20 Tahun Terisolasi di Kandang Besi, Mbah Kirno Dianggap Berbahaya

Nurlela Rasyid
4 Min Read

Pengalaman Mbah Kirno dalam Kurungan Besi

Mbah Kirno, seorang laki-laki lanjut usia berusia 60 tahun, dikabarkan hidup dalam kurungan besi selama hampir dua dekade. Ia tinggal di ruangan bagian belakang rumah keluarga, di dalam kandang yang terbuat dari jeruji besi. Kondisi tersebut membuatnya sangat terisolasi dari lingkungan sekitarnya.

Kurungan tersebut memiliki ukuran yang sangat sempit, dengan lebar sekitar 0,5 meter, tinggi 1 meter, dan panjang 2 meter. Ruang gerak Mbah Kirno sangat terbatas, sehingga ia hanya bisa duduk atau berbaring di dalamnya. Selama bertahun-tahun, ia menjalani kehidupannya sepenuhnya di dalam kandang tanpa pernah dilepaskan oleh keluarga.

Alasan Keluarga Mengambil Tindakan

Menurut keluarga, tindakan mengurung Mbah Kirno dilakukan karena alasan keamanan. Mereka merasa khawatir karena perilaku Mbah Kirno dinilai membahayakan keselamatan orang di sekitarnya. Salah satu anggota keluarga, Sarti, adik kandung Mbah Kirno, mengatakan bahwa keputusan ini diambil untuk melindungi anggota keluarga lainnya.

Sarti menyebut bahwa Mbah Kirno pernah mengancam akan melukai bahkan membunuh kerabatnya. “Karena dianggap punya kemampuan tertentu dan perilakunya membahayakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk mengurung,” ujarnya.

Selain itu, keluarga juga merasa takut karena Mbah Kirno disebut memiliki kemampuan supranatural. Mereka percaya bahwa ia mampu melakukan hal-hal yang tidak biasa, seperti memakan besi dan bambu menggunakan gigi, serta meminum oli 1 liter dan memasukkan api ke dalam mulutnya. Hal ini membuat keluarga semakin khawatir dan memilih untuk mengurungnya.

Kondisi Mental Mbah Kirno

Menurut penuturan keluarga, Mbah Kirno diduga mengalami gangguan kejiwaan. Sejak usia muda, ia sering mendalami ilmu kebatinan. Namun, keluarga menilai kondisi mentalnya tidak kuat, sehingga berdampak pada perubahan perilaku yang semakin sulit dikendalikan.

Sarti menjelaskan bahwa keluarga beberapa kali mengalami tindakan kekerasan dari Mbah Kirno. Situasi tersebut membuat mereka merasa terancam dan memilih langkah ekstrem dengan menempatkannya di dalam kurungan besi. Bahkan, ada dugaan penganiayaan terhadap anggota rumah tangga, termasuk ancaman terhadap pasangan dan kerabat dekat.

Keadaan Harian Mbah Kirno

Meski hidup dalam kurungan, keluarga tetap memberikan makan dan minum secara rutin. Sarti mengklaim bahwa Mbah Kirno diberi makan tiga kali sehari dan setiap pagi juga diberi kopi. Meskipun merasa iba melihat kakaknya harus hidup dalam kondisi seperti itu, Sarti mengatakan keluarga tidak memiliki pilihan lain.

“Dulu suamiku, nenekku juga pernah dianiaya,” imbuhnya. Menurut Sarti, awalnya kakaknya hidup normal seperti pemuda lainnya. Namun, kondisi kejiwaannya mulai terganggu setelah mendalami ilmu kebatinan tingkat tinggi. “Umurnya kan masih belum cukup, sememntara ilmu jiwa yang masuk itu tingkat tinggi yang diminta. Belum kuat kondisi kebatinannya. Jadinya seperti itu,” tegas Sarti.

Perasaan Keluarga Terhadap Mbah Kirno

Sarti mengatakan bahwa meskipun merasa iba, keluarga tetap memperhatikan kebutuhan dasar Mbah Kirno. “Saya tahu sendiri itu, bukan bohong. Kakak saya itu sering makan besi, makan bambu pakai gigi. Minum oli satu liter, makan api juga tidak apa-apa,” ucapnya.

Ia juga menyebut bahwa Mbah Kirno pernah mengancam akan membunuh keluarga. Akibatnya, keluarga memutuskan untuk mengurungnya. “Intinya karena dia mengancam akan membunuh keluarga,” katanya.


Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *