Iran Tawarkan Perdamaian di Selat Hormuz

Eka Syaputra
4 Min Read

Iran Menawarkan Solusi Baru untuk Situasi di Selat Hormuz

Pemerintah Iran kini mengajukan proposal baru terkait situasi di Selat Hormuz dalam negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Proposal ini bertujuan untuk mencegah konflik yang lebih besar dan menciptakan kesepakatan yang dapat menyelesaikan ketegangan yang sedang berlangsung. Dalam laporan tersebut, Teheran dilaporkan bersedia membiarkan kapal-kapal melintas dengan bebas di wilayah perairan Oman tanpa risiko serangan.

Langkah ini diajukan sebagai bagian dari upaya diplomatis untuk menjaga stabilitas di kawasan. Namun, penawaran ini tidak sepenuhnya tanpa syarat. Iran menekankan bahwa tawaran tersebut bergantung pada kemampuan Washington untuk memenuhi tuntutan Tehran. Sumber yang tidak disebutkan identitasnya menyatakan bahwa kondisi ini menjadi pusat bagi setiap potensi terobosan terkait Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur air sempit sepanjang 34 kilometer yang menghubungkan Teluk dengan Samudra Hindia. Jalur ini sangat penting karena menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Selain itu, selat ini juga menjadi rute krusial bagi komoditas lain seperti pupuk. Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, ratusan kapal tanker dan kapal lainnya, serta sekitar 20.000 pelaut, terjebak di dalam kawasan Teluk.

Meski gencatan senjata selama dua minggu telah berlaku sejak 8 April dan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang hampir berakhir, kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi isu krusial dalam meja perundingan. Persoalan ini menjadi salah satu titik utama dalam negosiasi antara kedua pihak.

Syarat dan Detail Proposal

Menurut sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya, Iran bersedia membiarkan kapal menggunakan sisi lain dari Selat Hormuz yang masuk dalam wilayah perairan Oman, tanpa hambatan dari pihak Tehran. Namun, ada beberapa catatan penting yang harus dipertimbangkan. Pertama, Iran menekankan bahwa tawaran tersebut sangat bergantung pada kesiapan Washington untuk memenuhi tuntutan Tehran. Kedua, belum ada kejelasan apakah Iran juga setuju untuk membersihkan ranjau yang mungkin telah dipasang di jalur tersebut. Ketiga, apakah semua kapal, termasuk yang terkait dengan Israel, akan diizinkan melintas dengan bebas.

Pihak Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri Iran sendiri belum memberikan komentar resmi terkait perkembangan ini. Sementara itu, sumber keamanan Barat menyebutkan bahwa proposal ini memang sedang dalam pengerjaan, meski belum jelas bagaimana respons dari Washington.

Perubahan Sikap Iran

Proposal ini dinilai sebagai langkah nyata pertama dari Tehran untuk menarik diri dari gagasan yang lebih agresif yang sempat muncul dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, Iran sempat melontarkan ide untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas atau memaksakan kedaulatan sepihak di selat tersebut. Langkah-langkah tersebut sempat dikecam oleh industri pelayaran global karena dianggap melanggar konvensi maritim dunia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) bahkan secara tegas menolak ide pengenaan tol tersebut karena dinilai akan menciptakan preseden yang berbahaya. Jika terealisasi, tawaran Iran ini akan menjadi langkah awal untuk mengembalikan status quo pelayaran di Selat Hormuz yang telah berjalan selama puluhan tahun.

Sistem Pengaturan Lalu Lintas di Selat Hormuz

Sistem pengaturan lalu lintas di selat ini sebenarnya telah diadopsi sejak tahun 1968 oleh badan pelayaran PBB melalui kesepakatan negara-negara kawasan, yang membagi koridor pelayaran melalui perairan Iran dan Oman. Namun, sejak blokade AS terhadap kapal minyak Iran dimulai pada Senin (13/4/2026), lalu lintas pengiriman secara luas masih terpantau sepi.

Dengan adanya proposal baru ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi kembali normalnya aktivitas pelayaran di kawasan yang vital bagi pasokan energi dunia. Meskipun demikian, masih ada banyak hal yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan akhir bisa dicapai.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *