Alasan Zulkifli Hasan Tertawa Saat Dihakimi Soal Hutan, Ketum PAN Ajak Harrison Ford Debat Terbuka

Eka Syaputra
4 Min Read

Zulkifli Hasan Buka Suara Soal Wawancara dengan Harrison Ford yang Kembali Viral

Beberapa waktu lalu, wawancara antara Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), dengan aktor ternama Hollywood, Harrison Ford, kembali menjadi perbincangan publik. Video tersebut muncul kembali setelah bencana banjir di Sumatra memicu kembali pertanyaan mengenai kerusakan hutan Indonesia, khususnya Taman Nasional Tesso Nilo.

Video ini sebelumnya tayang dalam serial dokumenter Years of Living Dangerously pada 2014 dan sempat menghebohkan dunia media. Namun, kini video tersebut kembali viral, memicu berbagai reaksi dan perdebatan mengenai konteks percakapan serta posisi pemerintah saat itu.

Pertemuan Bersejarah: Dari Undangan Kuntoro Hingga Isu Tesso Nilo

Dalam sebuah tayangan YouTube Denny Sumargo, Zulhas mulai mengungkap pengalaman pribadinya selama proses wawancara tersebut. Ia mengatakan bahwa pertemuan pertamanya dengan Harrison Ford terjadi pada 2009 atau 2010, setelah mendapat undangan dari almarhum Kuntoro. Sejak awal, ia sudah mengetahui bahwa topik pembicaraan akan berkaitan dengan isu pembabatan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo.

Zulhas mengaku bahkan menawarkan Ford untuk debat terbuka di hadapan sekitar 20 wartawan. “Saya ingin kita berbicara di depan media, karena saya gak di kantor. Saya lagi sidang kabinet. Kita setting di aula Kementerian Kehutanan, ada puluhan media, untuk kita debat terbuka. Tapi dia tidak mau rupanya,” ujarnya.

Ketika Kantor Mendadak Jadi Lokasi Syuting

Namun rencana debat terbuka itu tidak terwujud. Saat Zulhas tiba di kantor, ia terkejut melihat ruangan kerjanya telah disiapkan secara khusus. “Saya datang ke kantor rupanya sudah diseting. Ruang kantor saya, orang kita yah kalau ada bintang terkenal gak ada aturan lagi sudah. Jadi kantor Menteri Kehutanan, 4×4, sudah dipasang 4 kamera, jadi saya duduk dia masuk sebagai wawancara,” jelasnya.

Baru kemudian ia menyadari bahwa proses ini bukanlah wawancara biasa. “Belakangan saya baru terasa, oh ini shooting film. Ini (Ford) heronya, ya tentu ada penjahatnya kan. Ya saya penjahatnya. Nasib sebagai pejabat,” tuturnya.

Zulhas juga mengungkap bahwa ia merasa ada yang tidak beres sejak berada di ruang tunggu. Namun menurutnya, orang-orang di sekitarnya enggan menegur karena terpukau oleh kehadiran aktor papan atas tersebut.

Bantahan Zulhas: Tidak Pernah Meremehkan Isu Penebangan Hutan

Isu lain yang sempat mencuat adalah kesan bahwa Zulhas menertawakan persoalan perambahan hutan di Tesso Nilo. Zulhas membantah keras anggapan itu. “Saya kesannya meremehkan, bukan meremehkan. Saya bilang, bukan meremehkan. Dia menganggap Indonesia waktu itu seperti Amerika. Kok kamu kan menteri kenapa kalah itu sama perambah di Tesso Nilo itu,” katanya.

Ia menjelaskan konteks politik Indonesia saat itu, termasuk ketakutan pejabat menghadapi kekuatan massa. “Bung ini bukan Amerika… kita baru reformasi. Pejabat takut sama rakyat, karena rakyat begitu kuasa. Bayangkan, saya mau nangkap di Tesso Nilo itu, jangankan nangkap, masuk saja gak bisa karena ada 50 ribu orang di sana yang menguasai taman nasional,” lanjutnya.

Wawancara yang Viral: Ketegangan Zulhas vs Harrison Ford

Dalam video tersebut, Ford terlihat menekan Zulhas dengan berbagai pertanyaan terkait kerusakan hutan yang ia temukan di Tesso Nilo. Ketika Zulhas tertawa menanggapi, Ford menegurnya dengan nada tegas. “Ini tidak lucu. Tidak lucu. Hanya tersisa 18 persen. Kami melihat ada jalan-jalan baru, jalan ilegal, hutan ditebang, pohon-pohon tumbang, terbakar di mana-mana. Ini sangat menyedihkan. Apa yang sudah Anda lakukan?” kata Ford.

Zulhas menjawab: “Anda baru lihat terkaget-kaget. Kami tiap hari mencoba untuk menyelesaikan persoalan. Kami baru mengalami apa yang disebut demokrasi.”

Video tersebut kembali menarik perhatian berkat penyebaran ulang di media sosial, memicu berbagai reaksi dan perdebatan mengenai konteks wawancara serta posisi pemerintah saat itu.


Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *