Luka di Atas Luka: Kenangan Susi yang Tersapu Banjir Bener Meriah

Wahyudi
5 Min Read

Kehilangan Seluruh Dunia dalam Hitungan Menit

Susi, seorang perempuan berusia 30 tahun asal Kabupaten Bener Meriah, kini tengah berjuang memulihkan kondisi psikisnya setelah mengalami kehilangan yang sangat mendalam. Dalam waktu singkat, ia kehilangan seluruh dunianya hanya dalam hitungan menit.

Di dapur, Susi sedang menyiapkan makanan saat sebuah pemandangan mengerikan tertangkap matanya lewat jendela. Batang-batang kayu raksasa hanyut deras dihantam arus. “Bang, air!” Hanya dua kata itu yang sempat terlontar sebelum hantaman dahsyat merobek dinding rumahnya.

Kehidupan yang Penuh dengan Duka

Hidup Susi seolah sebuah buku yang ditulis dengan tinta air mata. Setiap bab kebahagiaan dalam hidupnya selalu diakhiri dengan titik duka yang mendalam. Saat ini, Susi berada di bawah asuhan medis dr Insan Sarami Artanoga SpKJ, yang juga merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Bener Meriah.

Menurut penuturan Susi kepada dr Insan pada Jumat (2/1/2026), ia tumbuh tanpa figur seorang ibu sejak usia tiga tahun. Ia hanya mengenal kasih sayang melalui tangan sang ayah dan kerabat yang mengasuhnya secara bergantian. “Aku bahkan lupa rasanya memiliki orang tua yang lengkap,” kata dr Insan yang mengutip kata-kata Susi.

Meski hidup berpindah-pindah tangan, semangatnya tak pernah padam. Beasiswa Bidikmisi membawanya lulus dari prodi PGSD Unsyiah, sebuah pencapaian yang sempat membuatnya merasa setara dengan nasib baik orang lain.

Keberuntungan yang Ternyata Hanya Sementara

Kebahagiaannya memuncak enam tahun lalu saat dipersunting oleh Romi, pria asal Kampung Rime Raya, Dusun Sejahtera, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah. Pernikahan mereka dikaruniai dua buah hati yakni seorang putri berusia 4,5 tahun dan bayi perempuan berusia 9 bulan yang lahir melalui operasi sesar.

Kehadiran buah cintanya bersama sang suami melengkapi peran Susi sebagai seorang ibu. Peran yang dulu tak sempat ia rasakan dari ibunya sendiri. Namun, takdir berkata lain dan menjadi ujian paling kelam di penghujung tahun 2025.

Petaka 26 November 2025: “Bang, Air!”

Pagi itu, hujan rintik seolah enggan berhenti di kawasan Dusun Sejahtera. Di dapur, Susi sedang menyiapkan makanan, hingga sebuah pemandangan mengerikan tertangkap matanya lewat jendela, batang-batang kayu raksasa hanyut deras dihantam arus.

“Bang, air!” Hanya dua kata itu yang sempat terlontar sebelum hantaman dahsyat merobek dinding rumahnya. Banjir bandang setinggi atap menerjang tanpa ampun. Susi tergulung dalam pusaran lumpur, kayu, dan puing selama dua menit yang terasa selamanya.

Ditengah kegelapan lumpur, pikirannya hanya meneriakkan satu hal: “Anak-anakku.” Secercah mukjizat muncul saat tangannya meraih sepotong ranting kayu. Dengan sisa tenaga, Susi berpegangan pada ranting tersebut dan menarik tubuhnya keluar dari kubangan maut.

Jiwa yang Terperangkap dalam Trauma

Sepuluh hari dirawat di Puskesmas Pembantu (Pustu), luka fisik Susi mulai pulih, namun jiwanya hancur berkeping-keping. Bayangan bayinya yang terseret arus dan rintihan minta tolong putri sulungnya terus terngiang di telinganya.

Tak hanya kedua putrinya, suami dan mertuanya juga menjadi korban dalam peristiwa memilukan itu. Hingga saat ini, jasad keempat anggota keluarganya belum ditemukan. “Setiap kali melihat perutku, ada bekas operasi sesar itu. Bekas yang seharusnya menjadi pengingat kebahagiaan, kini menjadi luka yang paling perih,” ungkapnya dengan mata yang terus membasah.

Kini, Susi tinggal menumpang di sebuah rumah kosong bersama ayahnya. Ditengah kerumunan orang yang datang memberi dukungan, ia merasa asing. Baginya, dukungan itu hanyalah “kebersamaan sesaat” sebelum ia kembali jatuh ke dalam lubang depresi yang sunyi.

Jalan Panjang Menuju Pemulihan

Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr Insan SpKJ yang menangani Susi sejak 1 Januari 2026, menyatakan bahwa kondisi psikis pasien memerlukan perhatian intensif. “Kami memberikan kombinasi terapi Psikofarmaka, psikoterapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy), dan psikoterapi religi untuk membantunya mengelola trauma yang sangat berat ini,” ujar dr Insan.

Susi adalah potret nyata bahwa dampak bencana melampaui kerugian materi. Dibalik angka statistik korban banjir Bener Meriah, ada seorang ibu yang kehilangan seluruh dunianya. Ia kini tengah berjuang untuk sekadar berani bercerita kembali tanpa harus tersedak oleh air mata.

Bagi Susi, fajar yang menyingsing bukan lagi soal masa depan, melainkan tentang bagaimana ia bertahan hidup dengan memori yang telah hanyut dibawa arus banjir bandang.

Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *