Di Tengah Kekacauan Barat, Indonesia Menuju Mana?

Lani Kaylila
4 Min Read



.CO.ID, JAKARTA — Keretakan yang muncul di kawasan Barat mulai terlihat dalam perhelatan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos. Sejumlah pemimpin politik dari negara-negara Barat tampaknya mulai merasa tidak nyaman dengan kebijakan yang diambil oleh Amerika Serikat (AS).

Pemimpin dunia seperti Presiden Donald J. Trump menunjukkan gaya kepemimpinan yang berbeda dari sebelumnya. Dalam masa jabatannya yang kedua, ia sangat agresif dalam mengelola hubungan dengan sekutu. Namun, kebijakan AS kali ini tidak hanya menyasar negara-negara rival geopolitik seperti Tiongkok dan Rusia, tetapi juga negara-negara anggota NATO, termasuk Kanada.

Beberapa kebijakan yang diterapkan AS seperti tarif yang tinggi terhadap Eropa, wacana pencaplokan Kanada, serta tindakan militer terhadap Venezuela membuat negara-negara NATO merasa kewalahan dan mulai bertanya-tanya tentang arah kebijakan luar negeri AS.

Salah satu puncak kekhawatiran adalah retorika Trump yang serius tentang kepemilikan Greenland. Menurutnya, kepemilikan atas wilayah tersebut penting untuk pertahanan AS. Ia menyindir Denmark dan negara-negara Eropa lainnya karena dinilai tidak mampu menjaga Greenland dari ancaman Tiongkok dan Rusia.

Greenland menjadi isu yang sangat penting bagi negara-negara Eropa. Meskipun ada keraguan dari Trump, Perancis, Jerman, Inggris, dan negara-negara lainnya menerjunkan pasukan ke Greenland sebagai bentuk solidaritas. PM Denmark, Mette Frederiksen, menyatakan bahwa jika AS melakukan serangan militer ke Greenland, maka akan menjadi akhir dari NATO.

Namun, sikap permisif dari negara-negara sekutu terhadap kebijakan Trump mendapat kritik dari Gubernur California, Gavin Newsom. Baginya, Trump tidak peduli pada diplomasi atau hukum internasional. Ia yakin presiden AS hanya mengenal hukum rimba. “Dia (Trump) itu T-Rex, Anda entah ‘berpasangan’ dengannya, atau dia akan memangsa Anda,” kata Newsom di Davos.

Sementara itu, suhu hubungan antara AS dan sekutunya masih panas. Udara musim dingin di Davos tidak cukup mendinginkan ketegangan yang terjadi. Kekhawatiran para pemimpin politik di Barat terhadap situasi global semakin meningkat. Presiden Perancis Emmanuel Macron mengakui adanya pergeseran menuju dunia yang tidak lagi menghormati hukum internasional. Kegelisahan serupa juga diungkapkan oleh PM Kanada Mark Carney, yang menilai saat ini bukan lagi sekadar pergeseran, melainkan keretakan dalam tatanan internasional.

Meskipun demikian, Trump kembali menyampaikan ambisi untuk merebut Greenland dalam pidatonya di WEF. Namun, kali ini ia tidak menyebut opsi militer. Hal ini membuat para pemimpin NATO sedikit lega, meskipun pertanyaan tetap muncul: apakah keretakan ini bersifat sementara atau justru melebar?

Gavin Newsom berpendapat bahwa hubungan AS dengan sekutu hanya merenggang sementara. Baginya, keretakan yang diungkapkan oleh Carney dan pemimpin Eropa terlalu berlebihan. Namun, dari nuansa para pemimpin Eropa yang hadir di WEF, tampaknya kepercayaan terhadap AS mulai goyah.

Di sisi lain, Tiongkok terus berkembang dalam ekonomi, politik, dan militer. Negara ini diyakini telah menjadi kutub baru dalam geopolitik. Kunjungan Macron dan Carney ke Beijing sebelum WEF tahun ini bisa dianggap sebagai langkah simbolis, namun menunjukkan bahwa Barat tidak lagi monolitik.

Keretakan di Barat akan berdampak pada posisi Indonesia sebagai middle power. Negara-negara akan semakin pragmatis dalam mencari keuntungan politik dan ekonomi. Ini tentu menjadi tantangan besar bagi Indonesia sebagai ketua Dewan HAM PBB.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di WEF menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas sebagai prasyarat pertumbuhan. Langkahnya masuk ke dalam Dewan Perdamaian untuk Gaza, yang diinisiasi oleh Trump, dapat dipandang sebagai strategi geopolitik.

China tidak tertarik bergabung dengan Dewan Perdamaian tersebut. Oleh karena itu, Indonesia perlu membangun kepercayaan di kawasan Asia Pasifik bahwa partisipasinya dalam Dewan Perdamaian adalah langkah yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Sebagai ketua Dewan HAM PBB, Indonesia harus menjadi moral leader yang mampu membangun narasi kemanusiaan di tengah ketegangan geopolitik.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *