Sejarah yang Tidak Dikisahkan
Ada kalanya sejarah berjalan seperti komedi gelam. Semua pemain masuk panggung dengan kostum megah, musik perang berkumandang, kamera televisi siap menyiarkan kemenangan. Tetapi tiba-tiba naskahnya berubah. Para aktor utama tampak bingung, penonton mulai bertanya-tanya, dan lampu panggung justru menyorot sesuatu yang selama ini disembunyikan.
Begitulah kira-kira nada yang muncul dari seorang jurnalis Israel bernama Alon Mizrahi ketika ia berbicara tentang perang terbaru antara Iran melawan blok Amerika Serikat dan Israel. Narasinya terdengar aneh di tengah pembungkaman — atau mungkin kebungkaman — media-media Barat mengenai rincian perang yang dimulai negeri mereka sendiri, Amerika Serikat, yang selama ini merasa paling jumawa dan unggul.
Alon Mizrahi bukan sosok sembarangan yang tiba-tiba muncul dari lorong gelap internet. Ia lahir di Israel dari keluarga Yahudi Mizrahi — yakni komunitas Yahudi Timur Tengah yang secara sejarah dan budaya jauh lebih dekat dengan dunia Arab dibandingkan dengan Yahudi Eropa. Ayahnya berdarah Arab, sementara ibunya berasal dari keluarga Yahudi Maroko. Karena latar itulah ia sering menyebut dirinya dengan istilah yang agak jarang terdengar dalam wacana politik Israel modern: seorang “Yahudi Arab”. Sebuah identitas yang di Israel sendiri sering terasa seperti paradoks.
Seperti banyak pemuda Israel lainnya, Mizrahi pernah menjalani wajib militer di Angkatan Bersenjata Israel (IDF). Pada masa mudanya ia bahkan dikenal memiliki pandangan politik yang cenderung kanan. Namun perjalanan hidup sering memiliki cara unik untuk membelokkan arah keyakinan seseorang. Setelah mengalami trauma pribadi — termasuk kematian saudaranya dalam kecelakaan motor — pandangan politiknya berubah secara drastis. Ia kemudian bergerak ke spektrum kiri radikal dan mulai mengkritik keras ideologi Zionisme, struktur kekuasaan negara Israel, serta cara negara itu memperlakukan rakyat Palestina.
Pada akhirnya ia memilih meninggalkan Israel dan menetap di Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Dari sana ia menjadi salah satu suara Yahudi paling keras yang menentang kebijakan negara asalnya sendiri.
Pandangan yang Mengguncang
Mizrahi berargumen bahwa elite politik Israel dan sebagian besar masyarakatnya telah terjebak dalam pola kebencian anti-Arab yang sangat dalam, sebuah kondisi yang menurutnya hanya dapat diakhiri jika struktur negara Israel sendiri dibongkar dan dibangun kembali dalam bentuk politik yang baru. Ia juga dikenal sebagai pembawa acara kanal analisis geopolitik The Mizrahi Perspective di YouTube dan Substack. Dalam berbagai tulisannya ia sering membahas isu-isu yang sensitif dalam masyarakat Israel: dehumanisasi terhadap bangsa Arab dan Palestina, hierarki rasial antara komunitas Yahudi Eropa dan Yahudi Timur Tengah, serta apa yang ia sebut sebagai psikopatologi kekerasan kolonial dalam politik modern Israel.
Tak mengherankan jika pandangannya menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari berbagai pihak. Di satu sisi, ia mendapat dukungan dari kalangan anti-Zionis, aktivis hak asasi manusia, dan sebagian intelektual progresif yang melihatnya sebagai suara hati nurani dari dalam komunitas Yahudi sendiri.
Nama Mizrahi sendiri bagi banyak orang mungkin terdengar seperti nama pemain sepak bola Tel Aviv, bukan komentator geopolitik yang siap menyalakan kembang api di tengah gudang propaganda Barat. Namanya Israel sekali, tetapi narasinya justru menentang kebisuan hati nurani bangsanya yang memilih diam.
