Laporan Utama: Kenaikan Harga Ban Mobil Menghancurkan Bisnis

Zaiful Aryanto
7 Min Read



Perjalanan bisnis otomotif di Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan berbagai peristiwa menarik. Meski pasar mobil baru menghadapi tekanan yang signifikan, tidak semua merek mengalami penurunan. Justru sebaliknya, bisnis ban karet mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Laporan dari Bridgestone menunjukkan bahwa ada sejumlah segmen yang masih bisa memberikan keuntungan selain dari pasokan pabrikan mobil.

Namun, secara umum, penjualan ban tetap menghadapi tekanan. Volume penjualan turun sedikit, sehingga bisnis ban mobil di Tanah Air terlihat seperti mengalami fluktuasi. Ada merek yang tumbuh, ada juga yang mengalami penurunan. Di tengah persaingan ketat antarbrand ban mobil, muncul satu merek baru, yaitu Sailun, yang bersemangat untuk memasuki sektor ini.



Perhitungan investasi telah ditetapkan, target jelas, dan selanjutnya adalah menjalankan roda pabrik serta distribusi. Ini menjadi kabar baik karena Indonesia masih dianggap memiliki potensi besar. Selain itu, pemilik merek dapat mengintegrasikan rantai pasok dalam negeri. Mulai dari bahan baku, produksi hingga distribusi semuanya berjalan di dalam negeri.



Artinya, fondasi bisnis yang dibangun kuat dan ditujukan pada strategi jangka panjang. Penerapan teknologi, peningkatan kompetitivitas, serta kemampuan menghasilkan produk dan layanan unggul memberikan manfaat bagi konsumen.



Karena jika sudah demikian, investor tidak hanya menyediakan produk, tetapi juga membangun kepercayaan.

Stabilitas Ekonomi Tantangan Industri Ban

Industri ban nasional masih menghadapi tantangan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. Meskipun begitu, PT Bridgestone Tire Indonesia tetap optimistis bahwa pasar ban Tanah Air akan tumbuh positif. Hal ini didorong oleh strategi penyesuaian produk dan layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan konsumen.

Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, mengatakan bahwa tantangan utama industri ban saat ini berasal dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Namun, ia menegaskan bahwa fokus perusahaan bukan hanya pada tekanan eksternal, melainkan bagaimana menjawab kebutuhan pasar secara tepat.

“Tantangan terbesar adalah perubahan ekonomi, namun fokus kami adalah bagaimana menghadirkan produk dan layanan toko retail yang sesuai dengan permintaan konsumen,” ujar Mukiat kepada OTOMOTIF, Jumat (23/1/2026).

Di tengah tantangan tersebut, industri ban nasional dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan. Mukiat menyebutkan bahwa sepanjang 2025 industri tumbuh di kisaran 4 hingga 5 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh pasar ban mobil penumpang dan kendaraan niaga, baik untuk kebutuhan original equipment manufacturer (OEM) maupun replacement.

“Ban mobil passenger dan komersial baik untuk market replacement dan OEM tetap menjadi andalan bagi Bridgestone Indonesia,” katanya.

Selain pasar domestik, Bridgestone Indonesia juga masih mengandalkan ekspor sebagai penopang kinerja bisnis. Saat ini, produk ban Bridgestone dari Indonesia telah diekspor ke lebih dari 70 negara, sehingga membantu menjaga keseimbangan bisnis di tengah fluktuasi pasar dalam negeri.

Mukiat juga menilai masuknya merek-merek ban baru ke Indonesia bukan semata ancaman bagi pemain lama. Menurutnya, persaingan justru dapat memberikan dampak positif bagi industri secara keseluruhan.

“Kami meyakini bahwa hadirnya merek ban baru akan membawa dampak positif dengan membuka lebih banyak lapangan kerja serta memberikan konsumen pilihan ban yang lebih beragam di pasar,” pungkasnya.

Strategi Sailun di Tengah Kompetisi Ban

Sailun Group baru saja meresmikan pabrik mereka di Indonesia, yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026). Kehadiran pabrikan ban anyar Sailun Group di Indonesia membuat persaingan pasar semakin ketat.

Guna bertahan di pasar Tanah Air, PT Sailun Tire Indonesia membeberkan strategi yang disiapkan untuk berkompetisi dengan pemain lain di pasar ban nasional. Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, menjelaskan bahwa langkah awal perusahaan dimulai dari penguatan produk. Menurutnya, kualitas menjadi faktor utama untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap merek yang masih tergolong baru.

“Mulai produknya dulu. Produk kami berkualitas. Kemudian teknologi kami akan terus ter-update mengikuti penyesuaian terhadap kebutuhan pasar, dan semua segmen pasar,” ujar Eko di Semarang, Sabtu (17/1/2026).

Selain produk, Sailun juga menaruh perhatian besar pada perluasan jaringan distribusi. Jaringan yang luas dinilai penting agar produk mudah dijangkau konsumen sekaligus mempercepat respons terhadap dinamika pasar.

“Yang kedua adalah jaringan. Jaringan kami dengan partner yang cukup luas,” lanjutnya.

Saat ini, Sailun telah bekerja sama dengan sekitar 30 distributor di berbagai wilayah Indonesia. Melalui jaringan tersebut, perusahaan berupaya menjaga kedekatan dengan konsumen, sekaligus memastikan suplai produk berjalan cepat dan stabil.

“Yang pasti setidaknya distributor kami tetap dekat dengan konsumen, dengan supply yang cepat, mendengarkan selera konsumen yang cepat. Target improvement juga dengan cepat,” kata Eko.

Dengan mengandalkan kualitas produk, pembaruan teknologi, serta jaringan distribusi yang terus diperluas, Sailun optimistis dapat bersaing di tengah ketatnya pasar ban Indonesia yang saat ini dipenuhi berbagai merek lokal maupun global.

Optimis Melalui Segmen Replacement

Pasar domestik ban nasional tahun lalu tertekan seiring dengan penurunan penjualan mobil baru nasional. Seperti diketahui capaian produksi mobil pada 2025 tercatat 803 ribu unit, atau turun 7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menjelaskan, masalah utama yang dihadapi industri ban nasional bukan hanya dari sisi produksi. “Tetapi juga akibat melemahnya permintaan dan tantangan global,” katanya dikutip dari kontan.com.

Namun demikian, pada 2026 ini, peluang pertumbuhan tetap terbuka. Untuk pangsa OEM sendiri memang belum diketahui, lantaran hingga saat ini GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) belum menentukan berapa target penjualan di 2026.

“Belum ditentukan, nanti setelah ketemuan dengan produsen mobil,” ungkap Jongkie Sugiarto, Ketua 1 GAIKINDO.

Namun, pasar secara keseluruhan akan tetap berprospek baik, terutama dari segmen replacement di mana relatif tahan terhadap tekanan daya beli. Kebutuhan dasar pemeliharaan kendaraan dinilai tetap menjadi penopang utama industri ban.

Sejumlah faktor diproyeksikan menjadi pendorong kinerja perseroan, mulai dari portofolio produk yang beragam, optimalisasi efisiensi produksi, hingga penguatan jaringan distribusi.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *