Kami sahur dengan nasi sisa, kisah warga Jambi tertipu di Kamboja

Lani Kaylila
6 Min Read

Kehidupan Korban Penipuan Kerja di Penampungan Kamboja Saat Ramadan

Di tengah suasana Ramadan yang khas, Andri Budi Sanjaya dan Syehdi, dua warga Jambi yang menjadi korban penipuan kerja (scam) di Kamboja, hanya bisa sahur dengan sisa makanan yang mereka simpan malam sebelumnya. Mereka tinggal di penampungan imigrasi Indonesia-Tiongkok, tempat mereka berada selama beberapa bulan.

Lebih dari itu, ada kerinduan yang tak terucap, yaitu dua bulan tanpa mendengar suara azan di masjid. “Kami sahur dengan sisa makanan yang kami simpan malam tadi. Kami semua rindu Tanah Air,” ujar Andri saat dihubungi melalui pesan singkat.

Menurut Andri, selama berada di penampungan imigrasi Indonesia-Tiongkok di Kamboja, ia belum sekalipun mendengar lantunan azan. “Selama dua bulan tidak ada dengar suara azan. Teman-teman lain ada yang dengar di KBRI, tapi kalau saya belum,” katanya.

Ketiadaan suara azan di negeri orang menjadi pukulan batin tersendiri bagi para korban, yang mayoritas muslim. Ramadan terasa sunyi, jauh dari suasana kampung halaman yang biasanya dipenuhi panggilan salat dan kebersamaan keluarga.

Suasana Berbuka Puasa di Penampungan

Andri Budi Sanjaya membagikan momen berbuka puasa di Penampungan Indonesia–Tiongkok. Sejumlah foto dan video suasana berbuka ia kirimkan kepada media, Kamis (19/2/2026).

Dalam dokumentasi tersebut, tampak puluhan paket makanan dibungkus plastik dan disusun rapi di satu area. Para penghuni penampungan terlihat mengantre dengan tertib untuk mengambil jatah berbuka. Andri juga mengirimkan video suasana setelah berbuka puasa. Terlihat para penghuni penampungan duduk berkelompok sambil berbincang di area yang telah disediakan.

Ia mengatakan, menu berbuka yang disediakan sederhana. “Kami berbuka puasa dengan menu seadanya, tanpa buah-buahan, hanya nasi dan lauk sederhana,” ujarnya.

Meski bersyukur masih bisa menjalankan ibadah puasa, Andri mengaku mulai merasa lelah berada di penampungan tersebut. Ia menyebut sudah hampir satu bulan menunggu kepulangan. “Di penampungan ini hampir sebulan, sudah lama sekali. Sudah bosan dan lelah,” katanya.

Kabar dari Korban Daerah Lain

Di sisi lain, Andri mengaku mendapat kabar dari rekannya asal Palembang, Farel Farezi, bahwa sekitar 15 korban asal Sumatera Selatan telah dihubungi langsung oleh pemerintah daerah mereka. “Untuk korban Palembang, 15 orang sudah ditelepon sama pihak pemerintah Palembang dan Balai Pelayanan Imigrasi Palembang,” ujarnya.

Para korban tersebut, kata Andri, dijanjikan akan segera dipulangkan ke Indonesia. Kabar itu membuat Andri dan korban asal Jambi lainnya berharap ada perhatian serupa dari pemerintah daerah.

“Saya berharap ada pihak Pemerintah Jambi yang menghubungi saya,” katanya.

62 WNI Dipulangkan, Mereka Masih Tertahan

Andri menyebut, pada hari yang sama total 62 WNI diberangkatkan pulang ke Indonesia dari penampungan. Mereka berasal dari Jakarta, Makassar, Manado, Medan, hingga Jawa Barat. Sebagian korban dari lokasi penampungan lain seperti senso dan hotel juga ikut diberangkatkan.

Sementara itu, nama Syehdi, rekannya asal Kabupaten Sarolangun, telah masuk dalam daftar yang bisa pulang. Namun Syehdi memilih menunda keberangkatan karena ingin kembali ke Indonesia bersama Andri.

Dalam video yang dikirim kepada media, Andri dan Syehdi tampak menyampaikan permohonan secara langsung. Keduanya mengaku tidak memiliki uang dan tidak mampu membeli tiket pesawat untuk pulang. Mereka meminta bantuan kepada Pemerintah Kota Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, DPRD kota dan provinsi, Dinas Sosial, Baznas, serta pihak terkait lainnya.

“Kami memohon pertolongan, Pak, supaya kami cepat pulang ke Indonesia. Kami sudah tidak tahan lagi di sini. Sudah satu bulan kami di penampungan imigrasi Indonesia yang ada di Kamboja ini,” ucap Andri dalam video tersebut.

Di negeri tanpa azan itu, dua warga Jambi itu bukan hanya rindu pada keluarga, tetapi juga pada suara azan.

Banyak Warga Medan di Penampungan

Andri Budi Sanjaya juga mengirimkan sebuah video yang merekam kondisi korban lain di penampungan tempat ia berada. Dalam video tersebut, terlihat 11 korban asal Medan duduk berderet di dalam sebuah kamar dengan kondisi sederhana.

Seorang pria tampil mewakili mereka untuk menyampaikan permohonan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar segera membantu proses pemulangan ke Indonesia. Pria tersebut diketahui bernama Budi Akbar, warga Kota Medan, Sumatera Utara.

Dalam pernyataannya, Budi menuturkan bersama 10 rekannya tidak memiliki biaya untuk membeli tiket pesawat pulang ke Tanah Air. Mereka mengaku menjadi korban penipuan pekerjaan dan dipaksa bekerja sebagai pelaku scam setelah dijanjikan pekerjaan di restoran.

“Kami dijanjikan kerja restoran, tapi ternyata dijadikan pelaku scammer. Kami bekerja di bawah tekanan. Kami tidak tahu sebelumnya bahwa itu tindak pidana,” ujarnya dalam video tersebut.

Budi mengatakan, mereka berhasil melarikan diri setelah adanya razia besar-besaran di lokasi perusahaan tempat mereka bekerja. Saat ini, mereka berada di penampungan imigrasi di Kamboja dan telah menunggu sekitar satu bulan.

Ia pun memohon kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, beserta jajaran pemerintah provinsi agar membantu memulangkan mereka ke kampung halaman.

“Kami tidak mampu membeli tiket pesawat untuk pulang. Kami mohon bantuan agar bisa kembali ke Sumatera Utara, bertemu keluarga, istri, dan sanak saudara,” katanya.

Hingga kini, para korban masih menunggu kepastian bantuan dan proses pemulangan dari pemerintah daerah masing-masing.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *