Pesawat tempur rahasia AS jatuhkan drone Iran di dekat kapal induk USS Abraham Lincoln

Eka Syaputra
6 Min Read

Insiden Drone Iran di Laut Arab

Pada Selasa (3/2/2026), sebuah drone Iran yang disebut bertindak agresif berhasil ditembak jatuh oleh jet tempur siluman Amerika Serikat. Insiden ini terjadi saat kapal induk AS USS Abraham Lincoln berlayar sekitar 800 kilometer dari pesisir Iran, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Jet tempur F-35C yang berbasis di USS Abraham Lincoln melakukan tindakan bela diri untuk melindungi kapal induk serta seluruh personel di dalamnya. Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom), Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa drone tersebut, yang diidentifikasi sebagai Shahed-139, terus mendekati kapal induk meskipun pasukan AS telah melakukan langkah de-eskalasi.

USS Abraham Lincoln, kapal induk kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS, kembali dikerahkan ke kawasan Timur Tengah sejak Januari 2026 seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran. Centcom juga mengonfirmasi adanya insiden terpisah pada hari yang sama di Selat Hormuz, di mana dua kapal Iran dan satu drone dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera Amerika Serikat, M/V Stena Imperative.

Kapal dan drone Iran tersebut disebut bergerak dengan kecepatan tinggi dan mengancam akan menaiki serta merebut kapal tanker itu. Menanggapi situasi tersebut, kapal perusak AS USS McFaul dikerahkan untuk memberikan perlindungan, dengan dukungan dari Angkatan Udara AS. Hawkins menyatakan bahwa M/V Stena Imperative kini telah berlayar dengan aman.

Pernyataan Presiden Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran. Ia mengancam akan melancarkan aksi militer dan mengirim armada kapal perang tambahan ke Timur Tengah, menyusul gelombang protes anti-pemerintah di Iran yang berujung pada penindakan keras oleh otoritas setempat bulan lalu. Meski demikian, Trump menyatakan harapannya agar Amerika Serikat dan Iran masih dapat menemukan jalan keluar melalui jalur diplomasi.

Namun, ia juga memperingatkan potensi eskalasi jika kesepakatan tidak tercapai. “Hal-hal buruk akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai,” ujar Trump, seraya menegaskan bahwa Washington tetap terbuka untuk negosiasi.

Persiapan Negosiasi Diplomasi

Iran sendiri sebelumnya menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi dari Amerika Serikat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk menempuh jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Pezeshkian mengaku telah menginstruksikan jajaran diplomatinya untuk mengupayakan negosiasi yang adil di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan tersebut.

Langkah ini diambil saat Teheran dan Washington dilaporkan tengah bersiap mengirim utusan tingkat tinggi ke Istanbul, Turkiye. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk melakukan pembicaraan krusial mengenai program nuklir Iran pada akhir pekan ini. Melalui unggahan di media sosial X, Pezeshkian menekankan bahwa dialog hanya dapat terwujud jika tercipta lingkungan yang kondusif.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihak musuh kini mulai membicarakan diplomasi, meskipun Teheran sebenarnya selalu terbuka terhadap opsi tersebut. “Musuh-musuh Iran berbicara tentang diplomasi hari ini, padahal Iran selalu siap untuk opsi ini, asalkan ada rasa saling menghormati dan pertimbangan terhadap kepentingan masing-masing,” ujar Araghchi saat mengunjungi makam Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Komunikasi Intensif dengan Teheran

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal kuat mengenai adanya komunikasi intensif dengan Teheran. Hal ini disampaikan Trump saat armada tempur AS yang terdiri dari kapal induk USS Abraham Lincoln serta kapal-kapal perusak mulai mengepung kawasan tersebut sebagai respons atas tindakan keras Iran terhadap demonstran domestik.

“Kami memiliki kapal-kapal yang sedang menuju Iran sekarang, kapal-kapal besar—yang terbesar dan terbaik—dan kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Kita akan lihat bagaimana hasilnya,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Trump menambahkan dirinya berharap dapat mencapai kesepakatan baru untuk menghentikan produksi uranium tingkat tinggi dan program rudal balistik Iran.

Berdasarkan laporan yang beredar, utusan Trump yakni Steve Witkoff dan Araghchi dijadwalkan bertemu di Istanbul pada Jumat (6/2/2026) mendatang. Pertemuan ini diperkirakan akan dihadiri pula oleh perwakilan dari Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Mesir. Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyebutkan, detail tahapan diplomatik tersebut sedang difinalisasi.

Gejolak Domestik di Iran

Di satu sisi, situasi di Teheran semakin terdesak menyusul gejolak domestik. Para aktivis mengklaim lebih dari 30.000 orang tewas akibat tindakan keras pemerintah terhadap demonstran sejak Desember lalu. Namun, pemerintah Iran merilis angka resmi sebanyak 3.117 korban jiwa, termasuk dari pihak keamanan.

Reuters melaporkan bahwa pemerintah Iran merasa khawatir jika serangan militer terbatas dari AS justru akan memicu revolusi rakyat yang sudah berada di titik didih akibat devaluasi mata uang dan inflasi tinggi. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kesiapannya menghadapi segala skenario jika Iran melakukan serangan balasan.

“Siapa pun yang menyerang kami akan menghadapi konsekuensi yang tak tertahankan,” tegas Netanyahu setelah bertemu dengan pejabat Pentagon pekan lalu.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *