Kehilangan Ayah dalam Kejadian Petir yang Mengerikan
Bahar, seorang nelayan muda dari Bangka, mengalami pengalaman paling menyedihkan dalam hidupnya. Saat sedang memancing bersama ayahnya di perairan Laut Karang Langkore, kapal mereka tersambar petir. Meski berjuang keras untuk menyelamatkan diri, nyawa ayahnya tidak tertolong. Bahar sendiri selamat dan kini dirawat di RSUD Depati Bahrin, Sungailiat.
Bahar terlihat lemah dan duduk di ranjang rumah sakit pada hari Sabtu (6/12). Ia memakai perban untuk menutup luka bakar di kaki dan lengan kirinya. Selang infus juga terpasang di tangan kanannya. Meskipun sedang kesakitan, matanya menunjukkan ketegaran yang luar biasa.
Menurut Bahar, kejadian tragis itu terjadi saat ia dan ayahnya, Hasanudin (45 tahun), sedang melaut untuk mencari ikan. Mereka berencana pulang pada Minggu (7/12), tetapi takdir berkata lain. Hanya Bahar yang kembali dalam keadaan selamat, sementara ayahnya telah meninggal dunia dan dikuburkan pada sore hari Sabtu (6/12).
Detik-Detik Tragis Saat Petir Menyerang
Kata Bahar, kejadian itu terjadi pagi hari sekira pukul 08.00 WIB. Ia baru saja selesai memasak dan ingin makan bersama ayahnya di atas kapal. “Kami makan bersama. Setelah itu, aku duduk sebentar untuk melihat pancing. Terus bapak mau membakar rokok, tapi tidak jadi, katanya mau tidur aja,” ujarnya.
Tiba-tiba, kilatan cahaya muncul dan membuat kapal mereka berapi. Kilatan petir tersebut menyambar tiang tengah kapal dan kemudian merambat ke bagian rumah kapal serta tempat bensin. Bahar dan ayahnya langsung terjun ke laut karena api mulai membakar tubuh mereka.
Cuaca saat itu sedang hujan gerimis, namun langit gelap dan suara gemuruh kecil terdengar beberapa kali. Dalam keadaan panik, Bahar dan ayahnya berenang menjauhi kapal sekitar 10 meter. Di tengah perjuangan, Bahar sempat berbicara dengan ayahnya.
“Kubilang apa sakitnya, pak. Katanya enggak ada lah, baik-baik aja,” kata Bahar. Namun, ayahnya semakin lemas. Bahar kemudian mengambil kayu untuk membantu ayahnya naik. Sayangnya, kayu itu tidak cukup kuat dan akhirnya dilepaskan.
Perjuangan Berat untuk Menyelamatkan Ayah
Dengan tubuh kecilnya, Bahar berjuang berenang sambil menggendong tubuh ayahnya yang sudah banyak luka bakar. Ia memeluk erat tubuh ayahnya dan berusaha berenang menjauh dari lokasi kapal sekitar 10 meter.
“Ku pegang punggungnya, ku nyelam, baru ku berenang 10 meter (menjauhi kapal yang terbakar-red),” ujarnya. Bahar juga memasukkan kaki ayahnya ke dalam celana pendek miliknya agar tidak hanyut karena arus yang kuat.
Selama perjalanan, Bahar juga menahan rasa sakit akibat luka bakar di kakinya yang bergesekan dengan kaki ayahnya. “Kupikir enggak apa-apalah, yang penting kita selamat dulu,” katanya.
Setelah sekitar 10 menit berjuang, bantuan akhirnya datang dari nelayan sekitar. Mereka dibawa oleh nelayan Pangkalarang menggunakan kapal mereka. Bahar menyebutkan bahwa ayahnya sempat dijampi dan ditutup plastik sebelum dibawa ke rumah sakit.
Penjelasan dari Kasat Polairud
Kasat Polairud Polres Bangka, AKP Arief Fabillah, menjelaskan bahwa Hasanudin dan anaknya, Bahar, pergi melaut menggunakan KM Kirana. Sekitar pukul 08.00 WIB, petir menyambar kapal tersebut.
“Hasanudin dan Bahar sempat terjun ke laut untuk menyelamatkan diri dan Hasanudin masih sempat berteriak meminta tolong,” kata AKP Arief. Mendengar teriakan sang ayah, Bahar berusaha menolongnya agar tidak tenggelam.
Nelayan lain dari kapal KM Rafa Nelayan yang berada dekat lokasi kejadian langsung membantu. Mereka kemudian menghubungi tim gabungan untuk melakukan evakuasi dan penyelamatan.
Evakuasi dan Penanganan di Rumah Sakit
Sekitar pukul 09.30 WIB, tim gabungan berangkat menuju perairan Karang Langkore menggunakan satu unit speed lidah dan satu rubber boat. Pada pukul 11.15 WIB, Hasanudin dinyatakan meninggal dunia karena luka bakar di seluruh tubuhnya.
Sementara itu, Bahar mengalami luka bakar dan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Depati Bahrin untuk penanganan lebih lanjut. Ia mengaku baju yang dikenakan ayahnya habis terbakar, sementara bajunya masih utuh.