Cerpen Rika Johara: ‘Mencatat Utopia’

Eka Syaputra
6 Min Read

Perjalanan Seorang Jurnalis dalam Dunia yang Terus Berubah

Di tengah keheningan gedung sains yang seharusnya penuh dengan presentasi dan rumus-rumus fisika kuantum, terdengar teriakan yang menggema. “Hidup Tan Malaka! Hidup rakyat yang tak pernah tunduk!” Spanduk-spanduk berwarna-warni dibentangkan, wajah-wajah muda penuh semangat dan keringat. Mereka menyebut nama Tan Malaka seperti ia baru saja kembali dari pengasingan panjangnya.

Seorang lelaki dengan kemeja lusuh dan rambut pendek menggunakan megafon untuk menyampaikan pesannya. “Dia bukan hanya bermimpi Indonesia merdeka,” katanya. “Dia melawan imperialisme, menolak tunduk pada kapitalisme kolonial, dan menulis tentang kemerdekaan berpikir! Madilog, kawan! Materialisme, dialektika, logika! Lawan takhayul, lawan feodalisme!”

Yang lain melanjutkan: “Tan Malaka menolak kompromi murahan! Ia percaya kemerdekaan bukan hadiah, tapi hasil perjuangan rakyat yang sadar dan terorganisir!”

Cerpen Rika Johara: Catatan Kaki untuk Api yang Tak Pernah Padam

Cerpen Rika Johara: Retrokausalitas Epstein Files

Padahal acara yang mereka datangi adalah diskusi sains bertajuk “Energi Terbarukan dan Masa Depan Kota”. Moderator sudah siap dengan pointer laser, tapi di luar, anak-anak muda itu lebih sibuk membicarakan revolusi ketimbang reaktor. Mereka menggugat korupsi seperti menggugat dosa turun-temurun.

“Korupsi bukan budaya kita!” seru seorang mahasiswa teknik. “Itu warisan kolonialisme yang membiasakan elite jadi perpanjangan tangan penguasa asing! Mental jongos yang dipoles jas dan dasi!”

Seorang lagi membaca redaksi tuntutan dari kertas kusut:
“Kami menggugat praktik korupsi yang terus dilanggengkan atas nama tradisi birokrasi. Kami menolak anggapan bahwa suap adalah kearifan lokal. Korupsi adalah residu kolonial yang memelihara ketimpangan. Kami menuntut transparansi, partisipasi publik, dan pelibatan generasi muda dalam setiap pengambilan kebijakan.”

Beberapa dari mereka bahkan mendesak panitia diskusi untuk memberi ruang lima belas menit berbicara tentang gerakan rakyat. “Sains harus berpihak!” kata mereka. “Jangan cuma netral di laboratorium!”

Aku mencatat semuanya. Namaku tak penting. Aku hanya jurnalis dengan ransel lusuh dan smartphone yang ketinggalan jaman.

Lain waktu, 14 Februari. Hari Valentine. Aku meliput peluncuran single terbaru band indie romantis di sebuah kafe estetik. Semua tamu wajib pakai dresscode pink. Balon hati bergelantungan. Lagu cinta diputar berulang-ulang.

Tapi entah bagaimana, di tengah aroma stroberi dan lampu temaram, sekelompok anak muda yang sama muncul lagi. Kali ini mereka membawa poster bergambar Jenderal Sudirman dan Che Guevara.

“Jenderal Sudirman bergerilya dalam sakit paru-paru, kalian bergerilya dalam algoritma!” teriak seorang pria berjaket denim pink.

Lalu seorang perempuan naik ke kursi, berpidato dengan gaya yang jelas meniru Che. Suaranya berat, ritmis, penuh tekanan emosi:
“Kawan-kawan! Revolusi bukan soal romantisme mawar dan cokelat! Revolusi adalah cinta paling radikal pada kemanusiaan! Jika kalian benar-benar mencintai, maka cintailah rakyat yang lapar! Cintailah petani yang tanahnya dirampas! Seorang revolusioner sejati digerakkan oleh perasaan cinta yang mendalam!”

Aduh, dimana pun mereka berada, dalam seting sosial apapun, dialog mereka selalu sama. Seperti mereka hanya punya satu naskah, dengan penulis yang sudah mati. Tak bisa dikembangkan dan tak bisa dikurangi. Paten!

Orang-orang yang tadinya hendak berswafoto mendadak terdiam. Vokalis band terlihat kikuk, masih memegang mikrofon dengan pita merah muda.

Aku mencatat lagi. Selalu mencatat.

Di sela-sela itu, entah kenapa aku teringat Nikolai Gogol. Dalam bayanganku, ia duduk di pojok ruangan, wajahnya pucat, memeluk naskah satirenya sendiri. Ia depresi bukan karena tak bisa menulis, tapi karena tulisannya hanya mampu menertawakan sistem, bukan menggulingkannya.

Mungkin Gogol terjebak dalam konflik antara dorongan id yang ingin menghancurkan tatanan, dan superego yang takut pada konsekuensi sosial. Ia menyalurkan agresi lewat humor, lewat absurditas. Satire menjadi mekanisme pertahanan—sublimasi dari hasrat destruktif yang tak pernah benar-benar meledak.

Ia mengkritik pejabat korup, birokrat bodoh, sistem konyol—tapi tetap berdiri di tepi jurang perubahan radikal. Ada kecemasan eksistensial di sana. Takut kehilangan identitas jika revolusi benar-benar terjadi. Takut bahwa setelah sistem runtuh, tak ada lagi yang bisa ditertawakan.

Mungkin kami, para jurnalis, sedikit mirip Gogol.

Aku hanya mencatat. Kadang acara berjalan sesuai guideline: diskusi sains ya soal sains, konser ya soal cinta. Kadang jungkir balik, melenceng ke mana-mana, dari reaktor nuklir ke revolusi, dari lagu romantis ke gerilya.

Tak masalah. Mau kutulis apa adanya, atau sedikit disesuaikan dengan pesanan redaksi.

Hahaha.

Kadang kita takluk juga pada pesanan. Karena dari situlah cuan mengalir. Idealisme perlu makan siang juga.

Dari siang hingga malam aku berkeliaran. Dari gedung seminar ke kafe indie, dari aksi jalanan ke konferensi pers. Media sosial selalu lebih cepat. Hashtag lebih dulu viral sebelum aku selesai mengetik lead berita.

Tapi aku percaya, ketajaman pena seorang jurnalis tak bisa digantikan. Algoritma bisa menyebarkan, tapi tak bisa merasakan ironi ketika diskusi sains berubah jadi mimbar revolusi. Tak bisa menangkap getar suara yang meniru Che di tengah balon pink. Tak bisa membaca depresi seorang penulis yang takut pada radikalisme pikirannya sendiri.

Aku hanya pencatat.

Namun dalam setiap catatan, ada denyut zaman.

Dan mungkin, diam-diam, itu juga bentuk perlawanan.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *