Cara Tuli Coffee Solo Menghadapi Tekanan Bisnis dan Tantangan Komunikasi dengan Karyawan Tuli

Hendra Susanto
5 Min Read

Tantangan Bisnis Kafe di Solo dan Upaya Pemberdayaan Karyawan Tuli

Kota Solo, yang dikenal sebagai pusat budaya dan pariwisata, juga menjadi tempat berkembangnya berbagai usaha kafe. Salah satu contohnya adalah Kawan Tuli Coffee and Space, yang tidak hanya menghadapi persaingan ketat dari banyak kafe lain, tetapi juga tantangan dalam mengelola karyawan yang memiliki kondisi khusus, yaitu teman tuli.

Persaingan dan Dampak Inflasi pada Harga Bahan Baku

Industri kopi di Solo terus berkembang pesat, terutama di kawasan Jalan Slamet Riyadi yang dipenuhi berbagai kedai kopi. Namun, di balik ramainya pasar, pelaku usaha harus menghadapi tekanan kenaikan harga bahan baku. Hal ini terasa langsung oleh Kawan Tuli Coffee and Space, yang mengalami kenaikan harga biji kopi hingga 40 persen akibat inflasi.

“Biji kopinya sendiri bisa sampai 40 persen naiknya. Minyak naik semuanya naik. Kita pertimbangankan untuk adjust,” ujar Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang. Kenaikan biaya produksi ini membuat pelaku usaha harus menyesuaikan harga jual tanpa mengurangi daya tarik pelanggan.

Pemberdayaan Karyawan Tuli dengan Sistem Kerja Fleksibel

Di tengah tekanan ekonomi dan kompetisi bisnis, Kawan Tuli Coffee and Space tetap konsisten memberdayakan tenaga kerja dari komunitas teman tuli. Saat ini, terdapat enam karyawan teman tuli yang bekerja di sana. Mereka bekerja dengan sistem fleksibel agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Tapi kita masih bisa puji tuhannya empower 6 karyawan walaupun mereka semua masih magang. Mereka nggak full 8 jam. Kekuatan emosional dan fisik berbeda. Banyak yang introvert dan jarang keluar. Ketemu orang capek. Total ada 6 orang plus 2 helper kalau weekend. Sudah bisa dibilang layak,” jelas Bintang.

Model kerja fleksibel ini diterapkan untuk menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing karyawan agar tetap produktif namun tidak terbebani.

Omzet Stabil dan Penjualan yang Menjanjikan

Meski menghadapi berbagai tantangan, Kawan Tuli Coffee and Space tetap mencatat aktivitas penjualan yang stabil. Ratusan menu terjual setiap hari dengan harga yang terjangkau bagi berbagai kalangan.

“Kalau untuk per pcs random. Hari Rabu bukan tanggal merah bukan libur tapi tiba-tiba rame. 400 pcs minuman. Weekend standard 500 pcs. Tapi pernah peak grand opening hampir 2000. Harga menu mulai dari 12-34 ribu,” ujar Bintang. Harga menu yang berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp34 ribu membuat coffee shop ini tetap kompetitif di tengah pasar yang padat.

Tantangan Komunikasi dan Adaptasi Manajemen

Selain tekanan bisnis dan inflasi, tantangan terbesar justru datang dari proses komunikasi dengan karyawan teman tuli. Hal ini membuat manajemen harus beradaptasi dan belajar cara berinteraksi yang lebih efektif.

“Rapat bulanan komunikasi tetap PR. Makanya saya sendiri di sini dampingi mereka saya harus belajar bahasa isyarat. Di bulan keenam udah bisa otomatis. Kalau misal ada sesuatu laporan. 3 bulan pertama saya harus intens daily untuk pantau,” jelas Bintang.

Adaptasi ini menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas operasional sekaligus membangun hubungan kerja yang sehat.

Pendekatan Personal dalam Pengelolaan Karyawan

Dalam operasional harian, tantangan lain yang dihadapi adalah penerapan Standard Operational Procedure (SOP). Beberapa karyawan masih membutuhkan pengingat dan pendampingan dalam menjalankan tugas.

“Kadang-kadang mereka juga daily operation lupa resep, lupa tanya, lupa interaksi. Salah satu SOP interaksi. Barista harus ngobrol dengan customer,” ujar Bintang. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan personal menjadi strategi utama dalam membangun pemahaman dan kedekatan emosional antara manajemen dan karyawan.

“3 bulan awal aku kasih masukan nangis tahunya marah padahal enggak. Pendekatan personal. Kadang-kadang spend time untuk barista saya ajak ngobrol. Kadang ada masalah yang dihadapi nggak di rumah. Kalau pun ada konflik kita selesaikan dengan baik,” jelas Bintang.

Kawan Tuli Coffee and Space menjadi contoh bagaimana bisnis kafe tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada nilai sosial dan pemberdayaan komunitas. Di tengah persaingan ketat kafe Solo dan kenaikan harga bahan baku akibat inflasi, tantangan komunikasi dengan karyawan teman tuli justru menjadi pelajaran penting dalam membangun bisnis yang inklusif.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *