Ibu Refpin ART yang Kurus Kering di Penjara Akibat Cubit Anak DPRD Bengkulu

Wahyudi
6 Min Read

Kondisi Keluarga Refpin yang Mengkhawatirkan

Kondisi keluarga Refpin kini menjadi perhatian masyarakat, terutama setelah anak gadisnya, Refpin (20), harus menghadapi kasus hukum di Bengkulu. Saat ini, Refpin berstatus sebagai terdakwa setelah eksepsinya ditolak oleh hakim Pengadilan Negeri Bengkulu dalam sidang yang digelar pada Kamis (12/3/2026).

Refpin merupakan seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang bekerja di rumah seorang anggota DPRD di Bengkulu. Ia dilaporkan karena diduga telah menganiaya anak majikan. Kini, ia tengah mendekam di penjara dan diperiksa dalam proses hukum.

Di sisi lain, ibu dari Refpin, Dedek Tarisna, tinggal di Desa Dharma Sakti, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Di tempat tersebut, Dedek tinggal bersama dua anak laki-lakinya yang masih kecil. Sedangkan suaminya, Sugito, diketahui merantau di Kota Palembang dan berjualan siomai.

Secara administrasi kependudukan, orangtua Refpin masih tercatat sebagai warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), tepatnya di Desa Trans Pangkalan, Kecamatan Rawas Ulu. Namun, sekitar 7 bulan terakhir, keluarga Refpin pindah ke Dusun 2, Desa Dharma Sakti, Kecamatan Tuah Negeri, Musi Rawas. Di sana, mereka tinggal di sebuah rumah kontrak dengan pemilik yang berada di Ibukota Jakarta.

Untuk mencapai rumah Refpin di Dusun 2, Desa Dharma Sakti, membutuhkan perjalanan kurang lebih satu jam dari Ibu Kota Muara Beliti, melewati Jalur Lubuklinggau-Muba.

Berdasarkan keterangan warga, Dedek Tarisna masih tinggal di Dusun 2 Desa Dharma Sakti. Namun, saat reporter tiba di rumahnya, tidak ada aktivitas dari keluarga Refpin. Bahkan, setelah diketuk beberapa kali, tidak ada respon dari pemilik rumah. Hanya saja, adik laki-laki terakhir Refpin yang masih duduk di bangku TK terlihat bermain bersama teman sebayanya seperti anak-anak pada umumnya.

Tetangga ibu Refpin mengaku sempat terkejut mendengar kabar bahwa Refpin tersandung kasus di wilayah Provinsi Bengkulu. Namun, mereka tidak mengetahui secara pasti kasus tersebut. “Kaget juga pertama dengar kalau. Tahunya dari hp anak saya sekitar bulan Februari kemarin, katanya gara-gara nyubit anak majikannya di Bengkulu,” kata tetangganya di Dusun Desa Dharma Sakti.

Dia juga mengatakan bahwa Refpin dikenal sebagai anak yang baik, begitu juga kedua adiknya yang saat ini tinggal bersama ibunya. “Anak-anaknya baik semua, ramah dengan tetangga. Bahkan adiknya yang paling kecil, sering belanja ke warung,” ucapnya. “Kalau ibu Refpin itu jarang keluar dan berbaur dengan tetangga sekitar. Paling keluar rumah, kalau ke warung saja,” ucapnya.

Ibu dan kedua adik Refpin diketahui belum lama berempat tinggal di Dusun 2 Desa Dharma Sakti, kemungkinan baru sekitar kurang lebih 7 bulan terakhir. “Alamat aslinya masih di Muratara, di sini belum lama mungkin sekitar 7 bulan ini,” ungkapnya.

Diungkapkan tetangganya, usai kasus Refpin viral, sang ibu lebih sering murung di dalam rumah dan kurang nafsu makan, hingga badannya kurus. “Setelah anaknya kena kasus itu, ibunya jarang keluar, kemudian kondisinya juga kasian, badannya kurus, karena tidak mau makan. Bahkan kalau ada tetangga yang main, dia sering nangis kalau cerita anaknya itu,” katanya.

Sepengetahuannya, Refpin merupakan anak ketiga dari 6 bersaudara yang dikenal dengan kemandiriannya. Bahkan, usai tamat SMP, Refpin sudah langsung bekerja. “Mandiri anaknya, setelah tamat SMA diajak bibinya kerja lewat yayasan. Nah bibinya dapat majikan di Jambi dan si Refpin ini dapat majikan di Bengkulu,” katanya.

Namun, berdasarkan informasi Refpin berhenti bekerja di Bengkulu karena tidak betah. Saat itulah Refpin sempat pulang ke rumah. Kemudian tak lama, Refpin kembali bekerja di Palembang. “Jadi sebelum jadi tersangka dan kasusnya dengan majikannya di Bengkulu, dia sempat pulang kemudian kerja lagi di Palembang,” jelasnya.

Setelah kasusnya mencuat, sang ayah beberapa kali terlihat pulang ke rumah dan sering pergi ke Bengkulu, sehingga menghabiskan biaya. Bahkan rumah yang dikontraknya, sempat nunggak hingga 3 bulan. “Ayahnya yang sering bolak balik ke Palembang-Bengkulu, sampai kehabisan ongkos. Bahkan rumahnya sempat nunggak juga 3 bulan, karena uangnya habis untuk biaya itu,” ungkapnya.

Sementara itu, tetangga yang sama juga mengungkapkan bahwa kedua orangtua Refpin merupakan warga asli Desa Dharma Sakti Kecamatan Tuah Negeri. Namun, saat ini semuanya pergi merantau ke Palembang. Bahkan harta bendanya di Desa Dharma Sakti habis dijual. “Jadi pas pulang ke sini tidak punya rumah. Dulu mereka kan tinggal di Muratara. Di sana masih punya kebun, tapi habis untuk biaya pengobatan anaknya yang kelima,” katanya.

Dimana anak laki-laki kelima orangtua Refpin, pernah menduduki air panas saat di tempat hajatan. Sampai akhirnya harus berobat berkelanjutan. “Nah untuk pengobatan itu mereka habis-habisan, kebunnya habis,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Dharma Sakti mengaku, bahwa mereka memang saat ini bertempat tinggal di Dusun 2 Desa Dharma Sakti Kecamatan Tuah Negeri, Musi Rawas. Namun, secara administrasi mereka masih merupakan warga Desa Trans Pangkalan Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).




Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *