Kisah perjalanan hidup Jenderal TNI Purn Try Sutrisno dari penjaja koran hingga wapres

Rizal Hartanto
6 Min Read

Perjalanan Hidup dan Karier Jenderal TNI Purn. Try Sutrisno

Try Sutrisno adalah sosok yang dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam bidang militer dan pemerintahan. Dari masa kecilnya hingga meninggal dunia di usia 90 tahun, kisah hidupnya menjadi cerminan perjuangan dan dedikasi yang luar biasa.

Masa Kecil yang Penuh Tantangan

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, putra pasangan Soebandi dan Mardheyah. Keluarganya tinggal di kawasan Genteng, Bandar Lor, Surabaya. Masa kecilnya berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans di Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Setelah Indonesia merdeka, kondisi keamanan belum sepenuhnya stabil. Saat Belanda kembali melancarkan agresi militer, keluarganya sempat mengungsi ke Mojokerto. Dalam keterbatasan tersebut, Try harus berhenti sekolah sementara waktu dan membantu perekonomian keluarga dengan berjualan koran serta rokok. Pengalaman hidup di masa perang dan kesulitan ekonomi itu membentuk karakter disiplin serta keteguhan sikap Try Sutrisno sejak usia muda.

Perjalanan Karier Militer

Latar belakang tersebut menjadi bagian dari kisah perjuangannya menapaki karier di dunia militer dan pemerintahan. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Try Sutrisno melanjutkan pendidikan militer di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) di Bandung. Ia sempat gagal pada tahap pemeriksaan fisik, namun ia berhasil memperoleh kesempatan kedua dan dinyatakan lulus pada 1959.

Karier militernya dimulai dengan pangkat Letnan Dua Zeni. Namun baru satu tahun menjalani pendidikan, Try sudah diterjunkan ke medan tugas. Penugasan awal dijalani sebagai Komandan Peleton Zeni Tempur di Palembang. Dalam periode tersebut, ia terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Pada 1962, Try Sutrisno kembali terlibat dalam operasi militer, yakni Operasi Pembebasan Irian Barat. Try juga pernah ditunjuk menjadi Komandan Batalyon Zeni Tempur Amphibi di Surabaya dan Kepala Biro pada Staf Umum Angkatan Darat 2/Operasi pada 1972 hingga 1974.

Perjalanan kariernya berlanjut sebagai ajudan Presiden RI (1974–1978). Dalam penugasan tersebut, ia berinteraksi dengan Soeharto yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal dan ditunjuk Presiden Soekarno sebagai Panglima Komando Mandala yang bermarkas di Sulawesi. Dari operasi inilah kedekatan antara Try Sutrisno dan Soeharto mulai terjalin.

Setelah Soeharto menjadi Presiden ke-2 RI pada 1968, karier Try Sutrisno terus berkembang. Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Penugasan itu menjadi titik penting dalam perjalanan karier militernya.

Menjadi Wakil Presiden

Dalam Sidang Umum MPR 1997, Try Sutrisno ditetapkan sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1993–1998. Ia dicalonkan oleh Fraksi ABRI MPR-RI, mendahului pilihan terbuka dari Presiden Soeharto ketika itu. Try Sutrisno tercatat menjadi wakil presiden Soeharto yang ketiga dari kalangan militer. Ia menjabat di kursi RI-2 persis setelah Sudharmono turun tahta.

Pada 1998, tugas Try Sutrisno sebagai wapres berakhir. Ia lantas digantikan oleh BJ Habibie yang terpilih sebagai wakil presiden melalui Sidang Umum MPR 1998. Setelah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden, Try Sutrisno tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi purnawirawan TNI.

Kehidupan Pasca-Pensiun

Ia kerap hadir dalam forum-forum kebangsaan serta menyampaikan pandangan mengenai isu-isu strategis nasional. Try Sutrisno pernah menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) hingga 2003 dan Ketua Dewan Pembina Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Jabatan terakhir yang ia emban adalah Wakil Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila periode 2022–2027.

Meninggal Dunia

Try Sutrisno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3/2026) hari ini. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya. “Benar,” ujar Albertus kepada Kompas.com, Senin.

Berdasarkan informasi yang diterima, Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD pada pukul 06.58 WIB tadi. Menurut rencana, jenazah akan dishalatkan di Masjid Sunda Kelapa dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada siang ini.

Pihak keluarga menyebut tidak ada penyakit tertentu yang dialami Try yang menjadi penyebab meninggal dunia. Anak Try, Taufik Dwi Cahyono, menyebutkan bahwa kondisi kesehatan sang ayah menurun karena faktor usia Try yang sudah menginjak 90 tahun.

Taufik menuturkan, sebelum wafat, Try telah dirawat di RSPAD sejak tanggal 16 Februari 2026 lalu karena sempat tidak punya selera untuk makan. “(Dirawat sejak) 16 Februari. Jadi cuman tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan,” kata Taufik di RSPAD Gatot Soebroto, Senin, dikutip dari Kompas.com.

Taufik menuturkan, tim dokter RSPAD dan kepresidenan sudah mengupayakan pengobatan terbaik kepada Try. Namun, pada Senin pagi, keluarga mendapat kabar bahwa kondisi kesehatan Try memburuk dan dinyatakan meninggal dunia.

“Sampai di sini diusahakan segala macam-macam, ya mungkin sudah waktunya, alhamdulillah Bapak tidak menderita sakit yang terlalu lama dan yang lain-lainnya begitu, memang sudah usia,” ujar Taufik.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *