Kado Natal untuk Mama, Kisah Terakhir Maria, Mahasiswi yang Meninggal Usai Diperkosa Dosen

Rafitman
5 Min Read

Kasus Kematian Evia Maria: Dugaan Pelecehan dan Rasa Syok Keluarga

Kasus kematian tak wajar yang menimpa Evia Maria, seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Jurusan Pendidikan Guru SD Universitas Manado (Unima), kini menjadi sorotan publik. Jenazahnya ditemukan di indekos tempat ia tinggal di kawasan Kaaeten, Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara pada Selasa (30/12/2025) pagi.

Evia Maria sempat menulis surat berisi laporan atas tindakan pelecehan yang ia alami dari seorang dosen di kampusnya. Kepergian Maria yang tidak wajar ini membuat keluarga sangat syok. Apalagi, ia seharusnya menjalani ujian seminar proposal skripsi pada Selasa (6/1/2026).

Kehidupan Sehari-hari Evia Maria

Menurut sang tante, Ketsia, Evia dikenal sebagai mahasiswi yang pintar dan agak pendiam semasa hidupnya. “Ia memang pendiam, tapi rajin,” katanya. Maria juga giat belajar dan sering lupa makan saat mengerjakan tugas kelompok. “Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya,” tambah Ketsia.

Sebelum Natal tiba, Ketsia sempat berkomunikasi dengan Evia. Ia bertanya apakah keponakannya itu akan pulang atau tidak untuk merayakan Natal bersama keluarga. Kala itu, Evia menjawab tidak karena tak mendapat tiket pulang. Dirinya terakhir ketemu Evia beberapa bulan lalu, saat ia sedang KKN dan mencari tempat kos.

Unggahan Story Terakhir dan Kado Natal

Ketsia mengungkap bahwa Evia sempat mengunggah foto kertas yang menandai keberhasilannya menyelesaikan KKN. “Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama,” kata Ketsia.

Penemuan Luka Biru di Tubuh Jenazah

Jenazah Evia Maria Mangolo akan menjalani otopsi di RS Kandou Manado, pada Rabu (31/12/2025). Otopsi diputuskan oleh keluarga setelah ditemukan sejumlah luka yang membiru di tubuh jenazah.

Ketsia bercerita bahwa pada Selasa (30/12/2025) malam, ia memperoleh dorongan untuk memeriksa kaki dari jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya. Beberapa saat kemudian, atas saran seseorang, pihaknya membuka tubuh jenazah dan ditemukan tanda biru di pinggang kiri dan di paha atas.

[Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi.]

Akun Instagram Dosen yang Dituduh

Dosen DM yang dituduh melakukan pelecehan terhadap Maria memiliki akun Instagram dengan 313 pengikut. Dari pantauan Tribun Trends, akun tersebut telah lama tidak aktif. Unggahan terakhirnya dibuat pada 27 Agustus 2015, di mana ia memamerkan foto bersama seorang wanita yang diduga adalah istrinya. Dalam akun tersebut, sang dosen memang kerap mengunggah potret bareng keluarga. Di foto-foto yang ditampilkan, ia memiliki seorang istri dan dua anak, satu laki-laki, satu perempuan. Namun tidak diketahui identitas dari keluarganya.

Reaksi Alumni PGSD Unima

Kasus yang menimpa Evia Maria membuat alumni PGSD Unima ikut marah. Seorang alumni bernama Wulandari Albarzanji ikut buka suara melalui unggahan Instagramnya pada Selasa (30/12/2025). Wulan mengaku sangat marah ketika pertama kali mendengar kabar soal Evia Maria. “Halo semua, saya Wulan alumni PGSD Unima. Hari ini saya marah sekali. Kita dapat kabar ada mahasiswa Unima semester akhir nekat bunuh diri karena mengalami pelecehan seksual oleh dosen yang ada di PGSD Unima,” ungkapnya.

Ia juga kaget ketika membaca nama dosen yang dimaksud oleh Evia. Dalam surat terakhirnya, Evia Maria memang menuliskan nama panjang dosen yang melecehkannya. Menurut Wulan, nama tersebut sama dengan nama atas kejadian serupa 10 tahun yang lalu. “Ternyata, ini adalah sosok dosen yang sama dari kurang lebih 10 tahun lalu saya menjadi mahasiswa di sana, yang masih berkeliaran di sekitaran kampus.”

Harapan untuk Masa Depan

Wulan lantas meminta semua pihak, terutama alumni untuk ikut mengawal kasus ini. “Kita sama-sama harus mengawal kasus ini. Kita harus sama-sama putus mata rantai ini karena sudah ada korban. Saya yakin mungkin teman-teman dulu ingin juga bersuara, tapi takut. Hari ini sudah ada korban adik kita yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Jangan lagi ada mahasiswa-mahasiswa seperti itu. Jangan lagi ada yang dilecehkan dengan berkedok nilai.”

Share This Article
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *