Produsen Bolu Cupu Kayuagung Kena Dampak Kenaikan Harga Plastik 100 Persen

Bayu Purnomo
5 Min Read

Dampak Kenaikan Harga Plastik pada UMKM di Kabupaten OKI

Kenaikan harga plastik yang terjadi akhir-akhir ini mulai berdampak signifikan pada para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Salah satu contohnya adalah produsen Bolu Cupu Ning Mas Kalung, yang terpaksa menaikkan harga jual produknya untuk mengatasi kenaikan biaya kemasan mika.

Bolu Cupu adalah salah satu kuliner tradisional yang paling ikonik dari Kayuagung, OKI. Makanan ini dikenal dengan tekstur lembut, rasa manis, serta proses pembuatan yang masih menggunakan metode tradisional. Namun, kini produsen tersebut harus menghadapi tantangan baru akibat kenaikan harga plastik yang sangat drastis.

Menurut pemilik UMKM Bolu Cupu Hikmah, Ning Mas, kenaikan harga jual dimulai sejak bulan Ramadan lalu. “Harga per cup isi 25 buah bolu naik dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan harga mika atau wadah plastik yang digunakan sebagai kemasan utama bolu cupu.

Ning Mas menyatakan bahwa kenaikan harga jual tidak hanya terjadi pada satu jenis produk, tetapi merata untuk semua varian. “Baik kemasan kecil maupun besar, semua naik Rp5.000. Ini karena harga cup mika memang sudah naik lebih dulu,” katanya.

Meski merasa berat hati, Ning Mas mengaku tidak punya pilihan lain. “Biaya operasional dan harga bahan baku lainnya juga tidak kunjung turun. Jika tidak dinaikkan, kami tidak bisa menutupi biaya produksi,” imbuhnya.

Setiap harinya, dapur Bolu Cupu Hikmah tetap bekerja keras dengan menghabiskan puluhan kilogram telur, tepung terigu, dan gula pasir untuk memenuhi permintaan pasar. Meskipun harga naik, penjualan tetap stabil dan ramai seperti biasa. “Alhamdulillah, penjualan masih tetap ramai dan stabil seperti biasa. Pelanggan tetap banyak yang beli meskipun harga naik Rp5.000,” kata Ning Mas dengan nada syukur.

Kenaikan Harga Plastik yang Menyentuh Berbagai Jenis Produk

Tidak hanya pada kemasan bolu, kenaikan harga plastik juga dirasakan oleh para pedagang lainnya. Dalam pemberitaan sebelumnya, kenaikan harga komoditas plastik mencapai 100 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir. Contohnya, kantong plastik ukuran kecil yang sebelumnya dijual Rp35.000 per pak kini naik menjadi Rp70.000 per pak. Sedangkan kantong plastik kresek ukuran besar dari harga Rp55.000 naik menjadi Rp110.000 per pak.

Andre, salah satu pedagang plastik di Pasar Kayuagung, mengeluhkan kenaikan harga yang sangat signifikan. “Kenaikannya sangat signifikan. Kami sebagai pedagang bingung mau jualnya bagaimana lagi,” keluhnya.

Selain kantong kresek, mika untuk wadah bolu dan bungkus minuman juga ikut-ikutan naik drastis. Hal ini membuat modal usaha semakin membengkak. “Bukan cuma kresek, mika untuk wadah bolu dan bungkus minuman juga ikut-ikutan naik drastis. Ini benar-benar membuat modal usaha membengkak,” tambahnya.

Penyebab Kenaikan Harga Plastik

Menurut informasi yang diperoleh, kenaikan harga plastik disebabkan oleh konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah. Bahan baku plastik, yaitu naphtha, didatangkan dari daerah tersebut. Naphtha kemudian diproses menjadi etilena dan profilena, yang selanjutnya diekspor ke pabrik-pabrik termasuk Indonesia untuk dijadikan berbagai macam bahan plastik.

Kepala Dinas Perdagangan OKI, Syahrul, melalui Kabid Pengembangan Perdagangan, Juairiyani, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik terjadi sejak awal April 2026. “Terpantau kenaikan harga plastik sejak awal bulan yang dirasakan oleh pedagang di pasar tradisional dan toko penjual plastik di OKI,” ujarnya.

Juairiyani menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik juga disebabkan oleh gangguan distribusi bahan baku akibat konflik geopolitik. “Karena konflik geopolitik, distribusi bahan baku menjadi terganggu dan akibat nilai tukar rupiah membuat harga impor menjadi naik, hingga adanya peningkatan permintaan,” bebernya.

Dampak pada UMKM dan Pedagang

Dengan adanya kenaikan harga plastik, Juairiyani mengatakan dampaknya sangat signifikan pada keuntungan atau penghasilan para pedagang makanan, minuman, dan UMKM. “Sudah pasti berdampak bagi pedagang UMKM karena mereka memakai kemasan plastik untuk bungkus makanan dan minuman.”

“Karena biaya membeli plastik kini sangat membebani dan menambah pengeluaran bagi mereka,” tutupnya.


Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *