Bantuan Becak Listrik Ditarik Karena Sosial, Kini Kembali Diserahkan

Hartono Hamid
6 Min Read

Penyerahan Kembali Tiga Unit Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Subianto

Tiga unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto yang sempat diambil, kini telah diserahkan kembali kepada para penerima. Kini tiga unit bantuan becak listrik tersebut telah diserahkan ke pengayuh becak Daklan (57) dan dua warga lainnya yakni Muhtadi (55) dan Sudrajat (65).

Sebelumnya, becak listrik tersebut diambil pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Jaya, Desa Padakaton, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tiga becak listrik tersebut sempat disimpan sementara oleh pihak BUMDes dengan alasan menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.

“Alhmdulillah untuk ketiga becak listrik bantuan Pak Presiden sudah kami serahkan,” kata Ketua BUMDes Mekar Jaya Desa Padakaton, Suherman (44), kepada Kompas.com, Jumat (19/12/2025). “Dan sudah dibawa pulang ke rumah masing-masing penerima, baik Pak Daklan, Pak Muhtadi, juga Pak Drajat,” imbuhnya.

Suherman menjelaskan, sejak awal pihaknya telah menyampaikan kepada calon penerima bahwa becak listrik akan dikumpulkan dan disimpan terlebih dahulu sebelum diserahkan sepenuhnya. “Dari awal kami sudah sampaikan kepada calon penerima becaknya biar dikumpulkan dahulu,” ujar Suherman. “Karena kami khawatir di desa sedang ramai soal banyaknya bantuan baik bansos, PKH, dan lainnya,” terangnya.

Ia menyebut, di Desa Padakaton saat itu tengah ramai pengaduan warga terkait berbagai bantuan sosial. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kecemburuan sosial apabila becak listrik langsung dibawa pulang oleh penerima. “Di desa kami juga membuka ruang pengaduan sehingga ramai dari bulan kemarin,” tuturnya. “Menyikapi hal itu kami tidak ingin terjadi kecemburuan atau yang lain,” lanjut Suherman. “Jadi memang sudah kami sampaikan dari awal bahwa becak tidak langsung dibawa pulang,” kata dia.

Pengalaman Daklan sebagai Penerima Bantuan Becak Listrik

Sebelumnya, seorang pengayuh becak bernama Daklan mengungkap pengalamannya menjadi penerima bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto. Warga Desa Padakaton, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, ini merasa namanya hanya dimanfaatkan sebagai penerima bantuan saja. Pasalnya, becak listrik yang diterima Daklan hingga kini masih ditahan pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Jaya desa setempat.

Padahal, Daklan mengaku sudah sesuai prosedur mulai dari pelatihan hingga mengisi formulir untuk mendapat bantuan becak listrik tersebut. Awalnya, ia bersama 99 orang lainnya dari desa lain dipanggil ke Pendapa Brebes untuk menerima becak listrik pada Sabtu (6/12/2025). Daklan bercerita bahwa awalnya ia dihubungi pihak pemerintah desa melalui Ketua BUMDes sebagai bakal penerima bantuan becak listrik. “Awalnya yang mengundang Pak Herman, dia Ketua Bumdes. Terus saya dapat becak listrik,” kata Daklan kepada wartawan, Kamis (18/12/2025), dikutip dari Kompas.com.

Usai penyerahan, dari Pendapa Brebes, Daklan pulang dengan becak barunya. “Terus saya naiki mau bawa pulang,” ungkap Daklan. Namun, sampai di tengah jalan, dia diberhentikan tiba-tiba. Lalu becak listrik yang dibawanya tersebut dinaikkan mobil oleh Ketua BUMDes. “Tapi sampai di tengah jalan ternyata saya disuruh berhenti dan becak dinaikkan mobil sama Pak Herman,” katanya. Daklan menyebut, setelah sampai di desa, ternyata becak dimasukkan ke Kantor Bumdes. Pihak Bumdes meminta agar becak disimpan terlebih dahulu.

Diketahui di lokasi penyimpanan becak yang dimaksud oleh Daklan, ada tiga becak listrik yang tersimpan rapi. Daklan ternyata bukan satu-satunya penerima bantuan becak listrik di desa tersebut, melainkan ada dua nama lain. Mereka adalah Muhtadi, buruh harian lepas, dan Sudrajat yang merupakan karyawan BUMDes di bidang sampah. “Becaknya sampai saat ini masih di kantor BUMDes, saya takut tidak berani menanyakan,” ungkap Daklan. Menurut Daklan, jika dari awal becak listrik tersebut tidak akan digunakan olehnya, ia tidak akan mau untuk mengambil becak tersebut ke Pendapa. Daklan mengaku kecewa, lantaran becak dari Presiden Prabowo tidak bisa ia manfaatkan untuk mencari nafkah. “Kalau tahu becak itu bukan untuk saya, saya tidak mau meskipun dikasih uang seratus ribu rupiah,” pungkasnya.

Penjelasan BUMDes tentang Penyimpanan Becak Listrik

Saat dikonfirmasi wartawan, Ketua BUMDes Mekar Jaya, Desa Padakaton, Suherman (44), menegaskan bahwa becak listrik tersebut tidak diterima Bumdes. Melainkan hanya dititipkan sementara di aula TPS 3R KSM Sejahtera Bersama. “Diterima BUMDes itu tidak. Saat ini posisinya ada di gedung TPS 3R karena lokasinya bisa untuk garasi, untuk transit sementara,” kata Herman. Menurutnya, penempatan becak di TPS 3R hanya sementara saja. Hal itu karena lokasi tersebut memiliki gudang yang memadai. Herman menilai, munculnya anggapan bahwa becak diterima BUMDes hanya kesalahpahaman.

Herman juga menyebut proses pembagian berlangsung mendadak. “Sebelumnya kami sudah berkoordinasi dengan pihak desa, yang pada intinya becak tersebut kita rawat dulu,” kata dia. “Malam ditelepon, paginya harus berangkat ke sana (Pendapa). Setelah dibawa pulang, langsung ramai. Tidak ada woro-woro kalau ada bantuan ini,” sambung Herman. Herman menjelaskan, di Desa Padakaton terdapat tiga nama penerima becak listrik. Mereka adalah Muhtadi (55) yang bekerja sebagai harian lepas, Sudrajat (65) yang merupakan staf Bumdes, dan Daklan (57) yang sehari-hari bekerja sebagai pencetak batu bata. “Kalau Sudrajat memang bekerja di Bumdes, tapi Muhtadi itu harian lepas, bukan anggota Bumdes,” ungkapnya.

Herman menegaskan, hingga kini tidak ada warga yang meminta becak tersebut. Ia menegaskan, disimpannya becak tersebut hanya untuk menghindari kegaduhan di tengah masyarakat atau kecemburuan sosial. Lantaran keterbatasan bantuan becak listrik yang diterima oleh pihak desa. “Sampai hari ini, becak listrik masih di gudang. Tidak ada satupun yang datang ke saya untuk meminta itu,” kata dia. Herman mengaku akan secepatnya mendistribusikan becak tersebut. “Secepatnya kami akan menyerahkan becak listrik bantuan tersebut ke masyarakat, melihat kondusifitas di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *