Aksi Unjuk Rasa Warga Terkait Masalah Sampah di TPA Cipeucang
Ratusan warga yang tergabung dalam Forum Peduli Serpong (FPS) menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Tangerang Selatan (Tangsel), terkait polemik operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Mereka menuntut agar TPA dibuka kembali dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, karena penutupan tanpa solusi membuat sampah menumpuk di jalan-jalan protokol dan menimbulkan bau menyengat.
TPA Cipeucang terletak di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Lokasi ini menjadi tempat pembuangan akhir utama bagi sampah rumah tangga dan perkotaan di Tangsel. TPA ini juga berada di tepi Sungai Cisadane, sehingga kondisinya sangat krusial bagi ekosistem sekitar. TPA Cipeucang menampung volume sampah yang cukup besar, sehingga sering menghadapi masalah kapasitas dan pencemaran lingkungan.
TPA Cipeucang resmi ditutup sejak Senin, 8 Desember 2025, setelah muncul penolakan warga sekitar TPA. Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Wiraswasta Indonesia, Anisa Widyanti menilai situasi ini sebagai ujian kohesi sosial. Menurutnya, penutupan TPA tanpa solusi transisi telah menciptakan ketimpangan, di mana warga di kecamatan lain menjadi korban karena lingkungan mereka berubah menjadi ‘TPA ilegal’.
“Secara sosiologis, kota adalah organisme yang saling tergantung. Jika satu fungsi berhenti, seluruh sistem akan sakit. Di sini peran Pemkot sebagai mediator sangat krusial untuk mengedepankan hakikat budaya gotong royong dan ‘tepo seliro’ (tenggang rasa) antara kepentingan operasional kota dan kesejahteraan warga lokal,” kata Anisa, Sabtu (20/12/2025).
Dia pun menjabarkan solusi yang konkret dan komprehensif yang dapat dirasakan merata. Ia menyarankan agar Pemkot Tangsel segera beralih dari sistem open dumping ke teknologi pengolahan sampah modern. “Seperti insinerasi ramah lingkungan untuk meminimalisir dampak bau dan polusi. Kemudian memformalkan skema kompensasi, mulai dari jaminan akses air bersih hingga peningkatan fasilitas kesehatan di sekitar area TPA,” ujarnya.
Selain itu, Anisa juga mendorong pengolahan sampah selesai di tingkat hulu (kecamatan/kelurahan) agar beban yang masuk ke TPA Cipeucang berkurang signifikan. Kemudian, lanjutnya, melalui Dinas Kominfo, Pemkot Tangsel perlu terus mengomunikasikan progres penataan TPA secara berkala agar tidak terjadi misinformasi yang memicu aksi massa susulan.
“Penanganan sampah di Tangsel memerlukan sinkronisasi antara kerja teknis pemerintah dan pemahaman sosiologis masyarakat. Dengan komitmen Pemkot untuk terus bergerak dan dukungan masyarakat untuk berdialog, krisis ini diharapkan dapat segera teratasi,” jelasnya.
Pemkot Tangsel Tidak Diam
Sementara itu, Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie menegaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak tinggal diam. Ia menyatakan bahwa koordinasi antar-instansi terus dilakukan secara intensif untuk menyelesaikan permasalahan ini secara komprehensif. “Kami tidak diam. Saat ini fokus utama kami adalah menghadirkan solusi konkret, mulai dari percepatan penataan lahan di Cipeucang hingga optimalisasi pengangkutan sampah yang sempat tertunda,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangerang Selatan, Tb Asep Nurdin.
Dia menambahkan bahwa Pemkot tengah menyusun langkah jangka panjang agar permasalahan serupa tidak berulang. “Kami memahami keresahan warga, baik yang terdampak langsung di sekitar TPA maupun warga yang terganggu oleh tumpukan sampah di jalan. Tujuannya satu, solusi komprehensif yang menjamin kebersihan kota sekaligus kenyamanan warga sekitar,” tegasnya.
Warga Demo
Sebelumnya, persoalan sampah yang semakin darurat mendorong warga demo Kantor DPRD Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (18/12/2025). Puluhan orang menggeruduk pagar gedung yang berlokasi di Jalan Raya Serpong, Setu, itu sambil berjalan kaki dan membawa mobil komando. Di bawah rintikan hujan, sekira pukul 10.30 WIB, mereka berunjuk rasa sambil membawa sampah plastik dan berbagai poster.
Tuntutan mereka adalah agar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang bisa dikelola dengan baik. Sampah tidak hanya ditumpuk, melainkan dikelola hingga tak cuma menggunung. Usai aksi, Ketua Forum Peduli Serpong, Abdul Manap mengatakan, hal utama yang mereka tuntut dalam aksi tersebut ialah agar pemerinta dapat membuka kembali pengelolaan sampah di TPA Cipeucang. “Kami minta dibuka. Karena walaupun bagaimana kami butuh juga tempat itu,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (18/12/2025).
[Hanya saja, kami juga minta lebih dibuat secara bagus, modernisasi atau ditata.]