Polda Bali Mengonfirmasi Identitas Korban Pembunuhan
Kepolisian Daerah (Polda) Bali telah mengonfirmasi bahwa hasil identifikasi terhadap jenazah yang ditemukan sebelumnya telah keluar. Hasil tersebut menyatakan bahwa jenazah tersebut identik dengan warga negara Ukraina yang dilaporkan hilang, yaitu Ihor Komarov (28).
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, menjelaskan bahwa hasil resmi pemeriksaan tersebut telah diterima oleh pihak kepolisian pada tanggal 5 Maret 2026 kemarin. Ia menegaskan bahwa pihak keluarga korban akan segera menerima informasi resmi mengenai kematian tragis ini.
“Hasilnya sudah keluar tanggal 5 kemarin. Terkait pemberitahuan ke keluarga, itu pasti dan otomatis dilakukan,” kata Kabid Humas Polda Bali, pada Jumat 6 Maret 2026. “Informasi itu pasti disampaikan ke pihak sana (keluarga),” imbuhnya.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Polda Bali kini memfokuskan kekuatan untuk mengejar enam orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan hasil penyelidikan, para pelaku diduga kuat telah melarikan diri ke luar negeri sebelum sempat diamankan.
Kombes Pol Ariasandy menjelaskan bahwa pihaknya tidak bekerja sendiri. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan berbagai instansi terkait, termasuk Imigrasi, Hubinter, hingga Interpol untuk melacak keberadaan para tersangka yang identitasnya kini telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
“Kita kejar. Untuk pelaku, ada enam orang yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan sudah kita terbitkan DPO serta Red Notice,” bebernya. “Kami tetap berkoordinasi dengan Imigrasi, Hubinter, kemudian Interpol untuk mengejar keberadaan pelaku yang kami duga sudah berada di luar negeri,” sambung dia.
Kesulitan dalam Pelacakan Pelaku
Kesulitan dalam pelacakan ini juga dipicu oleh temuan bahwa para tersangka merupakan warga negara asing yang memiliki identitas ganda. Kombes Pol Ariasandy membeberkan bahwa para pelaku diduga memiliki lebih dari satu dokumen perjalanan resmi untuk mengelabuhi petugas.
“Seluruhnya merupakan warga negara asing dengan kepemilikan paspor yang bisa jadi lebih dari dua. Ya, ada yang memiliki paspor dua ataupun tiga,” jelasnya.
Keberhasilan polisi dalam memetakan jaringan ini berawal dari ketelitian penyidik dalam menelusuri jejak digital dan rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Salah satu kunci utama pengungkapan ini adalah penelusuran GPS pada kendaraan yang digunakan oleh para pelaku.
Kombes Pol Ariasandy memaparkan bahwa tim di lapangan berhasil mengidentifikasi sebuah mobil yang mencurigakan. Setelah dilakukan pengecekan terhadap pemilik kendaraan, polisi berhasil menemukan siapa penyewa mobil tersebut, yakni WNA Nigeria berinisial C yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus pemalsuan paspor yang kemudian menjadi pintu masuk untuk menetapkan keenam tersangka.
“Kita identifikasi dari hasil penelusuran GPS kendaraan. Kendaraan ini kita deteksi dari hasil pemeriksaan CCTV di sekitaran TKP. Dari situ kita telusuri pemiliknya, siapa yang menyewa, dan akhirnya berkembang menuju kepada tersangka-tersangka ini,” jelasnya.
Penyelidikan Lanjutan dan Isu yang Beredar
Terkait spekulasi yang beredar di media sosial mengenai keterlibatan jaringan mafia internasional dalam kasus ini, Polda Bali menyatakan masih melakukan pendalaman. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari kedutaan terkait maupun kepolisian negara asal mengenai latar belakang para pelaku dan korban.
Termasuk mengenai isu bahwa korban merupakan anak dari anggota jaringan tertentu, Kombes Pol Ariasandy menyebutkan bahwa informasi tersebut masih bersifat liar di dunia maya.
“Keterangan itu belum kita terima secara resmi. Mungkin rekan-rekan tahu lewat media sosial karena memang banyak video yang beredar di luar,” katanya. “Secara resmi, kami belum menerima itu dari kedutaan mengenai background atau latar belakang korban maupun pelaku,” tuturnya.
Polisi juga masih mendalami apakah aksi keji ini termasuk dalam pembunuhan berencana. Mengenai detail alat yang digunakan untuk memutilasi korban, pihak kepolisian memilih untuk berhati-hati sebelum ada bukti fisik yang ditemukan.
Kondisi jenazah saat ditemukan sendiri diperkirakan sudah meninggal lebih dari tiga hari karena sudah mengalami proses pembusukan.
“Intinya ini masih kita dalami, baik peran masing-masing tersangka siapa yang menculik, siapa yang melakukan penganiayaan, dan seterusnya,” paparnya. “Mohon doa dan dukungan masyarakat mudah-mudahan segera bisa kita ungkap dan amankan yang bersangkutan,” pungkas Kombes Pol Ariasandy.