Kisah kelam Cindy Rizap terungkap, joki koas bayar mahal hingga bisa beli motor cash

Bayu Purnomo
4 Min Read

Tabir Gelap Masa Lalu Cindy Saat Menempuh Pendidikan Kedokteran Terungkap

Drama yang melibatkan selebgram Cindy Rizap dan dokter Riky Febriansyah Saleh kini memasuki babak baru yang lebih mengejutkan. Selain dugaan perselingkuhan, kini tabir gelap masa lalu Cindy saat menempuh pendidikan kedokteran mulai dikuliti oleh rekan seangkatannya sendiri. Isu ini mengungkap praktik joki jaga malam yang dilakukan oleh Cindy selama masa koas di rumah sakit.

Gaya Hidup Instan di Balik Jas Putih

Dunia kedokteran yang dikenal penuh perjuangan dan kurang tidur, diduga dilewati Cindy dengan cara pintas. Seorang sumber yang mengaku sebagai rekan seangkatannya membongkar praktik joki jaga malam yang dilakukan oleh sang selebgram selama masa koas di rumah sakit. Bukan angka sembarangan, tarif yang ditawarkan Cindy untuk menggantikan posisinya saat shift malam disebut-sebut mencapai angka fantastis. Saking rutinnya praktik ini dilakukan, sang joki dikabarkan meraup keuntungan besar hingga mampu membeli aset pribadi.

“Kami seangkatan dengan Cindy Rizap, dah terkenal juga faktanya dia kalo koas ga pernah jaga malam karena slalu bayar orang,” ungkap sumber tersebut melalui pesan singkat yang viral.

Tarif Sejuta Per Malam di Stase Anak

Rahasia umum di lingkungan kampus menyebutkan bahwa praktik ini paling sering terjadi saat mereka bertugas di stase anak, khususnya di RS Tarakan. Dalam sebuah tangkapan layar percakapan antar dokter, terungkap bahwa biaya satu kali shift pengganti mencapai Rp1 juta. Uang “tutup mulut” dan jasa tenaga tersebut ternyata menjadi ladang rezeki bagi temannya yang bersedia menjadi joki. Akumulasi dari bayaran konsisten tersebut dikabarkan cukup untuk membeli satu unit sepeda motor secara tunai.

“Per shift bayar sejuta?,” tanya seorang rekan dokter memastikan.

“Iyaaa betul. Temennya ampe bisa beli motor. Gegara jokiin dia di anak tarakan dok,” balas rekan Cindy lainnya.

Citra vs Realita: Kelimpungan di Hadapan Konsulen

Meski di media sosial Cindy kerap membangun citra sebagai mahasiswi yang tekun belajar, realita di lapangan justru berbanding terbalik. Absennya Cindy dari praktik langsung di rumah sakit membuatnya sering kali tak berkutik saat berhadapan dengan dokter konsulen. Sumber yang sama menyebutkan bahwa Cindy sering gagal menjawab pertanyaan medis yang bersifat mendasar karena kurangnya pengalaman klinis akibat terlalu sering mengandalkan joki.

“Semua yang dia post di sosmed dia belajar itu sebenernya ga bener wkwk karna buktinya kalo ditanya hal basic ama konsulen aja dia gabisa,” tambah sumber itu.

Privilese yang Membungkam Keadilan

Tak hanya soal joki, perjalanan akademik Cindy juga dikabarkan sempat tersendat. Ia disebut pernah terlambat lulus pada masa preklinik dan harus mengulang selama dua semester akibat tidak lulus di salah satu blok mata kuliah. Ironisnya, meski dugaan pelanggaran etika ini sudah menjadi rahasia publik di kampusnya, pihak institusi disebut sulit mengambil tindakan tegas. Ada dugaan kuat bahwa latar belakang keluarga dan privilese tertentu membuatnya seolah “tak tersentuh” oleh sanksi Drop Out (DO).

“Ga berani speakup telalu banyak karna kampus sepertinya ga bakal DO dia kak soalnya ortunya punya previllage.. maap ya kak,” pungkas sumber tersebut.

Klarifikasi Belum Datang

Hingga saat ini, pihak Cindy Rizap maupun pihak kampus terkait belum memberikan klarifikasi resmi mengenai tudingan miring yang merusak citra calon tenaga medis tersebut.

Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *