Mengapa Arab Saudi dan UEA Berbeda Pandangan dalam Konflik Yaman?

Rizal Hartanto
6 Min Read

Ketegangan baru muncul di Yaman setelah Arab Saudi melakukan serangan udara terhadap pasukan separatis Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA). Serangan ini terjadi pada Selasa (30/12/2025) pagi dan menandai dimulainya babak baru konflik di Yaman. Dua sekutu utama dalam koalisi anti-Houthi kini justru berada di sisi yang berlawanan.

Sebagaimana dilaporkan, STC adalah kelompok separatis yang ingin memisahkan Yaman Selatan dari negara tersebut. Belakangan ini, kelompok tersebut telah memperluas wilayah kekuasaannya di selatan, termasuk merebut kota pelabuhan strategis Mukalla di Provinsi Hadramout. Wilayah ini sebelumnya berada di bawah kendali pasukan yang bekerja sama dengan Riyadh.

Arab Saudi menganggap tindakan STC sebagai tindakan yang melampaui batas. Pesawat tempur koalisi pimpinan Riyadh kemudian menyerang target di Mukalla dengan alasan mencegah masuknya senjata berat dari UEA ke tangan pasukan separatis. Pernyataan resmi Saudi menyebutkan bahwa awak kapal telah mematikan sistem pelacakan dan menurunkan sejumlah besar senjata serta kendaraan tempur untuk mendukung STC. Riyadh menegaskan bahwa serangan dilakukan secara terbatas dan pada malam hari agar tidak terjadi kerusakan tambahan.

Retaknya hubungan antara Riyadh dan Abu Dhabi
Serangan udara ini menunjukkan meningkatnya friksi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Kedua negara sebelumnya berada dalam satu barisan untuk melawan kelompok Houthi yang didukung Iran. Namun, kini hubungan mereka mulai retak. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi langsung mengingatkan Abu Dhabi bahwa dukungan terhadap STC merupakan ancaman serius.

Riyadh menyebut langkah UEA sebagai ancaman terhadap keamanan nasional kerajaan serta terhadap stabilitas Republik Yaman dan kawasan. “Keamanan nasional adalah garis merah,” tegas pemerintah Saudi dalam pernyataan terpisah. Ketegangan meningkat setelah Rashad Al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, membatalkan perjanjian pertahanan dengan Uni Emirat Arab dan memerintahkan seluruh pasukan Emirat untuk meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam. Ia juga mengumumkan blokade udara dan laut selama 72 jam di seluruh pelabuhan dan perbatasan.

STC menyatakan “keprihatinan serius” atas serangan Saudi dan mengeklaim unit elit mereka di Hadramout menjadi sasaran langsung.

Perang proksi yang semakin rumit dan terancam membelah Yaman
Eskalasi terbaru ini menegaskan betapa rumitnya konflik Yaman, yang telah berubah menjadi ajang perebutan pengaruh regional. Di selatan, STC memperluas kendali di Hadramout dan Al-Mahra, wilayah kaya minyak dan memiliki pelabuhan penting. Di utara, Houthi tetap bertahan, termasuk di ibu kota Sanaa.

Perang saudara Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan memaksa Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi lengser dan mengungsi. Setahun kemudian, Arab Saudi membentuk koalisi negara Teluk, termasuk UEA, untuk memulihkan pemerintahan Hadi melalui serangan udara dan blokade laut. Namun, keterlibatan UEA yang juga mendukung kelompok separatis selatan seperti STC justru memperumit konflik.

Dewan Hubungan Luar Negeri menilai intervensi negara-negara Teluk telah menjadikan Yaman medan perang proksi regional yang memperparah krisis kemanusiaan. Rashad Al-Alimi memperingatkan bahwa ekspansi STC mengancam stabilitas internal Yaman dan keamanan kawasan. “Dalam keadaan apa pun, kemitraan dalam pemerintahan tidak boleh berubah menjadi pemberontakan atau pemaksaan kehendak dengan kekerasan,” ujarnya.

Para analis menilai, jika konflik ini terus berlanjut, Yaman berisiko terbelah secara de facto, sementara jalur vital perdagangan dan energi di Laut Merah, Laut Arab, dan Teluk Aden ikut terancam.

Peran UEA dan STC di Yaman Selatan
UEA telah lama memainkan peran penting dalam konflik Yaman melalui dukungannya terhadap STC. Selama bertahun-tahun, para pengamat menilai Abu Dhabi akan membatasi manuver Dewan Transisi Selatan (STC) dan mendorongnya ke arah kompromi politik. Opsi yang diperkirakan antara lain menunda deklarasi kemerdekaan atau bernegosiasi untuk otonomi yang lebih besar dalam kerangka Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC).

Namun, harapan itu tak sepenuhnya terwujud. STC justru memanfaatkan momentum politik dan dukungan UEA untuk memperluas pengaruhnya hingga akhirnya diakui secara formal sebagai aktor politik dengan kursi di PLC pada 2019.

Garis merah Arab Saudi dan eskalasi terbaru
Arab Saudi sejak awal memandang Yaman sebagai wilayah strategis dalam lingkup kepentingan keamanannya. Setelah kampanye militer besar-besaran melawan Houthi pada 2015 menuai kritik internasional, Riyadh beralih ke jalur diplomasi. Namun, dalam sebulan terakhir, UEA dinilai melampaui batas yang dianggap sebagai “garis merah” oleh Arab Saudi.

Puncaknya terjadi ketika Riyadh melancarkan serangan udara di pelabuhan Mukalla, menargetkan kendaraan militer yang disebut dikirim dari pelabuhan UEA untuk mendukung STC. Arab Saudi menegaskan sikapnya dengan pernyataan keras. “Setiap ancaman terhadap keamanan nasional adalah garis merah, dan kerajaan tidak akan ragu mengambil langkah yang diperlukan untuk menetralkannya,” kata otoritas Arab Saudi dalam keterangannya.

Taruhan politik, kepentingan ekonomi, dan risiko regional
Di balik dukungan UEA terhadap STC, tersimpan kepentingan strategis dan ekonomi jangka panjang, terutama di wilayah kaya sumber daya seperti Hadramaut dan Al-Mahra. Ekspansi cepat STC ke kawasan tersebut yang mencakup ladang minyak paling produktif mengejutkan Riyadh dan memicu tekanan diplomatik terhadap Abu Dhabi.

Meski UEA mengumumkan penarikan sebagian pasukannya, dukungan politik dan militer terhadap STC tetap berlanjut. Analis menilai konflik ini mencerminkan perbedaan mendasar visi Riyadh dan Abu Dhabi tentang masa depan Yaman. Ketegangan yang meningkat bahkan disebut memasuki fase berbahaya, berpotensi menyerupai krisis Teluk 2017. Di tengah retaknya hubungan dua kekuatan Teluk itu, kelompok Houthi diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan, menyaksikan musuh-musuh utamanya saling berhadapan.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *