Dari lukisan SBY, AHY bantu warga di gereja

Ratna Purnama
5 Min Read

Kehadiran Menteri Infrastruktur dalam Momentum Paskah

Di sebuah sudut gereja di Jakarta Barat, suasana Paskah terasa berbeda. Bukan hanya karena doa-doa yang dipanjatkan, tetapi juga karena hadirnya kepedulian yang turun langsung menyapa jemaat. Di tengah kesederhanaan ibadah, ratusan paket sembako dibagikan, membawa harapan kecil di tengah kehidupan yang tak selalu mudah.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hadir di Gereja Santo Andreas, Kedoya, Kebon Jeruk, untuk menyalurkan bantuan kepada jemaat. Namun, yang membuat momen ini terasa lebih dalam bukan hanya bantuan yang diberikan, melainkan cerita di baliknya.

Bantuan itu, kata AHY, berasal salah satunya dari hasil lelang lukisan sang ayah, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah karya seni berjudul “Kuda Api”, yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi jembatan kepedulian.

Ada sesuatu yang terasa hangat dari alur itu, dari tangan seorang ayah yang melukis, lalu dilelang, hingga akhirnya menjelma menjadi bantuan yang diterima langsung oleh masyarakat. Seni yang biasanya dinikmati secara visual, kini berubah menjadi manfaat nyata yang bisa dirasakan.

Bagi sebagian jemaat, bantuan itu mungkin terlihat sederhana. Namun di balik paket sembako yang dibawa pulang, tersimpan rasa diperhatikan. Rasa bahwa di tengah kesulitan ekonomi, masih ada tangan yang terulur.

Seorang jemaat terlihat tersenyum saat menerima bantuan tersebut. Ia tidak banyak berkata, hanya mengangguk pelan. Namun dari sorot matanya, tersirat rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi AHY, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia menegaskan bahwa kehadiran dalam kegiatan sosial adalah bagian dari upaya untuk terus menjadi solusi bagi masyarakat. Bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata.

Momentum Paskah pun menambah makna tersendiri. Sebuah perayaan tentang pengorbanan, kasih, dan harapan, yang kini diterjemahkan dalam bentuk bantuan nyata kepada mereka yang membutuhkan. Nilai-nilai itu seolah hidup dalam tindakan sederhana yang dilakukan hari itu.

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersiap menyelesaikan pembuatan lukisan saat acara Dialog Rakyat dan Tasyakuran HUT ke-24 Partai Demokrat di DPP Partai Demokrat, Jakarta, Selasa (9/9/2025). Pada usia ke-24, Partai Demokrat terus berkomitmen menghadirkan solusi, menjaga demokrasi, serta mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera, serta mendukung kesuksesan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. – (/Prayogi)

Lukisan karya Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pameran Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 15, di Hotel Grandkemang Jakarta, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (10/10/2025). Pameran ICAD 2025 kali ini mengusung tema Earth Society yang mengajak para pecinta seni untuk menelisik hubungan antara manusia dan alam. Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono turut memajang lima karya lukisnya berjudul The Gaza, The Extreme Human Suffering (2025), Stop Forest Fire (2025), The Beauty of Beach Rocks (2023), Sunset Over the Brooklyn Bridge (2024), Small Forest in Cisarua (2025) dalam pameran tersebut. Selain itu sebanyak bersama 50 pameris lainnya dari lintas disiplin turut ambil bagian seperti karya dari fotografer perempuan asal Aceh Riska Munawarah yang menampilkan potret petani kopi perempuan berjudul Ine Kewe dan karya instalasi kamar hotel dari seniman Rein Maychaelson berjudul Symbiosis. – (/Thoudy Badai)

Di tengah pembagian bantuan, tidak ada jarak yang terasa kaku. AHY terlihat menyapa, berbincang, dan mendengarkan. Interaksi yang singkat, tetapi cukup untuk menghadirkan kedekatan.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya sebuah kegiatan bakti sosial. Namun bagi mereka yang menerima, ini adalah bentuk perhatian yang nyata. Sesuatu yang hadir di waktu yang tepat, di saat kebutuhan terasa paling dekat.

AHY juga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur yang ia dorong harus benar-benar berdampak pada kehidupan masyarakat. Tidak sekadar berdiri sebagai proyek, tetapi menjadi solusi yang mampu meningkatkan kesejahteraan.

Dalam pandangannya, pembangunan harus menyentuh hal-hal mendasar, ketahanan pangan, energi, air, pendidikan, hingga kesehatan. Semua itu, pada akhirnya, kembali pada satu tujuan: menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.

Namun di balik visi besar itu, ada pesan sederhana yang terasa kuat hari itu. Bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia justru dimulai dari kepedulian kecil, dari sebuah lukisan, dari niat berbagi, dari langkah mendekat kepada mereka yang membutuhkan.

Di Gereja Santo Andreas, cerita itu terangkai dengan tenang. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa sorotan berlebihan. Hanya ada pertemuan antara mereka yang memberi dan mereka yang menerima, dalam suasana yang penuh makna.

Dan mungkin, di situlah esensi sesungguhnya. Bahwa kepedulian yang tulus tidak selalu harus terlihat besar. Ia cukup hadir, menyentuh, dan meninggalkan jejak di hati mereka yang merasakannya.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *