar tempat berteduh. Rumah tersebut adalah pengingat bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada tangan-tangan yang bersedia terulur untuk membantu tanpa banyak tanya.
Mbah Samin menjalani hidup seorang diri, tanpa istri. Anak yang pernah dianggapnya sebagai darah daging, kini harus menjalani hukuman penjara. Saudara-saudaranya pun tersebar, sebagian di Madura, sebagian di luar daerah. “Tidak ada siapa-siapa,” ucapnya singkat.
Hari-harinya dilalui tanpa kendaraan pribadi. Sepeda motor yang dulu menjadi andalannya telah terjual seharga Rp1,4 juta untuk melunasi tumpukan utang. Mbah Samin meminjam uang untuk berobat akibat sakit. “Daripada saya mati masih punya utang. Lebih baik saya tidak punya motor,” ucapnya.
Kini, ketika perlu berpergian atau berobat, Samin bergantung pada kebaikan tetangga atau warga sekitar yang bersedia mengantarnya. Mbah Samin mengidap asam urat dan pernah menderita penyakit kulit yang cukup parah. Salah satu kakinya juga pernah tertabrak mobil, membuatnya kesulitan berjalan jauh.
“Kalau jalan jauh, harus berhenti. Kadang duduk dulu di pinggir jalan,” tuturnya. Sebulan Rp300 ribu. Sumber penghidupannya berasal dari bertani kecil-kecilan. Ia menanam buncis di lahan terbatas, hasilnya dijual kepada pengepul yang datang menggunakan kendaraan bak terbuka.
Panen biasanya datang setiap empat hingga lima hari. Jika kondisi sedang bagus, ia bisa meraup Rp75.000 dalam sehari, namun pendapatan tersebut tidak selalu stabil. Dalam sebulan, penghasilannya rata-rata hanya berkisar Rp200.000 hingga Rp300.000, yang seringkali habis untuk beli makan.
Menu makan Samin pun sangat sederhana. Singkong rebus menjadi santapan utama, daunnya dimasak sayur atau dihancurkan agar terasa lebih mengenyangkan. Ikan, ayam, atau telur jarang tersaji di meja makannya. “Kalau makan ikan, biasanya kalau ada warga yang pulang kerja. Itu juga jarang. Paling sebulan sekali,” ujarnya.
Beras yang ia konsumsi sebagian merupakan bantuan dari warga sekitar, namun Mbah Samin tetap berusaha membeli beras sendiri ketika bantuan tak lagi ada. Bantuan sosial dari pemerintah, seperti bantuan langsung tunai (BLT) atau pangan, tidak pernah ia terima secara langsung. “Saya dengar orang-orang dapat. Saya tidak,” katanya. Ia memiliki kartu BPJS, namun alamat untuk berobat terlampau jauh dari jangkauannya, menyulitkan akses terhadap layanan kesehatan.
Meskipun telah memasuki usia senja, Mbah Samin tetap memilih untuk bekerja selama tubuhnya masih sanggup. Mencangkul, membersihkan kebun, dan pekerjaan fisik ringan ia lakukan jika diminta. Baginya, bekerja bukan semata urusan uang, ini adalah tentang harga diri. “Daripada berdiri di depan rumah orang. Saya tidak mau jadi pengemis.” Prinsip itu ia pegang teguh sejak lama.
Selama tubuh masih bisa digerakkan, ia akan berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketika ditanya harapannya kepada pemerintah, Samin tidak meminta bantuan besar atau fasilitas khusus. “Mudah-mudahan RT ingat,” ujarnya pelan. Ia tidak mengetahui siapa Gubernur atau Wali Kota saat ini. “Siapa ya? Saya enggak tahu apa-apa, TV pun saya enggak ada, ponsel apalagi,” ucapnya.
Ia hanya tahu presiden karena ikut memilih. Di luar itu, hidup Mbah Samin berjalan sebagaimana adanya: bangun pagi, mengurus kebun, menunggu panen, menunggu orang lewat, menunggu hari berganti. Di rumah kayu berukuran empat kali empat meter yang berdiri tegak di depan pemakaman Katolik, Mbah Samin menjalani hidup dengan cara yang sama setiap hari: bertahan sendiri di usia senja, dengan sisa tenaga yang ada, dan harapan yang sederhana.