Perang yang Tidak Bisa Dimenangkan Barat
Tetapi justru karena itulah pernyataannya terasa mengguncang. Ia bukan orang Iran, bukan analis dari Moskow atau Beijing. Ia seorang Israel yang menyaksikan konflik kawasan dari dekat, lalu berkata dengan kalimat yang sederhana namun tajam: ini adalah perang yang tidak bisa dimenangkan Barat.
“Kita sedang menyaksikan sejarah,” katanya. “Iran, di luar dugaan semua orang, menghancurkan pangkalan-pangkalan Amerika secara begitu luas, begitu menyeluruh, dan begitu menentukan sehingga dunia belum siap melihatnya.”
Kalimat itu, bagi telinga yang terbiasa dengan retorika militer Barat, terdengar hampir seperti satire. Tetapi Mizrahi berbicara dengan nada yang lebih menyerupai laporan kerusakan daripada pidato ideologis. Ia, sebagai wartawan sejati, tampaknya sedang berusaha menyuarakan hati nuraninya sejujurnya.
Ia memberi kesimpulan itu berbasis fakta yang sebenarnya kasat mata. Ia menunjuk pada jaringan pangkalan militer Amerika yang tersebar di seluruh Teluk Persia — di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Banyak di antaranya kini dilaporkan rusak berat, lumpuh operasional, atau tidak lagi dapat berfungsi seperti sebelumnya.

Pasukan penyelamat bekerja di antara puing-puing setelah serangan roket Iran yang menghantam Beit Shemesh dekat Yerusalem, Israel, 01 Maret 2026. – (EPA/ABIR SULTAN)
Pangkalan-pangkalan itu bukan sekadar lapangan parkir pesawat tempur. Semuanya merupakan kota-kota militer raksasa di dalam negara: hanggar pesawat, pelabuhan armada laut, radar jarak jauh, gudang logistik, serta sistem pertahanan udara paling mahal yang pernah dibuat manusia. Semua itu, kata Mizrahi, dibangun selama beberapa dekade dengan biaya yang tidak main-main: triliunan dolar. Artinya sederhana. Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya beberapa fasilitas militer. Yang sedang dipertaruhkan adalah investasi strategis Amerika selama lebih dari tiga puluh tahun di Timur Tengah.
Bayangkan seseorang menabung selama tiga dekade untuk membangun rumah paling mahal di kompleks elit. Lalu dalam waktu kurang dari seminggu — tepatnya hanya dalam empat hari perang — rumah itu berubah menjadi puing dan asap. Dalam metafora Mizrahi, itulah kira-kira gambaran yang sedang terjadi pada jaringan pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. Tentu masih tampak sisa-sisa bangunan yang berdiri: hanggar, parkir kendaraan lapis baja, atau barak tentara. Tetapi semuanya tampak berantakan dan kehilangan fungsi kehidupan militernya.
Ia bahkan memberikan contoh yang hampir terasa seperti ironi teknologi. Radar militer yang harganya ratusan juta dolar per unit — perangkat yang dirancang untuk mendeteksi misil dari ribuan kilometer — dilaporkan hancur dalam hitungan detik. Sistem yang seharusnya menjadi mata dan telinga pertahanan itu justru menjadi korban pertama dari serangan yang datang tanpa ampun, bagai hujan api dari langit Iran. Beberapa pangkalan, menurutnya, tampak rusak parah, ditinggalkan, bahkan terbakar.
Jika gambaran itu benar — dan fakta-fakta indikatornya terungkap jelas — maka kita sedang menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah militer Amerika: tanda kekalahan strategis yang sangat sulit dibalikkan. Mizrahi sendiri membuat perbandingan yang sangat dramatis. Mungkin hanya Pearl Harbor pada tahun 1941 yang bisa dibandingkan dengan skala kehancuran seperti ini. Tetapi bahkan Pearl Harbor, katanya, adalah satu serangan di satu pangkalan dalam satu hari. Apa yang terjadi sekarang, menurutnya, jauh lebih luas. Dalam sejarah perang modern, hampir tidak ada musuh dalam perang konvensional yang mampu menimbulkan kerusakan sebesar serangan misil dan drone Iran terhadap infrastruktur militer Amerika.