Penemuan Barang dan Korban di Lokasi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Pada hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah barang milik korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Pencarian ini dilakukan setelah pesawat tersebut mengalami kecelakaan pada hari sebelumnya.
Barang-barang Esther Aprilita ditemukan di jalur antara puncak gunung menuju Pos 9. Pada pukul 15.13 Wita, tim SAR menemukan dokumen pesawat A.C Doc PK-THT, tablet, buku diary, serta dompet atas nama Esther Aprilita. A.C Doc PK-THT merupakan singkatan dari Aircraft Document (Dokumen Pesawat) yang menjadi tanda registrasi pesawat di Indonesia.
Selain itu, turut ditemukan sertifikat personel kabin (FA) atas nama Esther Aprilita. Tim SAR juga menemukan jam tangan perempuan, dompet atas nama Heriyadi, dompet atas nama Ferry Irawan, satu unit ponsel merek Oppo, pouch berwarna hitam, serta kacamata.
Pada pukul 13.58 Wita, korban kedua ditemukan dalam kondisi jenazah sekitar 70 persen. Korban diduga berjenis kelamin perempuan dengan ciri-ciri rambut panjang, mengenakan celana jeans, baju hitam, dan sepatu Converse. Jenazah ditemukan dalam posisi tengkurap di kedalaman sekitar 350 meter di sebelah kanan serpihan kepala pesawat.
Pada pukul 16.09 Wita, tim SAR kembali menemukan sebuah kartu nama di sekitar lokasi pencarian. Sementara itu, pada pukul 19.15 Wita, SRU kembali ke posko dengan membawa temuan barang milik korban berupa dompet berisi identitas atas nama Muhammad Farhan Gunawan. Selain itu, ditemukan pula dompet berisi identitas atas nama Dwi Murdiono, STNK atas nama Koharuddin, sebuah ransel kecil, tablet, serta sejumlah barang lain yang telah mengalami kerusakan.
Tak berselang lama, sekitar pukul 19.30 Wita, tim SAR kembali ke Posko Tompobulu membawa temuan barang berupa pouch berisi catokan rambut, hair dryer, tas, serta perlengkapan kosmetik. Barang-barang tersebut ditemukan pada pukul 16.30 Wita di sekitar serpihan kepala pesawat pada kedalaman sekitar 300 meter.
Pada pukul 20.00 Wita, SRU 1 kembali ke posko dengan membawa temuan satu unit ponsel merek Samsung. Ponsel tersebut diketahui ditemukan lebih awal, yakni pada pukul 13.27 Wita di area pencarian.
Perkembangan Terbaru tentang Korban
Sebelumnya, Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa total korban yang telah ditemukan hingga hari ketiga pencarian berjumlah dua orang. Sebelumnya, satu korban lebih dahulu ditemukan pada hari sebelumnya, di lereng sedalam 200 meter. Sementara, korban kedua ditemukan pada kedalaman 500 meter. Meski demikian, Basarnas belum dapat memastikan identitas korban yang baru ditemukan tersebut.
“Kami sampaikan bahwa untuk penentuan identitas korban bukan kewenangan kami. Itu akan dideklarasikan oleh DVI Mabes Polri,” jelasnya. Berdasarkan informasi awal dari lapangan, korban kedua yang ditemukan diduga berjenis kelamin perempuan. Sementara korban pertama yang ditemukan sebelumnya diduga berjenis kelamin laki-laki. Namun, kepastian terkait identitas maupun kondisi korban tetap menunggu hasil resmi dari tim DVI Polri.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan korban berada di area dengan kondisi medan yang sangat ekstrem. “Kondisi lokasi sangat terjal, hampir tegak lurus. Kedalamannya cukup ekstrem dan didominasi bebatuan,” ungkapnya. Ia menambahkan, saat ini korban telah berada bersama tim penyelamat di lokasi, namun proses evakuasi masih menghadapi kendala cuaca dan medan. “Korban sudah bersama rescuer, namun evakuasi masih menunggu kondisi yang memungkinkan,” katanya.
Profil Esther Aprilita Sianipar
Esther Aprilita Sianipar adalah Pramugari Pesawat ATR 42-500. Ia merupakan warga Bukit Rancamaya, Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. Esther berasal dari keluarga Batak, marga Sianipar. Ia dikenal rekan-rekannya sebagai sosok yang ramah, profesional, dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya di dunia penerbangan.
Menurut informasi yang diperoleh, Esther adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari pasangan Adi Sianipar dan J. Siburian. Meskipun berasal dari keluarga keturunan Batak, Esther dan keluarganya tinggal di Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Ia dikenal sebagai pramugari yang berpengalaman dan telah mengabdi di dunia penerbangan selama sekitar 6–7 tahun sebelum tragedi kecelakaan terjadi. Pengalamam itu menjadikannya salah satu kru senior dalam pesawat yang ditumpanginya.
Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi semalam sebelum kecelakaan, saat Esther sempat menghubungi ayahnya dan bahkan meminta maaf jika ada kesalahan. Permintaan maaf itu sebuah hal yang jarang dilakukannya, menunjukkan kedekatan dan perhatian terhadap keluarga.