Banjir di Klidang Lor, Batang: Masalah yang Terus Berulang
Banjir kembali melanda permukiman warga di Desa Klidang Lor, Kecamatan/Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kejadian ini terjadi pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, dan meskipun air cepat surut, dampaknya masih terasa hingga hari berikutnya. Warga menghadapi tantangan besar dalam membersihkan endapan lumpur yang menyisakan bau dan noda membandel.
Sujak (56), salah satu warga setempat, terlihat mulai membersihkan lumpur di rumahnya sejak pagi hari. Ia menggunakan sapu lidi untuk menyapu lumpur tipis yang masih menempel di lantai rumahnya di Dukuh Temurejo, RT 05 RW 02. Lumpur itu dibawa oleh banjir yang masuk ke permukiman warga pada sore hari.
“Kalau di sini, banjir itu tahunan, Pak. Tapi yang semalam itu nggak disangka-sangka,” kata Sujak. Banjir datang tiba-tiba meski hujan belum lama berlangsung. Dalam hitungan menit, jalan kampung berubah menjadi aliran deras.
Banjir juga masuk ke rumah anggota DPRD Batang Nur Untung Slamet. “Begitu keluar rumah, air sudah menggenangi jalan. Tidak seperti biasanya yang kelihatan mau banjir dulu,” ujarnya. Menurut Nur Untung, sekitar 60 persen rumah warga Klidang Lor terendam, dengan wilayah paling terdampak berada di RW 02 dan RW 03.
Di kawasan RT 04 dan RT 05 RW 02, ketinggian air di jalan bahkan mencapai sekitar 1,2 meter. Sementara, di dalam rumah warga, ketinggian air rata-rata 50-60 sentimeter. Di rumah Nur Untung Slamet sendiri, air setinggi 40 sentimeter masuk hingga ruang dalam. “Di rumah kakak saya, malah sampai 70 sentimeter sampai sempat mengungsi,” katanya.
Air mulai masuk ke rumah sekitar pukul 18.15 WIB dan baru berangsur surut menjelang pukul 20.10 WIB. Banjir dari Gunung dan Laut
Bagi warga pesisir di Klidang Lor, banjir bukan hanya soal air hujan dari gunung tetapi juga dari laut. “Kalau dari laut, biasanya cuma 10–15 sentimeter. Tapi kalau kiriman dari gunung, nggak ada batasnya,” kata Sujak. Tahun lalu, banjir bandang bahkan sempat mencapai lebih dari satu meter.
Seusai banjir, aktivitas warga nyaris seragam, bersih-bersih. Mayoritas warga Klidang Lor berprofesi sebagai nelayan. Cuaca laut yang masih bergelombang membuat banyak dari mereka memilih bertahan di rumah, membersihkan sisa endapan lumpur yang jika dibiarkan akan meninggalkan noda membandel.
“Kalau nggak langsung dibersihkan, nanti bekasnya susah hilang. Tenaganya bisa dua kali,” ujar Nur Untung Slamet. Data dari BPBD Batang menunjukkan bahwa banjir di Klidang Lor berdampak pada 600 kepala keluarga yang terdiri dari 2.400 jiwa. Selain di Klidang Lor, banjir juga merendam wilayah Karangasem Utara, mencakup enam RW dengan total 2.946 KK atau 11.784 jiwa.
Ketinggian air bervariasi, antara 10 hingga 120 sentimeter. Di Klidang Lor, sebanyak 30 warga sempat mengungsi di Masjid Al Ikhlas RW 05 sebelum kembali ke rumah masing-masing pada malam hari.
Pendangkalan Sungai Hingga Parkir Kapal
Menurut warga, banjir makin parah akibat pendangkalan sungai dan deretan kapal yang parkir di alur sungai. “Sungai sudah dangkal. Debit air sama, tapi tempatnya menyempit. Ditambah kapal-kapal mangkrak dan kapal baru dari galangan yang parkir di sungai, air jadi terhambat,” kata Nur Untung Slamet.
Ia menilai, selama tidak ada penataan serius, banjir akan terus menjadi agenda tahunan. Bahkan ia mencatat, pada awal 2025 lalu, banjir sempat terjadi hingga 11 kali dalam kurun Januari–Februari. Nur Untung Slamet mendorong Pemkab Batang segera mengambil langkah tegas.
“Harus ada aturan jelas. Kapal yang sudah diturunkan ke sungai harus segera diserahkan ke pemiliknya dan dibawa keluar. Jangan ditahan di sini terus. Yang untung segelintir, tapi yang terdampak hampir 70 persen warga Klidang Lor,” ucapnya.
Sementara Sujak berharap, banjir tak lagi menjadi bencana rutin di wilayahnya. “Kami ini sudah biasa kebanjiran. Tapi tetap saja capek. Harapannya, ya sungainya dibersihkan, kapal-kapal itu ditata. Supaya air bisa lancar ke laut,” harapnya.