Lima Merek Rumah Tangga yang Ternyata Impor, Bukan Lokal

Hartono Hamid
5 Min Read

Kebutuhan Rumah Tangga yang Ternyata Bukan Produk Lokal

Berbagai kebutuhan rumah tangga selalu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari produk persabunan, wangi-wangian, hingga obat-obatan, semua kebutuhan ini tidak pernah absen dari daftar barang-barang yang dikonsumsi setiap waktu. Swalayan atau supermarket kecil-kecilan berusaha memenuhi stok agar pelanggan puas dan dapat hidup sebagaimana mestinya.

Tak bisa dipungkiri, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga yang kian melonjak tiap waktu, produk-produk impor dari luar negeri sering kali masuk ke pasar lokal. Saking familiarnya produk tersebut di pasar lokal, kerap kali beberapa di antaranya dianggap sebagai produk dalam negeri. Berikut adalah 5 daftar brand rumah tangga lokal yang ternyata merupakan produk impor luar negeri.

1. Bata – Ceko



Bata yang tersebar hampir di seluruh penjuru negeri hingga ke daerah perkotaan kecil, ternyata merupakan brand dari negara Ceko. Dikenal dengan produk yang terjangkau, awet, dan mudah ditemukan, brand ini dulunya didirikan pada tahun 1894 dari usaha rumahan milik Tomáš Baťa. Alasan mengapa Bata sering dikira produk dalam negeri adalah karena eksistensinya yang mengakar kuat sejak zaman kolonial Belanda. Pabrik-pabrik lokal mulai didirikan pada era tersebut, selaras dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan alas kaki yang berkualitas. Perang Dunia yang terjadi kala itu pun membuat produksi bata di Eropa terganggu, sehingga pabrik produksi utama berpindah dan berkembang di negara yang minim terkena efek peperangan, termasuk Indonesia.

2. Khong Guan – Singapura



Brand biskuit Khong Guan yang tak boleh ketinggalan di Hari Raya ternyata juga bukan merupakan produksi perusahaan lokal. Brand satu ini merupakan hasil ekspor dari negara Singapura, di mana pabrik lokalnya berdiri atas nama PT Khong Guan Biscuit Factory Indonesia. Pengusaha Singapura keturunan Tionghoa, Chew Choo Keng, awalnya hanya berniat untuk memproduksi biskuit Khong Guan di lingkup pasar lokal saja. Namun, seiring perkembangan pasar yang tak boleh disia-siakan di Singapura, bisnis keluarga miliknya pun mulai melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitarnya. Indonesia kebetulan menjadi salah satu tujuan utama karena potensi jumlah penduduk yang besar. Oleh karenanya, Khong Guan mulai memasuki pasar lokal pada awal tahun 1970-an dengan menawarkan harga murah serta strategi pemasaran yang dikaitkan dengan momentum hangat khas Indonesia.

3. Lifebuoy – Inggris



Lifebuoy adalah merek sabun populer yang iklannya tak pernah absen dari layar kaca televisi di dalam negeri. Siapa sangka, brand yang menemani masa kecil masyarakat Indonesia ini ternyata merupakan hasil produksi dari perusahaan yang berasal dari Inggris. Sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu, Lifebuoy pertama kali diperkenalkan pada tahun 1894 oleh perusahaan Unilever yang dulunya sempat disebut juga sebagai Lever Brothers. Identik dengan slogannya sebagai sabun kesehatan, Lifebuoy mulai masuk ke Indonesia pada zaman kolonial (sekitar awal abad ke-20). Dengan iklan bertajuk kampanye untuk “mencuci tangan pakai sabun”, Lifebuoy sukses menarik hati masyarakat Indonesia dan memasarkan produknya hingga saat ini.

4. Rinso – Inggris



Menjadi salah satu pilihan utama sabun cuci di tiap-tiap rumah di dalam negeri, deterjen Rinso ternyata merupakan produk yang berasal dari negara Inggris. Mirip dengan Lifebuoy, Rinso merupakan produk buatan Unilever yang kala itu tengah gencar-gencarnya berbicara tentang sanitasi yang layak. Dengan mengeluarkan produk deterjen, Unilever dapat membantu masyarakat luas untuk membersihkan pakaian secara praktis dan efektif. Sebelumnya, mayoritas kegiatan mencuci baju masih dilakukan secara manual dengan bahan alami, sehingga terobosan ini disambut baik oleh seluruh manusia, termasuk warga Indonesia. Dengan slogan “berani kotor itu baik”, Rinso menangguhkan posisinya sebagai deterjen andalan untuk menghilangkan noda membandel sekaligus mendukung anak-anak untuk tak lagi takut membuat baju kotor akibat adanya noda atau keringat.

5. Bobo – Belanda



Majalah Bobo merupakan salah satu bahan bacaan sehari-hari para anak-anak di seluruh penjuru negeri yang penuh dengan kenangan. Namun, siapa sangka, majalah yang terkenal akan kisah keluarga kelinci ini ternyata merupakan produk asli dari Negeri Kincir Angin di Eropa, Belanda. Pada awalnya, Bobo merupakan halaman khusus di Harian Kompas yang disediakan sebagai bahan baca anak-anak pada tahun 1973. Namun kemudian, P.K. Ojong, wartawan sekaligus salah satu pengusaha pendiri Kompas Gramedia Group, menginisiasi supaya halaman ini dikembangkan menjadi sebuah majalah khusus dengan berkolaborasi bersama CV Oberon yang menjadi penerbit utama Bobo di Belanda. Transaksi pembelian hak cipta majalah pun dituntaskan dan majalah Bobo versi bahasa Indonesia berhasil diterbitkan dengan semboyan “Belajar Sambil Bermain”. Kini, konten majalah yang awalnya berisi hasil terjemahan dari bahasa Belanda telah beradaptasi dan didominasi oleh karya dan rubrik hasil pengarang lokal.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *