Operasi SAR Diperpanjang, 60 Korban Longsor Dievakuasi di Hari Ketujuh

Zaiful Aryanto
8 Min Read

Proses Pencarian Korban Longsor di Desa Pasirlangu Berlangsung Maksimal

Cuaca cerah yang terjadi pada hari ketujuh atau sepekan setelah peristiwa longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memberikan kondisi yang sangat mendukung proses pencarian korban. Pencarian bahkan dilakukan hingga dekat lereng Gunung Burangrang. Operasi SAR pun diperpanjang selama seminggu ke depan.

Pantauan pada Jumat sore menunjukkan bahwa cuaca sudah tidak lagi mengganggu aktivitas pencarian seperti beberapa hari sebelumnya. Dari pagi hingga sore, langit tetap cerah. Beberapa hari sebelumnya, hujan deras dan kabut menyebabkan jarak pandang menjadi terbatas. Namun, kondisi ini tidak disia-siakan oleh tim SAR gabungan. Wilayah Kampung Pasirkuda dan Pasirkuning yang terdampak longsor ditelusuri secara intensif oleh para pencari.

Wilayah Babakan hingga dekat lereng Gunung Burangrang juga tidak luput dari pencarian. Selain tim manusia, alat berat turut dikerahkan untuk menyisir area longsor. Alat-alat tersebut mengeruk timbunan lumpur, material bangunan yang runtuh, serta bebatuan.

Kondisi Cuaca Mempermudah Pencarian

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafii, menyatakan bahwa kondisi cuaca yang baik dari pagi hingga sore sangat membantu proses pencarian. Dalam konferensi pers di Posko Basarnas, Desa Pasirlangu, ia menyampaikan bahwa pada hari ketujuh, lima bodypack atau korban telah ditemukan dan diserahkan ke tim DVI.

“Sampai dengan hari ketujuh, jumlah korban yang telah kita evakuasi sejumlah 60 bodypack. Korban yang sudah teridentifikasi oleh DVI sebanyak 44 jenazah,” ujarnya.

Operasi pencarian yang telah memasuki hari ketujuh juga diperpanjang selama seminggu ke depan. Syafii berharap semua korban dapat ditemukan sebelum 14 hari total pelaksanaan operasi pencarian bencana longsor tersebut.

“Operasi pencarian dan pertolongan terus kita laksanakan dengan semaksimal mungkin kekuatan,” katanya.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Syafii menjelaskan bahwa dukungan operasi dilakukan dari unsur darat dan udara. Dari sisi udara, terdapat lima pesawat helikopter dan 22 drone. Sementara itu, dari sisi darat, potensi SAR yang terlibat mencapai 3.000 orang. Modifikasi cuaca juga terus dilakukan. Jumlah alat berat bantuan dari berbagai pihak yang dikerahkan mencapai 17 unit.

Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) III/Siliwangi, Kolonel (Inf) Mahmuddin, menegaskan bahwa seluruh personel TNI yang diterjunkan tetap bekerja maksimal. TNI berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat Pasirlangu hingga tuntas.

“TNI berkomitmen untuk terus hadir di tengah kesulitan rakyat. Kami akan terus membantu hingga seluruh proses pencarian dan evakuasi dinyatakan selesai oleh otoritas terkait. Ini adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian kami terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” katanya.

Untuk mempercepat proses evakuasi, Kapendam merinci bahwa TNI telah mengerahkan kekuatan penuh yang terdiri dari berbagai satuan tempur dan bantuan tempur. Personel yang diterjunkan meliputi Yonif 312/Kala Hitam, Zipur-3/Yudha Wastu, Yonzipur 9/Kostrad, Yonkav-4/Kijang Cakti, Batalyon Arhanud 3/YBY, serta unsur spesialis dari Marinir, Kopasgat, Penerbad, hingga para Babinsa Kodim 0609/Cimahi.

“Tak hanya satuan operasional, dukungan fungsi juga dimaksimalkan melalui pelibatan Kesdam III/Slw untuk layanan kesehatan, Hubdam III/Slw untuk kelancaran komunikasi, serta Dapur Lapangan dari Bekangdam III/Slw guna menjamin ketersediaan logistik bagi personel maupun pengungsi,” kata Kapendam III/Siliwangi.

Peran Pemerintah Daerah dalam Evakuasi dan Relokasi

Operasi masif ini juga didukung oleh pengerahan 19 unit alat berat, dua dump truck, serta 32 ambulans yang siaga untuk menembus ketebalan material tanah dan mempercepat evakuasi bersama Basarnas, BPBD, dan sukarelawan.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail bersyukur atas kondisi cuaca cerah di hari ketujuh pencarian. Ia melakukan pengecekan di dapur-dapur umum posko pengungsian untuk memeriksa bahan baku hingga proses pengemasan makanan. Pengecekan bertujuan untuk memastikan warga yang mengungsi tidak kekurangan makanan.

“Dari hasil pengecekan semua sudah siap, siap semua,” ucap Jeje di posko pengungsian Desa Pasirlangu.

Ia menambahkan, Pemkab Bandung Barat juga telah memetakan zona merah dan kuning di kawasan longsor. Hal senada dikemukakan Sekretaris Daerah KBB Ade Zakir.

“Kemarin kita sudah dapat peta zonasi rumah masyarakat yang terdampak, kategori yang terdampak, terancam dan memang aman. Sedang kita pilah rumah ke rumah,” kata Ade.

Untuk pengungsi yang masih berada di zona aman, kata Ade, sudah diimbau kembali ke kediamannya.

Ade menambahkan, longsor juga memutus pasokan air bersih warga yang berasal dari gunung. Untuk itu, Pemkab berencana membangun sumur bor.

“Dari pak Kades kurang lebih kita butuh 10 titik. Kita bertahap (membuatnya),” ucap Ade.

Dengan adanya sumur bor, warga yang kembali ke rumahnya tidak ada keluhan lagi perihal pasokan air.

Rencana Relokasi Warga Terdampak

Ade juga menjelaskan mengenai rencana relokasi bagi rumah-rumah warga yang hilang akibat longsor atau berada di zona merah. “Hari ini (kemarin, red) kita juga sudah mengecek tanah carik desa, mudah-mudahan bisa dimanfaatkan untuk huntap (hunian tetap) malah kita berpikir,” ujarnya.

Meski demikian, pembangunan huntap tetap melalui proses administrasi yang harus diselesaikan. Saat ini, pemerintah masih mendata warga-warga di zona merah yang bakal memperoleh huntap.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan akan mengawal proses relokasi warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, hingga tuntas. Relokasi dilakukan setelah penetapan zona rawan dan penyediaan lahan aman benar-benar siap.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, saat ini, proses relokasi masih dalam tahap pendalaman, terutama terkait penentuan lahan yang layak dan bebas risiko bencana. Pemprov Jabar membagi tugas dengan Pemkab Bandung Barat serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Menurut Herman, lahan relokasi harus memenuhi sejumlah kriteria, di antaranya bukan area persawahan serta tidak berada di wilayah rawan longsor maupun banjir. Pemprov Jabar telah berkoordinasi dengan Bupati dan Sekda Bandung Barat untuk mempercepat identifikasi lokasi.

“Kami menunggu hasil identifikasi dari Kabupaten Bandung Barat. Lahan yang dipilih harus aman dan tidak memiliki risiko bencana,” ujarnya di Kota Bandung, kemarin.

Selain lahan, pemerintah juga tengah memverifikasi data warga yang akan direlokasi. Prioritas relokasi diberikan kepada warga yang rumahnya terdampak langsung longsor serta masyarakat yang tinggal di zona merah di sekitar lokasi kejadian.

Penetapan zona merah, kuning, dan hijau mengacu pada peta delineasi dari Badan Geologi. Dari peta tersebut, pemerintah menentukan area berbahaya yang wajib dikosongkan dan menjadi sasaran utama relokasi.

“Yang direlokasi itu warga di titik longsor dan yang berada di zona merah,” katanya.

Ia menekankan percepatan relokasi menjadi bagian dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pemprov Jabar menargetkan proses berjalan cepat namun tetap cermat agar kawasan hunian baru lebih aman dan layak.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *