Respons Presiden AS Donald Trump Ditantang Menculik Putin Seperti Venezuela

Kaila Azzahra
5 Min Read

Tantangan untuk Donald Trump dan Kekacauan di Perang Rusia-Ukraina

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah menerima tantangan dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Dalam sebuah pernyataan, Zelenskyy menantang Trump apakah ia berani melakukan tindakan serupa dengan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Tantangan ini muncul di tengah situasi konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih memanas sejak invasi besar-besaran yang dilakukan oleh Rusia pada tahun 2022.

Membahas Tantangan yang Diberikan oleh Zelenskyy

Zelenskyy mengungkapkan bahwa AS telah berhasil menangkap Nicolas Maduro, presiden Venezuela, dalam operasi militer yang dilakukan pada awal bulan Januari 2026. Ia menyarankan agar Trump melakukan hal yang sama terhadap Presiden Rusia, Vladimir Putin. Menurut Zelenskyy, jika cara seperti itu bisa diterapkan terhadap diktator, maka AS tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Namun, Trump memberikan respons yang menohok. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menculik Putin karena memiliki hubungan yang baik dengannya. Meskipun demikian, Trump mengkritik Joe Biden, pendahulunya, yang dinilai terlalu mendukung Ukraina tanpa menuntut kompensasi. Ia juga menuduh Maduro bekerja sama dengan geng kriminal dan penyelundupan narkoba ke AS, serta menjulukinya sebagai diktaktor Venezuela.

Konteks Perang Rusia-Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.418 pada Minggu (11/1/2026). Konflik ini bermula dari serangan militer besar yang dilancarkan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022. Akar konflik dapat ditelusuri sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik dan kepentingan keamanan yang kerap bertolak belakang.

Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat dan secara terbuka menyatakan niat bergabung dengan NATO serta Uni Eropa, langkah yang dianggap Rusia sebagai ancaman bagi stabilitas keamanannya. Situasi semakin memanas setelah Revolusi Maidan pada 2014 yang menggulingkan presiden Ukraina yang pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea, sementara pertempuran bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.

Serangan Rudal Balistik dan Dampaknya

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengkonfirmasi bahwa Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan darurat pada hari Senin untuk membahas serangan skala besar terbaru Rusia terhadap Ukraina. Ia mengatakan serangan tersebut menggunakan rudal balistik jarak menengah Oreshnik. “Pertemuan tersebut akan membahas pelanggaran mencolok Rusia terhadap Piagam PBB,” tulis Sybiha di X, pada hari Sabtu.

Stéphane Dujarric, juru bicara sekretaris jenderal PBB, mengatakan dampak besar dari serangan tersebut. “Serangan besar-besaran oleh Rusia pada hari Jumat telah mengakibatkan banyak korban sipil dan merampas layanan penting bagi jutaan warga Ukraina, termasuk listrik, pemanas, dan air pada saat kebutuhan kemanusiaan sangat mendesak,” katanya, dikutip dari The Guardian.

Perkembangan Terkini di Wilayah Front

Para insinyur di Kyiv bergegas untuk menstabilkan jaringan listrik yang hampir lumpuh akibat serangkaian serangan Rusia, termasuk satu serangan dua malam lalu. Warga kota berkerumun di dalam apartemen mereka yang tidak berpenghangat untuk melindungi diri dari dinginnya musim dingin pada hari Sabtu (10/1/2026). Sementara para insinyur bekerja untuk memulihkan listrik, air, dan pemanas.

Gubernur wilayah Belgorod Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina, mengatakan pada hari Sabtu bahwa setidaknya 600.000 penduduk kehilangan aliran listrik, pemanas, dan air setelah serangan rudal Ukraina. Dalam pernyataan yang diunggah di Telegram, Vyacheslav Gladkov mengatakan upaya sedang dilakukan untuk memulihkan pasokan, tetapi situasinya sangat sulit.

Selain serangan di Belgorod, Rusia melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak Ukraina yang memicu kebakaran di sebuah depot minyak di wilayah Volgograd selatan Rusia pada hari Sabtu. Staf Umum Ukraina mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah menyerang depot minyak Zhutovskaya semalam. Dalam sebuah pernyataan di Telegram, militer Ukraina mengatakan depot tersebut memasok bahan bakar ke pasukan Rusia, dan menambahkan bahwa kerusakan sedang dinilai.

Militer Ukraina mengatakan bahwa selain depot minyak di Volgograd, mereka juga menyerang fasilitas penyimpanan pesawat tak berawak milik unit Divisi Senapan Motor ke-19 Rusia di Zaporizhzhia, Ukraina selatan, serta titik komando dan kendali pesawat tak berawak di dekat kota Pokrovsk di timur.

Pesawat Ukraina Serang Voronezh

Serangan pesawat tak berawak Ukraina semalam melukai sedikitnya empat orang dan merusak beberapa bangunan di kota Voronezh, Rusia selatan, menurut gubernur wilayah Voronezh pada hari Minggu. Sebuah fasilitas layanan darurat, tujuh gedung apartemen, dan enam rumah rusak akibat serangan tersebut, kata gubernur, Alexander Gusev, melalui aplikasi pesan Telegram. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Sabtu bahwa pasukannya menggunakan pesawat terbang, drone, rudal, dan artileri untuk menyerang fasilitas energi dan depot penyimpanan bahan bakar Ukraina pada hari Jumat dan semalam. Mereka tidak segera merinci target atau kerusakan yang ditimbulkan.

Share This Article
Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *